Iran Vs Amerika Memanas
Presiden Iran: Serangan Apa Pun terhadap Pemimpin Tertinggi Khamenei Akan Menjadi Deklarasi Perang
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang.
Pasukan keamanan dengan kendaraan lapis baja dan sepeda motor terlihat berpatroli di pusat Teheran, menurut koresponden AFP.
Sekolah-sekolah di Iran dibuka kembali pada Minggu setelah ditutup selama sepekan.
Sementara itu, Pezeshkian mengatakan dalam rapat kabinet bahwa ia telah merekomendasikan kepada sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi agar pembatasan internet dicabut sesegera mungkin.
Kantor berita Fars melaporkan pada Minggu bahwa kepala eksekutif Irancell, operator seluler terbesar kedua di Iran, dipecat karena gagal mematuhi keputusan pemerintah untuk mematikan internet.
Di luar Iran, demonstrasi solidaritas terus berlangsung di sejumlah kota dalam beberapa hari terakhir, termasuk di Berlin, London, dan Paris.
Meski ada pembatasan ketat, informasi tetap bocor ke luar negeri, dengan laporan tentang dugaan kekejaman terus bermunculan, menurut kelompok hak asasi manusia.
Jumlah Korban Mencapai Ribuan
Menurut laporan yang disusun para dokter di Iran dan dikutip The Sunday Times, sedikitnya 16.500 demonstran dilaporkan tewas dan sekitar 330.000 lainnya terluka selama kerusuhan di Iran selama 3 minggu terakhir ini.
Sementara itu, sebuah lembaga aktivis yang berbasis di Amerika Serikat, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Human Rights Activists News Agency), menyatakan pada Minggu (18/1/2026) bahwa mereka telah memverifikasi sedikitnya 3.919 kematian akibat gelombang protes yang berujung pada penindakan berdarah, dan memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Dilansir PBS, lembaga tersebut memposting angka terbaru yang direvisi naik dari laporan sebelumnya sebanyak 3.308 korban tewas.
Jumlah korban tersebut, melampaui angka kematian dalam gelombang protes atau kerusuhan lain di Iran dalam beberapa dekade terakhir dan mengingatkan pada kekacauan yang terjadi menjelang Revolusi Iran 1979.
Pemadaman internet membuat verifikasi independen menjadi semakin sulit.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, untuk pertama kalinya pada Sabtu (17/1/2026) mengakui bahwa beberapa ribu orang telah tewas sejak protes dimulai tiga pekan sebelumnya.
Ia menyalahkan kekerasan tersebut pada para demonstran dan musuh asing.
Dalam pidatonya, Khamenei menggambarkan para demonstran sebagai “tentara Amerika Serikat” dan mengklaim mereka dipersenjatai senjata impor dari luar negeri.
Laporan para dokter menyebutkan sebagian besar kematian terjadi dalam dua hari yang digambarkan sebagai fase paling brutal dari penindakan dalam 47 tahun sejarah Republik Islam, dengan mayoritas korban diyakini berusia di bawah 30 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ali-Khamenei-bersama-Presiden-Iran-Masoud-Pezeshkian1.jpg)