Senin, 4 Mei 2026

Kemajuan Energi Terbarukan Tiongkok Tinggalkan Jejak Ekologis di Tibet

Kebangkitan pesat Tiongkok sebagai pemimpin global dalam energi terbarukan telah menarik kekaguman dunia.

Tayang:
Editor: Wahyu Aji
Hasil olah kecerdasan buatan (AI), Kamis (4/9/2025)
Foto bendera Tibet - Transformasi hijau Tiongkok bertumpu pada eksploitasi lingkungan Tibet yang rapuh dan masyarakat terpinggirkan. 

TIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kebangkitan pesat Tiongkok sebagai pemimpin global dalam energi terbarukan telah menarik kekaguman dunia.

Pada 2024 saja, Tiongkok telah membangun lebih banyak kapasitas tenaga surya dan angin daripada gabungan seluruh dunia.

Dikutip dari The Bhutan Live, Minggu (19/10/2025), Tiongkok mendominasi produksi kendaraan listrik, panel surya, dan mineral penting seperti litium dan tembaga, yang semuanya penting bagi revolusi energi bersih global.

Namun, di balik kisah sukses ini terdapat kontradiksi.

Sebagian besar transformasi hijau Tiongkok bertumpu pada eksploitasi lingkungan Tibet yang rapuh dan masyarakat terpinggirkan.

Sebagaimana disoroti oleh The Diplomat, Tibet telah menjadi landasan bagi upaya Beijing untuk mencapai ketahanan energi dan dominasi teknologi.

Cadangan litium, tembaga, dan mineral tanah jarang yang melimpah di kawasan ini sangat penting bagi produksi baterai kendaraan listrik dan teknologi terbarukan. 

Selama satu dekade terakhir, Tiongkok telah mengintensifkan operasi eksplorasi dan penambangan di seluruh wilayah Tibet.

Di Kabupaten Nyagchu, Provinsi Sichuan, sabuk spodumene sepanjang 2.800 kilometer yang mengandung sekitar 6,5 juta ton bijih litium telah ditemukan, meningkatkan cadangan litium global Tiongkok dari 6 menjadi 16,5 persen.

Di Provinsi Qinghai, dua proyek litium besar mulai berproduksi pada September 2025, dioperasikan oleh China Salt Lake Industry Group yang dikelola pemerintah. Kedua proyek ini diperkirakan akan menghasilkan 60.000 ton produk litium per tahun.

Demikian pula, proyek Mami Tso Salt Lake milik Zangge Mining di Tibet barat diproyeksikan menghasilkan 50.000 ton litium berkualitas baterai per tahun, yang merupakan sebuah kontribusi signifikan bagi rantai pasokan kendaraan listrik Tiongkok.

Perburuan sumber daya ini menjadikan Tibet mendapat julukan “garis depan Demam Emas Putih,” merujuk pada ledakan litium yang mendorong peralihan global menuju energi bersih.

Tembaga dan Bendungan: Memperluas Batas Industri

Litium bukan satu‐satunya sumber daya berharga Tibet. Tambang Tembaga Julong, yang sudah menjadi tambang terbesar di Tiongkok, sedang menjalani ekspansi besar‐besaran yang akan meningkatkan kapasitas pemrosesan bijih harian menjadi 350.000 ton.

Tahap‐tahap selanjutnya dapat menjadikannya tambang tembaga terbesar di dunia. Tambang Yulong di Chamdo dan deposit lain di dekat Lhasa juga sedang ditingkatkan skalanya, menandakan ambisi Beijing untuk mengubah Tibet menjadi pusat pertambangan yang lengkap.

Di saat yang sama, sungai‐sungai di Tibet dibendung dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Proyek yang paling mencolok adalah bendungan raksasa yang sedang dibangun di Sungai Yarlung Tsangpo, yang akan menjadi fasilitas hidroelektrik terbesar di dunia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved