Iran Vs Amerika Memanas
Harga Minyak Melesat, Tembus Level Tertinggi Dampak Ancaman Tarif 25 Persen Trump ke Iran
Harga minyak dunia melesat ke posisi tertinggi setelah Trump mengancam tarif 25 persen terhadap negara-negara yang tetap menjalin bisnis dengan Iran.
Ketika AS menaikkan tekanan ekonomi melalui tarif tinggi kepada negara lain yang berhubungan bisnis dengan Teheran, hal ini dipandang sebagai langkah yang bisa menghambat ekspor minyak Iran lebih jauh dan mengurangi volume minyak yang tersedia di pasar global.
Bahkan sebelum tarif tersebut, produksi minyak Iran sudah turun karena sanksi sebelumnya, dan tindakan baru ini menambah ketidakpastian terhadap volume ekspor di masa depan.
Penyusutan pasokan minyak dari anggota penting seperti Iran dipandang sebagai faktor kunci yang menekan keseimbangan pasar global dan mendorong harga naik.
Ketidakpastian pasokan itu menciptakan apa yang disebut para analis sebagai “premi risiko geopolitik” yaitu tambahan harga yang dibayar pasar karena kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Harga minyak yang lebih tinggi memberikan gambaran bagaimana langkah politik dan ekonomi negara besar seperti AS berdampak langsung pada harga energi global.
Ketika pasokan diperkirakan menurun, permintaan yang tetap tinggi akan mendorong harga naik karena negara-negara konsumen dan pedagang harus bersaing mendapatkan minyak yang lebih sedikit di pasar internasional.
Dampak ini dirasakan tidak hanya di pusat perdagangan minyak seperti New York atau London, tetapi juga secara tidak langsung pada harga bensin dan energi di berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara importir energi besar.
Dengan demikian, pemberlakuan tarif 25 persen oleh AS tidak hanya menjadi instrumen tekanan terhadap Iran, tetapi juga menjadi pemicu lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan sumber energi yang vital bagi ekonomi global.
(Tribunnews.com / Namira)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-cadangan-minyak-venezuela.jpg)