Selasa, 12 Mei 2026

Bicara Langsung Dengan Pemuda Medan, Penyelamat Panti Lansia di Hokkaido Jepang

Pemuda asal Medan ini bantu selamatkan panti jompo di Hokkaido. Beralih dari akuntansi ke perawat, Dhyno mengabdi di daerah terpencil Jepang.

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Richard Susilo
SELAMATKAN FASILITAS PANTI LANSIA - Dhyno Ramdan Pamungkas (28) saat diwawancarai Tribunnews.com Minggu (4/1/2026) Richard Susilo 

Ringkasan Berita:
  • Dhyno Ramdan Pamungkas, pemuda asal Medan, menjadi sosok penting yang membantu menyelamatkan panti jompo di Nakatonbetsu, Hokkaido, dari ancaman penutupan akibat krisis tenaga kerja. 
  • Meski berlatar akuntansi, ia menekuni keperawatan dan bekerja di daerah terpencil dengan kondisi kerja berat. 
  • Dedikasinya membuat layanan lansia kembali berjalan normal dan mendapat apresiasi luas.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, HOKKAIDO – Menjelang ulang tahunnya yang ke-29 pada 3 Februari 2026, Dhyno Ramdan Pamungkas, pemuda kelahiran Medan, 3 Februari 1997, menorehkan kisah pengabdian yang mengundang apresiasi.

Kehadirannya di sebuah panti jompo di Nakatonbetsu, Hokkaido, ikut menyelamatkan fasilitas lansia tersebut dari ancaman penutupan akibat kekurangan tenaga kerja.

“Saya tahu panti jompo itu hampir tutup sebelum saya masuk. Tapi yang saya pikirkan hanya bagaimana bisa membantu para lansia di sana,” ujar Dhyno kepada Tribunnews.com, Minggu (5/1/2026).

Dari Akuntansi ke Keperawatan

Dhyno datang ke Jepang pada Oktober 2019 bersama sang kakak, Jodhy Agung Rizkyawan, yang bekerja di sektor pertanian di Hokkaido. 

Berbeda dengan kakaknya, Dhyno memilih jalur keperawatan—meski ia merupakan lulusan Politeknik Negeri Medan jurusan Akuntansi Perbankan.

Baca juga: Maguro Tembus Rp50 Miliar, Rekor Lelang Tahun Baru Pecah di Jepang

Ia memulai perjalanan dengan belajar bahasa Jepang di Higashikawa, Hokkaido, selama dua tahun hingga 2021. 

Setelah itu, atas rekomendasi gurunya, Dhyno melanjutkan studi ke Asahikawa Fukushi Senmon Gakko (AFSG), sekolah keperawatan di Asahikawa yang mendapat subsidi pemerintah Jepang.

“Selama sekolah, kami sering praktik ke panti jompo. Pendidikan gratis, disediakan tempat tinggal dan uang saku. Untuk tambahan, saya hanya baito dua jam,” jelasnya.

Bekerja di Daerah Terpencil

Melalui AFSG, Dhyno dikenalkan ke sejumlah panti jompo. 

Ia sempat mempertimbangkan Yubetsu, namun akhirnya memilih Nakatonbetsu—daerah kecil di Hokkaido—demi memberi kesempatan pada rekan lain.

Di panti jompo Chojyuen Nakatonbetsu, Dhyno awalnya bekerja nyaris sendirian untuk menutup kekurangan tenaga. 

Total perawat hanya 18 orang yang dibagi tiga shift, sehingga setiap shift rata-rata lima orang untuk melayani sekitar 48 lansia berusia 80–90 tahun.

“Saya di bagian tokujo, menangani lansia dengan kondisi paling berat—demensia, lupa ingatan, bahkan yang masih menggunakan infus. Pekerjaannya berat, tapi saya senang karena suasana kerjanya baik,” tuturnya.

Tantangan dan Keteguhan

Dhyno mengakui tantangan besar di lapangan. Selain kekurangan tenaga, pembinaan dari senior di Jepang dikenal 厳しい (ketat/keras). 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved