Komeito Resmi Jadi Oposisi Setelah 26 Tahun, Tapi LDP Masih Kuasai Pemerintahan Jepang
Dalam pemilihan di Majelis Rendah, Presiden LDP Sanae Takaichi raih 237 suara melebihi setengah dari total suara lalu ditetapkan jadi PM Jepang
Ringkasan Berita:
- Setelah 26 tahun berkoalisi dengan Partai Demokrat Liberal (LDP), Partai Komeito resmi menjadi oposisi di bawah kepemimpinan Tetsuo Saito.
- Langkah Komeito ini menandai berakhirnya kemitraan politik selama lebih dari dua dekade, tetapi belum cukup menggoyahkan dominasi LDP di parlemen Jepang.
- Perdana Menteri Sanae Takaichi tetap memenangkan suara mayoritas di parlemen Jepang
TRIBUNNEWS.COM, JEPANG – Peta politik Jepang berubah setelah Partai Komeito, mitra lama Partai Demokrat Liberal (LDP), secara resmi menarik diri dari koalisi pemerintahan.
Ketua Komeito, Tetsuo Saito, menyampaikan keputusan tersebut pada konferensi pers di Tokyo, Selasa (21/10/2025).
“Mulai sekarang, Partai Komeito akan menjadi partai oposisi. Kami akan berdebat secara kuat dengan pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk memperkuat fungsi pengawasan dan memperjuangkan kebijakan publik,” ujar Saito.
Langkah Komeito ini menandai berakhirnya kemitraan politik selama lebih dari dua dekade, tetapi belum cukup menggoyahkan dominasi LDP di parlemen Jepang.
Dalam pemilihan perdana menteri di Majelis Rendah, Presiden LDP Sanae Takaichi meraih 237 suara—melebihi setengah dari total suara—dan langsung ditetapkan sebagai perdana menteri baru Jepang.
Baca juga: PM Jepang Sanae Takaichi Umumkan Kabinet Baru, Hanya 2 Menteri Perempuan di Dalamnya
Kemenangan tersebut turut ditopang oleh dukungan dari Asosiasi Restorasi Jepang (Nippon Ishin no Kai) serta sejumlah anggota parlemen independen.
Di Majelis Tinggi, Takaichi gagal meraih mayoritas di putaran pertama, namun menang pada putaran kedua dengan 125 suara, mengungguli Yoshihiko Noda dari Partai Demokrat Konstitusional.
Secara hukum, hasil pemungutan suara di majelis rendah tetap menjadi penentu, memastikan Takaichi menjabat sebagai perdana menteri Jepang berikutnya.
Oposisi Jepang Gagal Bersatu Lawan LDP
Mundurnya Komeito sempat membuka peluang bagi partai-partai oposisi untuk menantang kekuasaan LDP.
Namun, upaya pembentukan koalisi oposisi bersama gagal terwujud karena perbedaan sikap politik.
Awalnya, sempat muncul wacana untuk mengusung calon perdana menteri bersama dari tiga partai oposisi — Partai Demokrat Konstitusional, Partai Demokrat Nasional, dan Partai Restorasi. Namun, perbedaan kepentingan membuat rencana itu kandas.
Partai Demokrat Konstitusional akhirnya mencalonkan Noda, sementara Demokrat Nasional tetap mengusung ketuanya, Yuichiro Tamaki. Perpecahan ini membuat suara oposisi terbelah dan LDP tetap memegang kendali mayoritas.
Dua Anggota Parlemen Perempuan Dukung Takaichi
Menariknya, dua anggota parlemen perempuan dari luar LDP — Sayaka Kobayashi (Partai Demokratik Rakyat) dan Shizuka Terata (independen) — justru memilih mendukung Takaichi.
Keduanya menyebut dukungan itu sebagai bentuk dorongan agar perempuan lebih berperan dalam pengambilan keputusan politik. Dukungan tambahan ini turut memastikan kemenangan Takaichi dalam pemungutan suara majelis tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/partaijpg11112222.jpg)