Senin, 27 April 2026

Rencana Indonesia Beli J-10 di Mata Analis India dan China: Langkah Strategis atau Masalah Logistik?

Langkah RI memborong berbagai jenis pesawat tempur dari negara-negara berbeda dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.

|
china arms
MASALAH SUKU CADANG - Pesawat tempur J-10 buatan China. Langkah RI memborong berbagai jenis pesawat tempur dari negara-negara berbeda dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. 

Ringkasan Berita:
  • Rencana Indonesia membeli pesawat tempur China J-10 Chengdu menjadi sorotan banyak pihak.
  • Keputusan Indonesia memborong berbagai jenis pesawat tempur dari negara-negara berbeda bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
  • Namun analis China menyebut keputusan RI sudah tepat. Menurutnya jangan hanya mengoperasikan alutsista hanya dari Blok Barat. Rawan Embargo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat pertahanan sekaligus Editor EurAsian Times, Nitin J Ticku, menyoroti rencana pemerintah Indonesia mengakuisisi puluhan pesawat tempur buatan China, J-10 Chengdu.

EurAsian Times adalah sebuah media internasional yang fokus pada isu-isu geopolitik, pertahanan, dan keamanan global.

Menurutnya, langkah pemerintah Indonesia memborong berbagai jenis pesawat tempur dari negara-negara berbeda bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.

“Indonesia adalah negara yang sangat menarik. Mereka tampaknya ingin membeli segala pesawat tempur," ujarnya merujuk langkah RI membeli jet tempur Rafale buatan Prancis, KAAN buatan Turki, KF21 buatan Korea hingga J-10 produksi China.

Menurut Ticku, mengoperasikan begitu banyak jenis jet dari berbagai negara bisa menjadi mimpi buruk logistik, pengadaan suku cadang dan perawatan.

"Untuk saat ini, mungkin terlihat sebagai langkah cerdas, tetapi Indonesia bisa merasakan dampak kebijakan ini jika mereka terlibat dalam konflik nyata. Menurut saya, ini adalah bencana kebijakan."

Selain itu, ia menilai, pembelian ini mungkin diperhatikan oleh negara-negara tetangga, seperti Australia, Singapura, atau Malaysia, serta kekuatan besar seperti AS.

"Mereka mungkin saja melihatnya sebagai bagian dari dinamika keamanan yang berubah di kawasan. Meskipun tentu Indonesia menekankan bahwa kebijakan pertahanannya bersifat defensif," ujarnya.

Pekan lalu, Jakarta telah mengonfirmasi rencana pembelian 42 unit jet tempur multirole Chengdu J-10 dari Republik Rakyat Tiongkok sebagai bagian dari program modernisasi militer nasional. 

Belum ada pengumuman resmi, apakah pesawat tempur J-10 tersebut adalah varian B atau C yang lebih mutakhir. Jika varian B, hampir dipastikan pesawat tempur tersebut, bekas pakai Angkatan Udara Tiongkok, mengingat mereka (China) sudah tidak lagi memproduksi varian B dan fokus kepada varian C atau J-10C.

Produksi J-10B berlangsung sekitar 2013 hingga 2018, sebelum digantikan oleh J-10C, yang memiliki kemampuan lebih tinggi dalam peperangan elektronik dan kompatibilitas senjata pintar.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ketika dikonfirmasi wartawan, pekan lalu, hanya menyatakan bahwa pembelian jet tempur generasi 4.5 tersebut telah disetujui dan akan segera direalisasikan. “Mereka akan segera terbang di atas Jakarta,” ujarnya ketika itu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut mengonfirmasi bahwa anggaran senilai lebih dari USD 9 miliar telah disetujui untuk pembelian tersebut. “Semua sudah siap, tinggal memastikan kapan pesawat itu tiba dari Beijing,” ujarnya.

Sejumlah pengamat dan pakar pertahanan menduga, langkah ini mengindikasikan pergeseran arah kebijakan pertahanan udara Indonesia dan memunculkan spekulasi bahwa tambahan pembelian jet Rafale dari Prancis mungkin tidak akan dilanjutkan.

Secara geopolitik, pembelian ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang non-blok, menjaga keseimbangan hubungan dengan kekuatan Barat, Rusia, dan Tiongkok.

Pakar Militer China: Langkah Indonesia Sudah Tepat

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved