Konflik Palestina Vs Israel
Gabung Dewan Perdamaian Trump, Indonesia Ikut Menyumbang Rp 17 Triliun?
Indonesia bergabung Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Ringkasan Berita:
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi meluncurkan Dewan Perdamaian dalam sebuah seremoni di sela penyelenggaraan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, kemarin
- Dewan ini disebut-sebut bertujuan mempercepat proses perdamaian di Gaza, Palestina.
- Atas alasan itulah, Indonesia bergabung Dewan Perdamaian yang digagas Trump ini
- Trump menyebut setiap anggota permanen Dewan Perdamaian harus ikut mendanai lembaga tersebut sebesar 1 miliar dollar AS atau hampir Rp 17 triliun.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia bergabung Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dewan ini bertujuan mempercepat proses perdamaian di Gaza, Palestina.
"Kalau secara kehendak, ya tentunya Bapak Presiden akan mempertimbangkan untuk bergabung karena yang penting kan tujuannya," ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Namun dia perlu memastikan lagi aspek formal terkait keanggotaan Indonesa ke Dewan Perdamaian itu.
"Ya, kita akan bergabung kalau memang itu kita diminta untuk bergabung," kata Prasetyo.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) lewat media sosial X mengumumkan Indonesia bergabung dengan Dewan Perdamaian yang digagas Trump.
Kemenlu mengatakan, Indonesia dan negara-negara Kawasan Timur Tengah lainnya menyambut baik undangan Trump untuk bergabung ke Dewan Perdamaian tersebut.
Baca juga: MUI Kritik Keterlibatan Indonesia di Board of Peace: Berpotensi Legitimasi Kolonialisme Israel
Bayar Rp 17 Triliun?
Dewan Perdamaian ini diluncurkan secara resmi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam sebuah seremoni di sela penyelenggaraan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Trump menyatakan badan tersebut berpotensi memainkan peran global yang lebih luas.
Trump mengatakan Dewan Perdamaian akan bekerja bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Meski sejumlah pihak menilai inisiatif itu berisiko menyaingi peran PBB sebagai forum utama diplomasi dan resolusi konflik internasional.
"Begitu dewan ini sepenuhnya terbentuk, kami bisa melakukan hampir apa pun yang ingin kami lakukan, dan kami akan melakukannya bersama dengan PBB," kata Trump.
Trump, yang akan memimpin langsung dewan tersebut, mengundang puluhan pemimpin dunia untuk bergabung.
Dia juga mendorong agar Dewan Perdamaian tidak hanya menangani isu Gaza, tetapi juga tantangan global lain di masa depan.
Namun, ajakan itu disambut dingin oleh sejumlah kekuatan besar dunia dan sekutu tradisional AS, yang memilih bersikap hati-hati atau menolak bergabung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Momen-Presiden-Prabowo-Subianto-menjabat-tangan-Presiden-AS-Donald-Trump.jpg)