Amerika Versus Venezuela
Venezuela Punya Cadangan Minyak Besar Tapi Kapasitas Produksi Kecil, Banyak Berutang ke China
Venezuela memang punya cadangan minyak terbesar di dunia. Tapi anehnya, kapasitas produksi justru rendah. Persoalan korupsi percampuran urusan politik
Ringkasan Berita:
- Jumlah total utang Venezuela ke China sangat signifikan, dengan perkiraan mencapai puncaknya di sekitar 112,8 miliar US Dolar melalui pinjaman berbasis minyak.
- CNPC belum memulai proyek minyak baru apa pun di Venezuela sejak tahun 2009, ketika perusahaan tersebut berkomitmen untuk berinvestasi di blok Junin 4 di Sabuk Orinoco.
- Saat ini CNPC memegang 40 persen saham dalam usaha patungan tersebut, yang sekarang bernama Petrolera Sinovensa, yang mengoperasikan sejumlah blok di Sabuk Orinoco.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya terang-terangan menyampaikan bahwa penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro bertalian erat persoalan cadangan minyak bumi.
Presiden AS ke-47 itu berjanji mengendalikan penjualan minyak demi membuat Venezuela kembali menjadi negara hebat.
Baca juga: Mengenal Operasi Absolute Resolve: Misi Paling Berbahaya AS Usai Pembunuhan Bin Laden di Pakistan
"Kita akan memastikan itu dijalankan dengan benar. Kita akan membangun kembali infrastruktur minyak, yang akan menelan biaya miliaran dolar," kata Trump dikutip dari ABC News, Minggu(4/1/2026).
Venezuela memang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Tetapi anehnya, kapasitas produksinya justru rendah.
Persoalan korupsi percampuran urusan politik dan persoalan penegakan hukum yang lemah ditengarai menjadi penyebabnya.
Dikutip dari data OPEC tahun 2023, Venezuela memiliki cadangan minyak sebesar 303, 22 miliar barel, disusul Arab Saudi dengan 267,19 miliar barel dan Iran 208,60 miliar barel.
Sebagian besar cadangan minyak bumi Venezuela berada di wilayah Orinoco, Venezuela tengah. Bersama Iran dan Irak serta Kuwait dan Arab Saudi, Venezuela merupakan anggota pendiri OPEC. Produksi minyak di Venezuela sempat menyentuh 3,5 juta barel per hari pada tahun 1970-an atau lebih dari 7 persen produksi dunia.
Akan tetapi pada tahun 2010-an, produksi minyak Venezuela turun menjadi di bawah 2 juta barel per hari kemudian menurun lagi pada tahun 2025 menjadi 1,1 juta barel per hari atau setara 1 persen produksi dunia.
Venezuela juga sempat melakukan nasionalisasi industri minyak pada dekade 1970-an dengan membentuk Petroleos de Venezuela SA(PDVSA). Lalu pada tahun 1990-an dibuka kembali untuk investasi asing.
Sejak terpilihnya Hugo Chavez pada tahun 1999, kepemilikan mayoritas PDVSA diwajibkan di semua proyek minyak. PDVSA membentuk usaha patungan dengan sejumlah perusahaan global, termasuk Chevron, China National Petroleum Corporation, ENI, Total, dan Rosneft.
Amerika Serikat pernah menjadi pembeli utama minyak Venezuela. Tapi dalam satu dekade terakhir China yang menjadi tujuan utama ekspor minyak Venezuela karena adanya sanksi dari Negeri Paman Sam.
Dilansir dari S&P Global Report, sepanjang tahun 2025, ekspor minyak Venezuela tercatat berada di kisaran 750 ribu barel per hari (kbd), jauh di bawah puncaknya pada 2015 yang mencapai sekitar 2 juta barel per hari.
China menjadi tujuan utama minyak Venezuela. Sepanjang 2025 year to date (ytd), China menyerap lebih dari 400 ribu barel per hari (kbd) minyak mentah Venezuela, menjadikannya pembeli terbesar saat ini. Selain ekspor langsung, sebagian minyak Venezuela juga dialihkan melalui negara perantara di Asia Tenggara, terutama Malaysia, sebelum akhirnya masuk ke pasar China.
Baca juga: Ini Profil Kartel Matahari yang Disebut AS Sebagai Teroris Narkoba, Terkait dengan Presiden Maduro
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Helikkopter-Maduro-Venezuela.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.