Sejarah Baru Jepang: Sanae Takaichi, PM Perempuan Pertama dari Keluarga Sederhana
Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Kota Yamatokōriyama, Prefektur Nara, dari keluarga sederhana
Ringkasan Berita:
- Takaichi resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Jepang pada Senin (21/10/2025) sekitar pukul 14.00 waktu setempat, setelah terpilih sebagai Presiden LDP awal bulan ini.
- Takaichi pertama kali terpilih menjadi anggota parlemen Jepang pada tahun 1993, dan telah menang dalam 10 kali pemilu berturut-turut.
- Takaichi dikenal memiliki pandangan konservatif dan nasionalis kuat.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Jepang memiliki perdana menteri perempuan sekaligus pemimpin pemerintahan yang berasal dari kalangan rakyat biasa.
Sosok itu adalah Sanae Takaichi, politisi Partai Demokrat Liberal (LDP) yang kini menorehkan sejarah baru di Negeri Sakura.
Takaichi resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Jepang pada Senin (21/10/2025) sekitar pukul 14.00 waktu setempat, setelah terpilih sebagai Presiden LDP awal bulan ini.
Rencananya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan melakukan kunjungan resmi ke Tokyo pada akhir Oktober 2025, yang disebut-sebut akan menjadi kunjungan pertama Trump untuk memberikan selamat kepada Takaichi sebagai PM perempuan pertama Jepang.
“Rencana akhir Oktober ini Trump akan ke Tokyo, tentu untuk memberikan selamat kepada PM Jepang wanita pertama, Sanae Takaichi,” ujar seorang politisi senior Jepang kepada Tribunnews.com, Senin (21/10/2025).
Baca juga: Sanae Takaichi Jadi Perdana Menteri Jepang ke-104, Wanita Pertama Pimpin Negeri Sakura
Latar Belakang dari Kalangan Rakyat Biasa
Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Kota Yamatokōriyama, Prefektur Nara, dari keluarga sederhana.
Ayahnya bekerja di perusahaan otomotif, sementara ibunya bertugas sebagai anggota kepolisian prefektur Nara.
Ia menamatkan pendidikan di Universitas Kobe, Fakultas Administrasi Bisnis, dan kemudian melanjutkan ke Matsushita Institute of Government and Management, lembaga pelatihan calon pemimpin yang terkenal di Jepang.
“Kalau Amerika disebut negara liberal dan demokratis, faktanya hingga kini belum pernah memiliki presiden perempuan. Sementara Jepang kini memiliki kepala pemerintahan perempuan pertama. Secara logika, Jepang justru lebih demokratis,” ujar sumber tersebut menambahkan.
Karier Politik Panjang
Takaichi pertama kali terpilih menjadi anggota parlemen Jepang pada tahun 1993, dan telah menang dalam 10 kali pemilu berturut-turut.
Ia sempat menjadi fellow di Kongres AS sebelum bergabung dengan Partai Demokrat Liberal (LDP) pada 1996.
Sepanjang kariernya, Takaichi menduduki berbagai posisi penting, antara lain: Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi pada kabinet Shinzo Abe (2014–2015 dan 2019–2020), Menteri Negara untuk Keamanan Ekonomi (2022–2024) dan kini menjabat sebagai Presiden LDP dan Perdana Menteri Jepang sejak Oktober 2025.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PMJEPANG11111.jpg)