Indonesia-Tiongkok Jalin Kemitraan untuk Transisi Energi Hijau dan Ketahanan Pangan
Indonesia–Tiongkok bermitra di energi hijau & pangan, dukung program Makan Bergizi Gratis dengan teknologi ramah lingkungan tanpa impor.
Ringkasan Berita:
- Indonesia dan Tiongkok menjalin kemitraan strategis di sektor energi hijau dan ketahanan pangan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Kerja sama ini terbatas pada transfer teknologi ramah lingkungan tanpa impor bahan pangan, dengan seluruh bahan, UMKM, dan tenaga kerja MBG tetap 100 persen lokal.
- Selain meningkatkan efisiensi produksi pangan, kemitraan ini juga mencakup pembangunan manufaktur kendaraan listrik guna mendorong ekonomi dan mengurangi polusi.
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG- Indonesia dan Tiongkok resmi menjalin kemitraan strategis di sektor energi hijau dan ketahanan pangan untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kerjasama ini hanya fokus kepada transfer teknologi ramah lingkungan dan peningkatan efisiensi produksi dalam negeri. Kerjasama tidak mencakup pada impor bahan-bahan pangan dari Tiongkok.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia Wilayah Jawa Barat, Riezka Rahmatiana menegaskan, kolaborasi tersebut tidak membuka kran impor pangan.Tapi sebatas pemanfaatan teknologi modern dari Tiongkok.
“MOU ini fokus pada dua sektor utama. Yakni energi hijau dan ketahanan pangan. Dari Tiongkok kita hanya mengambil teknologi, sistem dan kendaraan rendah polusi. Untuk program MBG, semuanya 100 persen lokal. Mulai dari UMKM, bahan baku hingga tenaga kerjanya,” kata Riezka Rahmatiana usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Kemitraan Strategis Indonesia–Tiongkok di Kota Bandung, Jumat (6/2/2026) malam.
Riezka menjelaskan, teknologi yang diadopsi akan di gunakan untuk meningkatkan efisiensi dapur produksi MBG, mempercepat proses pengolahan makanan. Sekaligus menekan konsumsi energi dan limbah operasional.
“Kita ingin produksi pangan semakin cepat, aman, efisien dan ramah lingkungan. Tidak ada barang impor untuk kebutuhan dapur, hanya teknologinya saja sebagai alat bantu,” katanya.
Selain di sektor pangan, kemitraan ini juga mencakup rencana pembangunan manufaktur kendaraan listrik di Indonesia. Langkah tersebut di nilai mampu membuka lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Manufaktur kendaraan elektrik akan di bangun di sini. Ini berarti ada penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi, sekaligus kontribusi terhadap pengurangan polusi,” ujarnya.
Menurut Riezka, fokus pada energi hijau menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya polusi dan dampak perubahan iklim.
“Dunia sudah semakin panas. Kita harus mengurangi hal-hal yang membahayakan bumi. Energi hijau bukan hanya soal teknologi. Tapi tanggung jawab kita menjaga lingkungan,” ucapnya.
Managing Director Newfront International Group, Kevin Wang menyampaikan, kerja sama ini lahir dari kesamaan visi Indonesia dan Tiongkok dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar kerja sama teknis. Ini adalah pilihan bersama yang berorientasi pada masa depan, menggabungkan potensi sumber daya Indonesia dengan keunggulan teknologi hijau Tiongkok,” ujar Kevin.
Ia menilai, Indonesia memiliki potensi besar di sektor energi terbarukan. Seperti tenaga surya, angin dan panas bumi. Sedangkan Tiongkok unggul dalam teknologi fotovoltaik, penyimpanan energi serta infrastruktur hijau.
“Sinergi ini akan membantu Indonesia mencapai target bauran energi terbarukan nasional sekaligus memperkuat pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Di sektor pangan, Kevin menyoroti pengalaman Tiongkok dalam pertanian modern. Mulai dari padi hibrida, mekanisasi hingga sistem pertanian digital yang di nilai relevan di terapkan di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Asosiasi-Pengusaha-dan-Pengelola-Makan-Bergizi-Gratis-Indonesia.jpg)