Polisi Jepang Tangkap Dua Warga China Pelaku Transaksi Saham Ilegal Rp75 Triliun
Dua warga China ditangkap di Jepang setelah membobol akun sekuritas dan melakukan 9.348 transaksi ilegal senilai 711 miliar
Ringkasan Berita:
- Polisi Jepang untuk pertama kalinya menangkap dua warga China yang membobol rekening sekuritas dan melakukan lebih dari 9.300 transaksi saham ilegal senilai 711 miliar yen.
- Pelaku memanipulasi harga saham dengan membeli massal menggunakan dana hasil penjualan saham milik korban.
- Investigasi besar masih berlangsung untuk mengungkap jaringan lebih luas serta mencegah kasus serupa.
Laporan Korespoden Tribunnews.com dari Jepang, Ricard Susilo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Untuk pertama kalinya, Kepolisian Jepang menangkap dua warga negara China yang diduga mengakses ilegal rekening sekuritas milik orang lain dan melakukan transaksi saham ilegal.
Total kerugian akibat aksi ini mencapai 711 miliar yen atau Rp78 triliun dalam periode Januari–Oktober 2025, dengan 9.348 transaksi dilakukan tanpa izin.
Tersangka masing-masing adalah Lin Xinhai (38), pemilik perusahaan sekuritas, dan Jiang Long (42), yang pekerjaan detailnya belum diungkap.
Keduanya disangkakan melanggar Undang-Undang Larangan Akses Tidak Sah serta Undang-Undang Instrumen Keuangan dan Bursa Jepang.
Polisi menyebut kasus ini sebagai penangkapan pertama dalam sejarah Jepang terkait pembajakan akun sekuritas untuk transaksi saham.
Menurut penyelidikan, para pelaku bekerja sama dengan pihak lain yang tidak dikenal untuk membobol sedikitnya 10 rekening sekuritas.
Baca juga: Data Kelulusan EPA Jepang: Indonesia Turun, Vietnam Konsisten di Atas 80 Persen
Mereka kemudian memperjualbelikan saham perusahaan konsultan sumber daya manusia yang terdaftar di Bursa Efek Tokyo (JSX).
Modus ini mengakibatkan lebih dari 3.500 korban di Jepang sejak Desember 2024.
Manipulasi Harga Saham dengan Rekening Bajakan
Lin diduga membeli sekitar 700.000 saham dengan harga rendah (84 yen) melalui perusahaan miliknya.
Setelah memperoleh akses ke rekening korban menggunakan ID dan kata sandi ilegal, pelaku menjual saham milik korban untuk menghasilkan dana tambahan.
Uang tersebut digunakan kembali untuk membeli saham yang sama dalam jumlah masif, sehingga menciptakan kesan seolah saham sedang diminati pasar.
Untuk memperkuat ilusi tersebut, pelaku membuat pesanan beli semu hingga 500.000 lot.
Harga saham pun melonjak sekitar 30 persen menjadi 110 yen, kemudian pelaku menjual kembali saham yang dimilikinya dan meraup untung sekitar 8,6 juta yen.
Di sisi lain, korban kehilangan total sekitar 11 juta yen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tsksaham1111.jpg)