Kamis, 23 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.325, Zelenskyy Ingin Trump Raih Nobel Perdamaian

Perang Rusia-Ukraina hari ke-1.325, Presiden Ukraina Zelenskyy ingin Presiden AS Donald Trump meraih Nobel Perdamaian karena upayanya untuk Ukraina.

Facebook Zelenskyy
ZELENSKY TEMUI TRUMP - Foto diambil dari Facebook Zelenskyy, Rabu (24/9/2025) memperlihatkan Presiden Ukraina Zelensky (kiri) berfoto bersama Presiden AS Donald Trump (kanan) setelah keduanya menghadiri pertemuan di PBB, New York pada Selasa (23/9/2025). Pada 9 Oktober 2025, Zelensky berharap Trump mendapat hadiah Nobel Perdamaian. 

Yermak menjelaskan bahwa operasi ini dilakukan melalui program presiden "Bring Kids Back UA", yang bertujuan memulangkan anak-anak yang dideportasi ke Rusia atau ditahan di wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia ke tempat yang aman.

Trump Menekan Rusia Agar Akhiri Perang

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan sekutu NATO sedang "meningkatkan tekanan" untuk mengakhiri perang di Ukraina, menyusul kegagalannya menghubungi Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk mencapai gencatan senjata.

"Ya, kami meningkatkan tekanan," kata Trump di Ruang Oval saat bertemu dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb.

"Kita meningkatkannya bersama-sama. Kita semua meningkatkannya. NATO telah melakukan hal yang hebat," tambahnya.

Trump juga menyebut bahwa pemerintahannya kemungkinan akan memberlakukan sanksi tambahan terhadap Rusia.

Rusia: Pembicaraan Damai Mandek

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan dialog antara Rusia dan AS mengenai penyelesaian konflik Ukraina saat ini "berhenti sejenak," menyusul hilangnya momentum dari pertemuan puncak Alaska antara Putin dan Trump.

Meskipun delegasi Rusia dan Ukraina telah mengadakan beberapa pertemuan, termasuk di Istanbul pada Juli untuk membahas aspek politik, militer, dan kemanusiaan, Peskov menegaskan "tidak ada kemajuan." 

Ia menuduh Kyiv tidak serius dalam proses damai dan dipengaruhi oleh tekanan dari Eropa, sementara Moskow menegaskan tetap terbuka terhadap kesepakatan yang menghormati kepentingan keamanan nasional dan realitas teritorial Rusia.

Dmitry Peskov menuduh Ukraina tidak tertarik untuk mengakhiri perang secara damai dengan Rusia, karena yakin masih bisa membalikkan situasi di medan perang.

"Proses pengambilan keputusan Ukraina ditentukan oleh harapan palsu bahwa sesuatu akan berubah di garis depan dan bergeser ke dinamika yang positif," kata Dmitry Peskov kepada wartawan di Dushanbe, Tajikistan pada Kamis.

Sementara itu, Ukraina dikabarkan meminta AS untuk memberikan rudal Tomahawk yang diyakini dapat membuat Rusia menyerah, namun Rusia memperingatkan AS untuk tidak memberikannya, lapor Russia Today.

Rusia dan Ukraina Saling Tuduh soal Insiden Gas Beracun

Rusia menuduh Ukraina pada Kamis telah merusak pipa amonia yang kini tidak lagi beroperasi — jalur yang sebelumnya digunakan untuk menyalurkan amonia Rusia ke Ukraina guna keperluan ekspor — sehingga menyebabkan kebocoran gas beracun ke udara.

Menurut pihak Rusia, insiden tersebut terjadi di dekat desa garis depan Rusin Yar, yang terletak di wilayah Donetsk, Ukraina bagian timur.

Dua Minggu Tanpa Daya, PLTN Zaporizhzhia Mulai Pulih

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengumumkan pada Kamis bahwa proses pemulihan pasokan listrik eksternal ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina tenggara, yang saat ini berada di bawah kendali Rusia, telah dimulai setelah lebih dari dua minggu terputus dari jaringan utama.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyampaikan bahwa proses tersebut dilakukan setelah adanya koordinasi dengan pihak berwenang di Ukraina dan Rusia, yang saling menuduh satu sama lain atas terputusnya jalur listrik eksternal tersebut.

Ukraina Serang Fasilitas Minyak Rusia

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved