Optimisme Ekonomi Asia Menguat, Harapan Besar pada Semikonduktor dan Indonesia Berhati-hati
Survei NNA Optimisme ekonomi Asia awal 2026 menguat, dipimpin India dan sektor semikonduktor, China paling pesimistis dan Indonesia masih berhati-hati
Ringkasan Berita:
- Survei NNA terhadap ekspatriat dan perusahaan Jepang di Asia menunjukkan optimisme ekonomi awal 2026 naik menjadi 28,5 persen.
- India menjadi negara paling optimistis, sementara China mencatat tingkat pesimisme tertinggi akibat tensi geopolitik.
- Indonesia dan Filipina cenderung hati-hati, sedangkan sektor semikonduktor dan konstruksi menjadi motor harapan.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Sentimen ekonomi Asia memasuki awal 2026 menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Survei terbaru yang dilakukan NNA terhadap ekspatriat dan perwakilan perusahaan Jepang di Asia mencatat optimisme ekonomi meningkat menjadi 28,5 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan survei setahun sebelumnya.
Hampir separuh responden (48,7 persen) menilai kondisi ekonomi di negara atau wilayah tempat mereka bertugas pada paruh pertama 2026 (Januari–Juni) akan bergerak stagnan dibanding paruh kedua 2025.
Namun, proporsi yang memandang ekonomi akan membaik mengalami kenaikan tipis, menandakan kehati-hatian yang mulai bergeser ke arah optimisme.
Baca juga: Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS Picu Efek Domino, Ekonomi Global Terancam Berubah
Indonesia dan Filipina Cenderung Hati-hati
Di Indonesia dan Filipina, sentimen pesimistis juga relatif kuat. Di Indonesia, 28,9 persen responden bersikap pesimis, lebih tinggi dibanding yang optimistis (20,6 persen).
Meski pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5 persen, kekhawatiran muncul terkait melandainya permintaan dan tertundanya proyek-proyek besar akibat pengetatan anggaran pemerintah.
Filipina menghadapi tantangan tambahan berupa bencana alam dan isu korupsi pemerintah, yang dinilai menahan investasi dan pemulihan ekonomi.
India Paling Optimistis
Secara regional, India muncul sebagai negara dengan prospek paling cerah. Lebih dari 70 persen responden di India menyatakan optimistis terhadap kondisi ekonomi 2026.
Pertumbuhan sektor manufaktur—khususnya otomotif, semikonduktor, dan smartphone—serta kuatnya permintaan domestik menjadi penopang utama.
Asian Development Bank (ADB) bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi India pada tahun fiskal 2025/2026 mencapai 7,2 persen.
Kebijakan pemotongan pajak barang dan jasa (GST) yang mulai diterapkan pada September 2025 juga dinilai mendorong konsumsi domestik, sehingga tekanan dari tarif tinggi Amerika Serikat relatif dapat diredam.
Taiwan dan Korea Selatan Diuntungkan Semikonduktor
Optimisme juga menguat di Taiwan dan Korea Selatan, dua pilar utama rantai pasok semikonduktor global.
Permintaan chip dunia yang kembali meningkat serta meredanya kekhawatiran terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat menjadi faktor utama.
Taiwan bahkan naik peringkat dalam daftar “tujuan investasi jangka menengah hingga panjang yang menjanjikan” versi Japan Bank for International Cooperation (JBIC), menempati posisi ke-11 pada edisi 2025—naik tiga peringkat dari tahun sebelumnya.
Baca juga: Bicara Langsung Dengan Pemuda Medan, Penyelamat Panti Lansia di Hokkaido Jepang
Vietnam Tetap Menarik, Thailand Stabil
Sumber: Tribunnews.com
| Situasi Memburuk, China Minta Warganya di Jepang Waspada Usai Ada Laporan Serangan |
|
|---|
| Update Kabar Abroad Farhan Halim di Liga Voli Jepang: VC Nagano Tridents Kembali Telan Kekalahan |
|
|---|
| Pengembangan Tank Harimau dan Rudal KHAN ITBM-600 Jadi Perhatian Pengamat Militer Jepang |
|
|---|
| Popularitas Siaran Sepakbola Indonesia-Jepang di Osaka 10 Juni 2025 Mencapai 7,7 Persen |
|
|---|
| Pria Lampung Jadi Raja Tempe Indonesia di Jepang: Omzet Rp320 Juta Sebulan dan Kuliahkan Anak di AS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PABRIKSEMI11111.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.