Lima Alasan Perusahaan Jepang Rekrut SDM Sopir Bus Indonesia
Jepang rekrut sopir bus asal Indonesia. Dinilai ramah, terampil, dan cocok dengan sistem lalu lintas. Jadi solusi krisis pengemudi bus.
Ringkasan Berita:
- Meitetsu Bus merekrut tiga sopir asal Indonesia karena dinilai memiliki etos kerja baik, terbiasa setir kanan, ramah, dan minim risiko alkohol
- Jepang mengalami krisis sopir bus hingga puluhan ribu orang
- Ketiganya kini menjalani pelatihan ketat dan diproyeksikan menjadi sopir bus asing pertama di Jepang.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Sedikitnya ada tiga sopir bus Indonesia yang didatangkan Meitetsu Group ke Jepang dan dari wawancara berbagai pers di Jepang rupanya ada lima alasan mengapa memilih Indonesia untuk mencari sopir bis di Jepang.
"Memang kita mengincar Indonesia selama ini karena percaya sumber daya manusianya bagus," ungkap Naemi Irie, Kepala Rekrutmen SDM Meitetsu Bus kepada Aera, majalah dari Asahi Shimbun Group baru-baru ini.
Alasan Memilih Indonesia menurut Meitetsu Bus, ada lima alasan utama.
Pertama, Indonesia menerapkan lalu lintas kiri dengan setir kanan, sama seperti Jepang.
Kedua, karakter masyarakat Indonesia dinilai ramah dan lembut, cocok untuk pelayanan publik.
Baca juga: PM Sanae Takaichi Bubarkan Resmi Parlemen, Ingin Kembali Bangkitkan Ekonomi Jepang ke Tingkat Dunia
Ketiga, mayoritas beragama Islam, sehingga risiko masalah akibat alkohol sangat kecil.
Keempat, masyarakat Indonesia terbiasa mengemudikan mobil Jepang.
Kelima, tersedianya lembaga pengirim tenaga kerja yang berkualitas.
Persoalan Utama Jepang
Kekurangan pengemudi bus kini menjadi persoalan nasional di Jepang.
"Di berbagai daerah, rute bus terpaksa dihentikan atau dikurangi karena tidak adanya tenaga pengemudi. Di tengah krisis ini, Jepang mulai melirik tenaga kerja asing sebagai solusi, dan Indonesia muncul sebagai salah satu harapan terbesar," tambahnya.
Pada Agustus 2025, perusahaan Meitetsu Bus di Prefektur Aichi merekrut tiga warga Indonesia sebagai calon pengemudi bus.
Ketiganya sebelumnya pernah bekerja di Jepang sebagai peserta magang atau pelatihan teknis.
Mereka kembali ke Jepang dengan satu tujuan yaitu menjadi pengemudi bus rute reguler pertama asal Indonesia di Jepang.
Salah satunya, Dwi Harjanto (41), mengungkapkan alasannya.
“Walaupun yen sedang lemah, gaji di Jepang tetap lebih dari 10 kali lipat dibanding Indonesia. Saya ingin menyekolahkan tiga anak saya sampai perguruan tinggi,” ujar Dwi.
Sementara Seto Ramadan Siswadi (29), mantan guru bahasa Jepang, mengatakan bahwa ia senang mencoba tantangan baru.
“Kami mungkin akan menjadi pengemudi bus rute reguler pertama di Jepang yang datang dari luar negeri. Ketika melihat lowongan Meitetsu Bus di internet, saya berdiskusi dengan istri yang sedang hamil, dan dia mendukung penuh,” katanya.
Azam Al Antar (29), yang sebelumnya mengelola toko bahan bangunan, terdorong berangkat ke Jepang setelah usahanya terdampak kenaikan harga akibat perang Rusia–Ukraina.
Kini ia rutin mengirim uang kepada ibunya setiap bulan.
Ketiganya mengirim sekitar 120.000 yen per bulan ke keluarga di kampung halaman.
Setelah masa pelatihan berakhir, gaji pokok mereka akan disamakan dengan pengemudi Jepang.
Kekurangan Sopir Makin Parah
Menurut data industri transportasi Jepang, untuk mempertahankan layanan seperti tahun 2022 dibutuhkan sekitar 129.000 pengemudi.
Namun pada 2024, Jepang sudah kekurangan sekitar 21.000 orang. Angka ini diperkirakan melonjak menjadi 36.000 pada 2030.
“Perusahaan kami belum mengalami kekurangan parah, tetapi kami harus bersiap sejak dini. Karena itu kami memutuskan merekrut pengemudi asing,” kata Naemi Irie, Kepala Rekrutmen SDM Meitetsu Bus.
Pemerintah Jepang sendiri pada Maret 2024 menambahkan sektor transportasi darat—bus, truk, dan taksi—ke dalam kategori visa kerja “Tokutei Ginou” (keterampilan khusus), membuka jalan bagi tenaga asing masuk ke industri ini.
Setelah menerima tawaran kerja, ketiga kandidat mengikuti ujian kemampuan bahasa Jepang dan ujian keterampilan bidang transportasi.
Materinya mencakup aturan lalu lintas, pemeriksaan kendaraan, keselamatan, penanganan kecelakaan, hingga pelayanan penumpang.
Tantangan Terberat Konversi SIM
Rintangan terbesar adalah proses konversi SIM asing ke SIM Jepang, yang dikenal sebagai gaimen kirikae. Proses ini mencakup ujian teori dan praktik yang sangat ketat.
“Kalau orang Jepang ikut tes ini, mungkin juga banyak yang gagal,” ujar Yokoi Hidemitsu, mantan sopir bus yang kini membimbing mereka.
Satu dari tiga kandidat sempat gagal pada ujian praktik dan baru lulus pada percobaan kedua. Bila proses ini gagal dalam batas waktu, kandidat harus pulang ke negara asal, dan seluruh biaya pelatihan akan sia-sia.
Setelah lolos, mereka menjalani pelatihan lanjutan. Sejak Desember 2025, mereka mulai berlatih di rute nyata. Direncanakan, sekitar Maret 2026, ketiganya akan mulai mengemudikan bus dengan penumpang.
Di tengah krisis tenaga kerja Jepang, kehadiran pengemudi asal Indonesia kini bukan sekadar solusi sementara, melainkan simbol era baru: Jepang mulai membuka kemudi transportasi publiknya kepada dunia.
Diskusi loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sopirbusjepang212222.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.