Iran Memanas
Demo Memanas, Iran Peringatkan AS-Israel Tak Ikut Campur dengan Opsi Militer
Demo anti-pemerintah memanas di Iran. Ketua Parlemen Iran memperingatkan AS-Israel tak ikut campur dengan opsi militer atau serangan ke negaranya.
Ringkasan Berita:
- Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan AS dan Israel agar tidak meluncurkan "serangan" di tengah protes anti-pemerintah di Iran.
- AS dan Israel mendukung para pengunjuk rasa yang menuntut perubahan politik di pemerintahan Iran.
- Demonstrasi di Iran terjadi sejak 28 Desember lalu, dipicu oleh protes mengenai krisis ekonomi yang meluas.
- Pemimpin Iran Ali Khamenei, yang memimpin selama tiga dekade, memberi sinyal menindak tegas para demonstran.
TRIBUNNEWS.COM - Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak melakukan serangan terhadap wilayahnya di tengah memanasnya demonstrasi anti-pemerintah di Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Iran akan melakukan serangan pendahuluan terhadap target AS dan Israel jika Iran mendeteksi adanya serangan yang akan segera terjadi.
Protes yang berawal pada akhir Desember lalu itu menyebar ke banyak wilayah, memicu kerusuhan, meningkatkan korban jiwa hingga 500 orang.
AS dan Israel mendukung demonstran anti-pemerintah Iran yang menuntut perubahan politik di Iran.
“Hendaknya mereka yang mengancam Iran diberi peringatan. Serangan apa pun terhadap Iran akan menjadikan wilayah pendudukan, semua pusat dan pangkalan militer, serta kapal-kapal Amerika di kawasan itu sebagai sasaran yang sah,” kata Ghalibaf pada Minggu (11/1/2026).
“Kami tidak membatasi diri hanya menanggapi setelah serangan terjadi dan akan bertindak berdasarkan tanda-tanda ancaman yang objektif, sehingga tidak ada yang melakukan kesalahan perhitungan yang akan membawa mereka pada bencana,” tambahnya.
Aksi protes yang dimulai pada hari Minggu, 28 Desember lalu, dengan para pemilik toko di Teheran yang berunjuk rasa menentang memburuknya perekonomian Iran telah menyebar ke kota-kota lain, dan juga melibatkan para mahasiswa.
Rial Iran telah melemah terhadap dolar AS dan mata uang dunia lainnya, sehingga menaikkan harga impor dan merugikan pedagang ritel, seperti diberitakan Al Jazeera.
Pada 6 Januari, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menepis pernyataan Trump yang menyebut tangannya "berlumuran darah rakyat Iran" sementara para pendukungnya meneriakkan "Matilah Amerika!" dalam rekaman yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Iran.
Media pemerintah kemudian berulang kali menyebut para demonstran sebagai "teroris," yang membuka jalan bagi penindakan keras seperti yang terjadi setelah protes nasional lainnya dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Teroris Mossad Diklaim Serang Polisi Iran, Israel Akui Agennya Kini Beroperasi di Iran
Trump Pertimbangkan Opsi Militer, Dukung Demonstran Iran
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan membantu para pengunjuk rasa jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan untuk menindak kerusuhan.
Pada Senin pagi, Donald Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan berbagai tanggapan terhadap meningkatnya kerusuhan di Iran, termasuk kemungkinan opsi militer.
Trump mengatakan kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, menanggapi pertanyaan tentang apakah Iran telah melanggar garis merah yang sebelumnya ia nyatakan, yaitu membunuh para demonstran.
"Sepertinya mereka mulai melakukan itu," kata Trump pada Senin (12/1/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemimpin-Tertinggi-Iran-Ali-Khamenei-bertemu-Putin.jpg)