Sosok 5 Pekerja Migran Indonesia Selamatkan Lansia Terjatuh ke Parit, Dipuji Polisi Jepang
Lima WNI di Jepang sigap menolong lansia yang jatuh ke parit saat cuaca dingin. Aksi kemanusiaan ini berbuah apresiasi resmi dari polisi Jepang
Ringkasan Berita:
- Lima pekerja migran Indonesia di Kumamoto, Jepang, menunjukkan kepedulian dengan menolong seorang lansia Jepang yang terjatuh ke parit di tengah suhu dingin.
- Mereka memberi perlindungan dari hawa dingin, menghubungi polisi, dan memastikan korban mendapat penanganan medis.
- Aksi kemanusiaan ini berujung apresiasi resmi dari kepolisian Jepang dan memperkuat citra positif Indonesia.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, KUMAMOTO — Kepedulian dan keberanian kembali ditunjukkan para pekerja migran Indonesia di Jepang.
Pada 15 Januari 2026 sekitar pukul 20.30 waktu setempat, lima warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sektor pertanian JA di wilayah Minami-ku, Kumamoto, menolong seorang perempuan lansia Jepang berusia sekitar 80 tahun yang terjatuh ke parit di tengah suhu dingin 10–11 derajat Celsius.
Kelima WNI tersebut adalah Pujiatun (Cilacap), Widyawati Firda Saputri (Cilacap), Novita Rohmah Danti (Banyumas), Nira Nur Marisa (Purwakarta), dan Elly Widyawati (Ponorogo).
Saat kejadian, Puji, Widya, dan Novita menjadi yang pertama melihat sang nenek dalam kondisi berdiri lama di dalam parit, tanpa sarung tangan dan tanpa penutup kepala, tampak kesulitan dan kedinginan.
"Sang nenek terdengar minta tolong - tasukete tasukete - lalu kita berhenti saat bersepeda, dan langsung membantu sang nenek," papar Novita kepada Tribunnews.com.
Menyadari kondisi darurat, mereka segera mencari bantuan. Pertama memanggil Nira dan Elly yang keduanya bisa bahasa Jepang.
Kemudian lokasi koban (pos polisi kecil) berjarak sekitar 10 menit dikunjungi Nira dan Elly.
Baca juga: Pekerja Asing di Jepang Tembus Rekor 2,57 Juta Orang, Indonesia Naik 34,6 Persen
"Di Koban tak ada polisi hanya catatan tolong telepon ke nomor 110," papar Nira juga kepada Tribunnews.com.
Para WNI kemudian menghubungi polisi, menjelaskan bahwa ada seorang nenek jatuh ke parit.
Sekitar 30 menit kemudian, dua petugas polisi tiba di lokasi mengendarai mobil polisi.
"Karena sang nenek tidak mengetahui nomor telepon keluarganya dan alamat rumahnya maka polisi meminta sang nenek menuliskan namanya dalam kanji," tambah Nira.
Para penolong WNI itu membantu menjelaskan kondisi di lapangan saat penemuan kepada dua polisi yang datang tadi.
Ambulans akhirnya dipanggil untuk memberikan penanganan medis dan kelima WNI pulang ke rumah masing-masing.
Selama menunggui nenek, para WNI tersebut menutupi tubuh nenek dengan jas hujan untuk mengurangi paparan dingin, bahkan melindungi bagian kaki agar tetap hangat.
"Bahkan kita kasih sarung tangan dan topi biar tidak kedinginan. Kakinya pun kita tutupi dengan jas hujan pula," ungkap mereka.
Setelah memastikan nenek mendapatkan pertolongan, mereka kembali pulang dan besoknya bekerja seperti biasa.
Aksi kemanusiaan ini mendapat perhatian serius.
Pihak perusahaan (kaisha) memanggil para WNI besoknya (16/1/2026) karena adanya laporan dari polisi.
Pada 22 Januari, polisi mendatangi perusahaan untuk meminta keterangan kronologi kejadian, lalu diminta hadir ke kantor polisi Kumamoto Minami tanggal 29 Januari.
Kemudian pada 29 Januari, para penolong WNI tersebut diundang dan datang ke kantor kepolisian serta disambut dengan hangat. Mereka akhirnya mendapatkan apresiasi resmi (kansha-jo) atas tindakan cepat dan penuh empati yang mereka lakukan itu.
Baca juga: Menolong Wanita Lansia, 5 Pemagang Pertanian WNI Dapat Penghargaan Polisi Kumamoto Minami Jepang
Bekerja di JA, Mengemas Hasil Pertanian
Kelima WNI ini bekerja di lingkungan JA (Japan Agricultural Cooperatives), dengan tugas harian antara lain packing terong, melon, tomat, paprika, dan pare.
Di sela rutinitas kerja yang padat, mereka tetap menunjukkan nilai kemanusiaan yang tinggi.
"Mereka memang bekerja dengan rajin dan sangat baik, kami senang sekali. Di sini kami mempekerjakan 24 orang Indonesia sejak 2023 hingga kini," papar pimpinan perusahaan mereka, Uchida, khusus kepada Tribunnews.com
Tempat kerja mereka bernama Fasilitas Sortir Sayuran Kota Kumamoto JA (Pusat Pertanian).
Harapan dan Cita-cita
Di balik aksi heroik itu, yang disambut tepuk tangan sangat meriah di kantor/ perusahaannya, ternyata masing-masing memiliki kisah dan harapan.
Pujiatun telah bertunangan dan bercita-cita menjadi pribadi yang berguna selama bekerja lama di Jepang, menabung, lalu berusaha mandiri di Indonesia.
Widya berharap bisa tinggal dan bekerja lebih lama di Jepang, meraih kestabilan ekonomi, membahagiakan orang tua, dan membangun keluarga.
Novita Rohmah Danti berencana memberikan umrah untuk orang tua lewat Jepang agar lebih mudah berangkat danpunya niat pula untuk berkeliling Jepang.
Nira menargetkan kesuksesan ekonomi dan pengembangan usaha di Indonesia khususnya membuat peternakan kambing setelah mendapat modal dari Jepang serta membiayai keluarganya yang ada di Indonesia. Selain itu juga ingin pergi beribadah ke tanah suci sekeluarga.
Elly ingin menyekolahkan anaknya hingga cita-cita tercapai penuh serta menjaga kesehatan sang ibu. Selain itu impiannya ditambah pula ingin pergi beribadah ketanah suci bersama suaminya.
Kelima WNI tersebut memiliki satu target yang sama yaitu ingin mencapai tingkat Tokutei Ginou (TG2) yang saat ini masih di tingkat TG1.
Peristiwa ini menjadi contoh nyata bahwa solidaritas lintas budaya dan nilai kemanusiaan dapat terwujud di mana saja.
Aksi para WNI tersebut tidak hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga memperkuat citra positif Indonesia di tengah masyarakat Jepang.
Diskusi loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/lansia-jepang122222.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.