WNI Pertama Perkenalkan Surabi di Jepang, Satukan Dua Budaya
Toko surabi ini berlokasi di kawasan strategis Kichijoji, Tokyo. Ukurannya sekitar 3 x 3 meter, dengan biaya sewa 300.000 yen per bulan
Ringkasan Berita:
- Adi Nurwan membuka toko Surabi di Kichijoji, Tokyo, sejak 15 Februari 2025 sebagai gerai surabi tradisional Indonesia pertama di Jepang
- Toko mungil dekat stasiun ini jadi ruang nostalgia WNI sekaligus pintu masyarakat Jepang mengenal budaya Indonesia
- Didukung komunitas dan liputan media Jepang, surabi seharga 350 yen dengan varian keju hingga matcha kini rutin diserbu pengunjung
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Adi Nurwan (36), Warga Negara Indonesia asal Baturaja, Sumatera Selatan, akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari: makanan tradisional Indonesia yang mampu mengakrabkan masyarakat Jepang dan Indonesia.
Hal itu diwujudkannya dengan membuka toko Surabi di kawasan Kichijoji, Tokyo, yang resmi beroperasi sejak 15 Februari 2025. Toko Surabi oleh WNI pertama kali di Jepang.
“Saat musim dingin lalu, ada pelajar perempuan Indonesia yang baru tiba di Jepang. Ia terlihat sangat rindu suasana kampung halaman. Ketika mencicipi surabi di toko ini, ia berkata rasanya seperti pulang ke Indonesia,” ujar Adi kepada Tribunnews.com, Jumat (26/12/2025).
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa surabi bukan sekadar makanan, melainkan juga ruang nostalgia dan kehangatan bagi orang Indonesia di perantauan, sekaligus pintu masuk bagi masyarakat Jepang untuk mengenal budaya Indonesia.
“Untuk orang Jepang, kami berharap surabi bisa menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan tentang Indonesia,” tambahnya.
Baca juga: Sopir Truk Langka, Jepang Mulai Rekrut WNI Secara Masif
Lokasi Strategis di Jantung Kichijoji
Toko surabi ini berlokasi di kawasan strategis Kichijoji, Tokyo. Ukurannya sekitar 3 x 3 meter, dengan biaya sewa 300.000 yen per bulan. Lokasinya hanya dua menit berjalan kaki dari Stasiun Kichijoji dan berada dekat persimpangan jalan utama yang ramai.
“Lokasi ini sangat strategis. Saat itu ada beberapa kandidat lain, tapi konsep surabi sebagai jajanan tradisional Indonesia justru mendapat respons positif,” ujarnya.
Sejak awal dibuka, toko ini mendapat dukungan besar dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang.
Banyak yang datang, memperkenalkan ke teman Jepang mereka, hingga membagikan pengalaman mereka di media sosial.
“Berkat dukungan WNI di Jepang yang datang dan merasa bangga, toko kecil ini bisa bertahan dan berjalan hampir satu tahun,” kata Adi.
Menurutnya, kehadiran komunitas Indonesia di Jepang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Surabi Tokyo.
Sambutan Positif Masyarakat Jepang dan Liputan Media
Tak hanya WNI, masyarakat Jepang juga menunjukkan dukungan yang sangat besar. Hal ini dibuktikan dengan liputan dari berbagai media Jepang, mulai dari 4 stasiun televisi, 2 radio, hingga 3 majalah nasional Jepang.
Baca juga: Mahasiswa Fukuyama City University Raih Penghargaan Harta Karun Desa Jepang, Bantu di SMA Indonesia
“Respons orang Jepang sangat positif. Banyak yang penasaran, mencoba, lalu kembali lagi. Media Jepang juga melihat surabi sebagai sesuatu yang unik dan bernilai budaya,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SURABI22222222.jpg)