Iran Vs Amerika Memanas
Rusia Kecam Campur Tangan dan Ancaman AS ke Iran, Ingatkan soal Konsekuensi Buruk
Rusia memberi kecaman setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancamannya terhadap Iran.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Rusia mengutuk apa yang digambarkannya sebagai "campur tangan eksternal subversif" dalam politik internal Iran.
Rusia juga mengatakan, ancaman Amerika Serikat (AS) untuk serangan militer baru terhadap negara itu "sama sekali tidak dapat diterima."
Aksi protes yang terjadi di Iran saat ini dimulai pada 28 Desember 2025 sebagai respons terhadap kenaikan harga yang melonjak, sebelum kemudian berbalik melawan penguasa ulama yang telah memerintah sejak Revolusi Islam 1979.
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Iran akan "terkena dampak parah" jika para pengunjuk rasa terbunuh, sehingga kembali memfokuskan perhatian pada tindakan apa yang mungkin diambil Washington seiring berlanjutnya kerusuhan.
Rusia lantas memberi kecaman setelah Trump menyampaikan ancamannya terhadap Iran.
"Mereka yang berencana menggunakan kerusuhan yang diilhami dari luar sebagai dalih untuk mengulangi agresi terhadap Iran yang dilakukan pada Juni 2025 harus menyadari konsekuensi buruk dari tindakan tersebut bagi situasi di Timur Tengah dan keamanan internasional global," kata kementerian luar negeri Rusia dalam sebuah pernyataan, Selasa (13/1/2026), dilansir Al Arabiya.
Jelang Keputusan Trump
Tim keamanan nasional Trump mengadakan pertemuan pada Selasa pagi untuk membahas situasi di Iran dan meninjau intelijen terbaru dari lapangan.
Pertemuan kedua dengan pejabat yang lebih senior dijadwalkan pada pukul 4 sore EST untuk menilai perkembangan lebih lanjut.
Trump tidak menghadiri pertemuan pagi, dan sesi sore diperkirakan akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.
Saat mengunjungi Michigan pada Selasa, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa mereka "harus mencari solusinya" ketika ditanya tentang jenis bantuan apa yang mungkin diberikan AS kepada Iran.
Dikutip dari Al Arabiya, Trump sebelumnya mengatakan Iran "dalam masalah besar" setelah protes meletus dan kemudian mengumumkan tarif 25 persen untuk negara mana pun yang melakukan bisnis dengan Teheran.
Baca juga: AS Desak Warganya Tinggalkan Iran via Jalur Darat, Trump Pertimbangkan Opsi Militer?
Para pejabat AS menekankan tidak ada perubahan pada postur kekuatan militer AS di Timur Tengah, meskipun diskusi sedang berlangsung untuk memberikan berbagai pilihan kepada presiden.
Salah satu pertimbangan utama adalah bagaimana membantu warga Iran mendapatkan kembali akses internet setelah pemerintah memberlakukan pemadaman nasional.
Starlink milik Elon Musk telah berupaya menyediakan konektivitas internet gratis, meskipun ada upaya dari pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk memblokir layanan tersebut.
Opsi serangan militer juga sedang disiapkan untuk ditinjau oleh Trump, meskipun dia belum memutuskan apakah atau kapan akan mengambil tindakan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Demonstrasi-Iran-2.jpg)