Trump Murka gara-gara Eskalator PBB Mati, AS Ancam Pecat Pegawai yang Lalai
Presiden AS Donald Trump dan istrinya hampir jatuh saat eskalator di PBB tiba-tiba mati. AS ancam akan memecat pegawai yang lalai terkait insiden itu.
"Merupakan suatu kehormatan besar untuk berbicara di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya yakin pidatonya diterima dengan sangat baik. ... Teleprompternya rusak dan eskalatornya tiba-tiba berhenti saat kami sedang naik ke podium, tetapi kedua kejadian tersebut mungkin membuat pidatonya lebih menarik daripada yang seharusnya. Merupakan suatu kehormatan untuk berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa, meskipun peralatannya agak rusak. Jadikan Amerika Hebat Kembali!" tulis Trump melalui akun @realDonaldTrump.
Karoline Leavitt menyertai unggahannya di X dengan kutipan dari artikel The Times di mana karyawan PBB bercanda menyarankan bahwa eskalator dan lift mungkin akan dimatikan saat presiden AS tiba.
"Salah satu ide yang beredar adalah mematikan eskalator dan lift, lalu memberi tahu Trump bahwa mereka kehabisan uang, jadi dia harus naik tangga," lapor The Times.
Trump telah membatalkan pendanaan sekitar 1 miliar dolar untuk PBB sejak menjabat pada bulan Januari.
New York Post melaporkan Trump menghentikan sebagian pendanaan Amerika Serikat ke PBB sejak awal masa jabatannya pada tahun 2017 karena menilai organisasi tersebut boros, tidak efektif, dan terlalu membebani AS sebagai kontributor terbesar.
Dengan kebijakan “America First,” ia menolak pengeluaran yang dianggap tidak memberi manfaat langsung bagi rakyat Amerika.
Selain itu, Trump mengkritik PBB karena dianggap bias terhadap Israel, sehingga memotong dana untuk lembaga terkait Palestina seperti UNRWA, serta menarik AS dari beberapa badan PBB, termasuk Dewan HAM dan program iklim.
Keputusan ini mencerminkan kombinasi kepentingan politik luar negeri pro-Israel, ketidakpuasan pada kinerja PBB, dan upaya meringankan beban keuangan AS.
Pidato Trump di PBB
Presiden AS Donald Trump tampil dengan pidato yang memicu sorotan dunia pada Sidang Umum PBB ke-80 yang digelar di New York pada Selasa (23/9/2025).
Selama hampir satu jam berbicara di hadapan para pemimpin negara, ia menyerang isu imigrasi, kebijakan iklim, hingga keputusan sejumlah negara yang baru saja mengakui Palestina.
Trump menyebut arus migrasi besar-besaran sebagai bencana yang “merusak negara” dan mendesak setiap pemimpin untuk menutup perbatasan mereka serta memulangkan para pendatang.
Ia juga melontarkan klaim kontroversial soal perubahan iklim, dengan menyebutnya sebagai “tipu daya terbesar dalam sejarah” dan menilai kebijakan energi hijau sebagai penyebab kehancuran ekonomi dunia.
Pidatonya itu disampaikan di hadapan delegasi negara-negara kepulauan kecil yang justru sedang menghadapi ancaman nyata akibat kenaikan permukaan laut.
Selain itu, Trump mempromosikan dirinya sebagai pembawa perdamaian dunia dan mengklaim telah menghentikan tujuh perang sejak masa jabatan pertamanya.
Dalam pidatonya, Trump menolak langkah sejumlah sekutu Amerika Serikat yang baru-baru ini mengakui Negara Palestina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TRUUMP-HAMPIR-JATUH-34.jpg)