Senin, 11 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Kanselir Jerman Sebut Ambisi Putin Mirip Hitler: Rusia Mau Pulihkan Uni Soviet

Kanselir Jerman Friedrich Merz sebut Putin mirip Hitler, menuduh Rusia ingin menguasai Eropa dengan mengatakan Putin tak akan berhenti di Ukraina.

Tayang:
Editor: Nuryanti
Kantor Presiden Rusia
PUTIN - Foto ini diambil dari laman Kremlin pada Jumat (7/3/2025), memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin selama pertemuan dengan wanita – karyawan dan anak-anak dana negara untuk mendukung peserta SVO “Pembela Tanah Air” di Moskow pada Kamis (6/3/2025). Pada 13 Desember 2025, Kanselir Jerman Friedrich Merz sebut Putin berambisi seperti Hitler untuk menguasai Eropa. 
Ringkasan Berita:
  • Kanselir Jerman membandingkan Putin dengan Adolf Hitler yang berambisi menguasai Eropa.
  • Ia menyebut Putin berniat mengubah perbatasan di Eropa.
  • Kremlin berulang kali membantah tuduhan Jerman yang menyebut invasi Rusia tak akan berhenti di Ukraina.

 

TRIBUNNEWS.COM - Kanselir Jerman Friedrich Merz membandingkan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler.

Berbicara dalam pidato pada Sabtu (13/12/2025) malam, Friedrich Merz memperingatkan bahwa invasi Rusia tidak akan berhenti di Ukraina.

“Sama seperti Sudetenland yang belum cukup pada tahun 1938, Putin tidak akan berhenti,” kata Merz pada Sabtu (13/12/2025), merujuk pada bagian Cekoslowakia yang diserahkan Sekutu kepada pemimpin Nazi dengan sebuah kesepakatan. 

Adolf Hitler melanjutkan ekspansinya ke Eropa setelah itu.

“Jika Ukraina jatuh, dia tidak akan berhenti sampai di situ,” lanjutnya, merujuk pada Putin.

“Ini adalah perang agresif Rusia terhadap Ukraina — dan terhadap Eropa," tambahnya.

Ia memperingatkan bahwa tujuan Putin adalah mengubah perbatasan di Eropa.

"Tujuan dia (Putin) adalah perubahan mendasar pada perbatasan di Eropa, pemulihan Uni Soviet lama di dalam perbatasannya,” ujarnya, dikutip dari Politico.

Kanselir Jerman itu mendukung Ukraina bersama mitra Eropa lainnya termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Pada akhir pekan kemarin, para pejabat Jerman, Inggris, dan Prancis membahas proposal untuk mengakhiri perang Rusia dan Ukraina.

Hal itu dilakukan menjelang pertemuan perwakilan Eropa dan AS bersama Ukraina di Berlin, Jerman pada Senin, 15 Desember 2025.

Baca juga: 1 Juta Rumah di Ukraina Gelap Gulita usai Serangan Rusia: Pasukan Putin Tembakkan 450 Drone

Perwakilan AS yang akan menghadiri pertemuan itu termasuk Utusan AS Steve Witkoff.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy akan bergabung dalam rombongan perwakilan Ukraina.

Rencana perdamaian 20 poin yang diajukan AS dan telah direvisi bersama Ukraina sedang dalam proses penyusunan.

Rencana tersebut mencakup konsesi teritorial dari pihak Ukraina.

Berdasarkan salah satu proposal yang sedang dibahas, wilayah Donbas akan dijadikan zona perdagangan bebas di mana perusahaan-perusahaan Amerika dapat beroperasi secara bebas.

Kremlin Bantah Tuduhan Jerman

Ini bukan pertama kalinya Friedrich Merz melontarkan perkataan pedas tentang Putin.

Beberapa bulan lalu, ia mengatakan Putin berniat membangkitkan Uni Soviet.

"Ketika Anda mendengarkan Putin, Anda memahami bahwa ia ingin memulihkan bekas Uni Soviet dalam hal wilayah," kata Merz dalam sebuah wawancara dengan LCI pada 30 Agustus 2025.

Namun, pernyataan tersebut berulang kali dibantah oleh Kremlin.

Putin berulang kali mengatakan Rusia tidak akan menyerang wilayah NATO kecuali diserang terlebih dahulu.

Presiden Rusia itu menekankan perlunya memerangi revisi sejarah, terutama yang meremehkan peran penting Uni Soviet dalam mengakhiri Perang Dunia II dan mengalahkan Nazi Jerman.

Perang tersebut merenggut jutaan korban jiwa termasuk kakak laki-laki Putin yang meninggal selama blokade Nazi terhadap Leningrad, dikutip dari Russia Today.

Sebelumnya, Kremlin pernah membantah pernyataan Friedrich Merz yang juga mengatakan hal serupa.

"Memikirkan kebangkitan Uni Soviet akan dianggap tidak menghormati mitra dan sekutu kita di Persemakmuran Negara-Negara Merdeka dan bentuk-bentuk integrasi yang lebih maju," ujar Dmitry Peskov, merujuk pada kelompok antarpemerintah negara-negara pasca-Soviet, Selasa (9/12/2025).

Kremlin menyebut pernyataan itu tidak dapat diterima dan omong kosong bahwa Rusia ingin menyerang Eropa.

Rusia semakin terisolasi dari negara-negara Eropa setelah Putin meluncurkan invasinya ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Putin menyebut invasi tersebut sebagai operasi militer khusus yang bertujuan untuk menetralisir "pemerintahan Nazi" di Ukraina dan ancaman terhadap Rusia.

Perang tersebut merupakan salah satu puncak konflik Rusia dengan Ukraina, yang juga merupakan negara pecahan Uni Soviet.

Sejak tahun 2002, Ukraina mulai menunjukkan minatnya untuk bergabung dengan aliansi pertahanan NATO dan disusul dengan keinginannya menjadi anggota Uni Eropa.

Rusia merasa terancam dengan kedekatan Ukraina dengan negara-negara Barat, perbedaan orientasi politik, klaim wilayah, dan upaya memperkuat identitas nasional membuat hubungannya dengan Ukraina semakin rapuh.

Ketegangan memuncak saat terjadi Revolusi Maidan di Ukraina pada tahun 2014, di mana gelombang protes besar yang menggulingkan presidennya yang dianggap terlalu pro-Rusia, dikutip dari Al Jazeera.

Di tengah kekacauan itu, Rusia merebut Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donbas, sehingga memicu konflik berkepanjangan di timur Ukraina.

Setelah upaya negosiasi yang panjang dan berulang kali gagal meredakan ketegangan, hingga Rusia meluncurkan invasi pada tahun 2022 dengan alasan melindungi warga keturunan Rusia dan mencegah Ukraina semakin mendekat ke NATO.

Negara-negara Barat mengecam invasi Rusia terhadap Ukraina, hingga mereka menunjukkan dukungan yang kuat terhadap Kyiv baik secara militer mau pun politik.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved