Konflik Rusia Vs Ukraina
Krisis Anggaran Perang, Zelensky Akui Ukraina Tak Sanggup Bayar Gaji 800.000 Tentara
Krisis perang kian menekan Ukraina. Zelensky akui negara tak sanggup biayai 800.000 tentara tanpa bantuan Barat. Ketergantungan finansial makin dalam.
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan negaranya tidak mampu membiayai gaji dan operasional 800.000 tentara tanpa dukungan finansial dari negara-negara Barat.
- Konflik berkepanjangan dengan Rusia membuat defisit anggaran melebar, belanja pertahanan mencapai sekitar 26 persen PDB, dan utang publik Ukraina mendekati 100 persen PDB.
- Ukraina membutuhkan pembiayaan jangka panjang dari mitra Barat, untuk menopang anggaran negara dan mempertahankan kekuatan militernya.
TRBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka mengakui keterbatasan kemampuan negaranya dalam membiayai kekuatan militer pasca konflik.
Ia menyatakan Ukraina tidak sanggup membayarkan gaji dan menanggung beban anggaran untuk mempertahankan pasukan berjumlah 800.000 personel tanpa dukungan finansial dari negara-negara Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan Zelensky kepada wartawan dan terekam dalam audio yang kemudian diunggah di saluran Telegram Novosti.Live.
Dalam keterangannya, Zelensky menegaskan bahwa kebutuhan pertahanan Ukraina ke depan menuntut jumlah pasukan yang besar, namun kondisi keuangan negara belum memungkinkan pembiayaan secara mandiri.
“Usulan militer kami adalah pasukan berjumlah 800.000 tentara. Apakah Ukraina mampu membiayai pasukan sebesar itu jika gencatan senjata diberlakukan? Tidak, tidak akan. Kami kekurangan sumber daya keuangan untuk itu,” ujar Zelensky, sebagaimana dikutip dari TASS.
Pengakuan ini menegaskan dilema strategis yang dihadapi Kiev.
Di satu sisi, Ukraina memandang kekuatan militer besar sebagai kebutuhan mutlak untuk menjaga keamanan nasional dan mencegah potensi ancaman di masa depan.
Namun di sisi lain, perang berkepanjangan telah menguras anggaran negara, merusak infrastruktur ekonomi, dan meningkatkan ketergantungan pada bantuan luar negeri.
Zelensky menyatakan bahwa karena keterbatasan tersebut, pemerintah Ukraina terus melakukan dialog intensif dengan para mitra Barat.
Ia menekankan pentingnya skema pembiayaan bersama, di mana sebagian biaya operasional dan gaji tentara Ukraina ditanggung oleh negara-negara pendukungnya.
“Itulah mengapa saya terus berdialog dengan para pemimpin Barat mengenai pembiayaan sebagian tentara kita dengan mengorbankan para mitra,” katanya.
Menurut Zelensky, dukungan tersebut tidak bersifat sementara, melainkan dibutuhkan selama beberapa tahun hingga Ukraina mampu menstabilkan kondisi ekonomi dan membiayai militernya sendiri.
Baca juga: Sosok Letjen Fanil Sarvarov, Jenderal Top Rusia Tewas karena Bom Mobil, Diduga Dibunuh Agen Ukraina
Ukraina Dilanda Krisis Berat
Krisis ekonomi mulai melanda pemerintah Zelensky setelah perang yang berkecamuk antara Ukraina dan Rusia sejak Februari 2022.
Konflik berskala penuh ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan menguras sumber daya militer, tetapi juga memicu krisis keuangan yang mengancam stabilitas jangka panjang negara tersebut.
Data ekonomi menunjukkan bahwa perang telah mendorong defisit anggaran Ukraina melebar tajam, karena sebagian besar anggaran dialihkan untuk biaya pertahanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Facebook-Zelenskyyy-23423.jpg)