Pakistan Dilanda Rentetan Kekerasan, Upaya Penanggulangan Terorisme Hadapi Tantangan
Sebagai negara federal yang terdiri atas lima unit federasi, Pakistan membagi kewenangan penting, termasuk keamanan.
Ringkasan Berita:
- Pakistan dinilai bukan kekurangan kapasitas, tetapi lemah dalam konsistensi kebijakan akibat hubungan sipil-militer, serta koordinasi yang terfragmentasi antara pemerintah federal dan provinsi.
- Pengamat menilai pendekatan keamanan semata tidak cukup; Pakistan perlu hubungan sipil-militer yang transparan, kebijakan inklusif berbasis daerah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sejak berdiri sebagai negara merdeka, Pakistan terus berjuang mewujudkan kebijakan nasional yang berkelanjutan, walau hingga kini masih menghadapi beragam tantangan.
Dikutip dari The Citizen, Senin (9/2/2026), sejumlah pengamat menilai berbagai persoalan tersebut berakar dari lemahnya tata kelola pemerintahan, hubungan sipil-militer yang tegang, serta koordinasi yang terfragmentasi antara pemerintah federal dan provinsi.
“Pakistan bukan kekurangan kapasitas atau potensi, tetapi kekurangan konsistensi kebijakan akibat relasi sipil-militer yang tidak pernah benar-benar terlembagakan secara sehat,” ucap pengamat hubungan internasional dari International Islamic University Islamabad, Sheraz Wahid.
Sebagai negara federal yang terdiri atas lima unit federasi, Pakistan membagi kewenangan penting, termasuk keamanan, hak asasi manusia, dan kesejahteraan publik, antara pemerintah pusat dan provinsi.
Namun, friksi kelembagaan antara pemerintah sipil, otoritas provinsi, dan militer kerap melemahkan koherensi kebijakan nasional.
Dampaknya terlihat pada isu-isu seperti terorisme lintas batas, inflasi tinggi, serta volatilitas politik yang berkepanjangan.
Dilema tersebut kembali mencuat dalam perkembangan terbaru di Lembah Tirah, ketika pemerintah federal memutuskan melanjutkan operasi anti-terorisme.
Keputusan itu memicu ketegangan dengan pemerintah Khyber Pakhtunkhwa (KP), yang menyuarakan kekhawatiran atas dampak kemanusiaan, khususnya potensi pengungsian warga sipil.
“Setiap operasi keamanan di KP selalu membawa konsekuensi kemanusiaan yang nyata. Masalahnya bukan semata apakah operasi itu perlu, tetapi bagaimana keputusan diambil dan siapa yang menanggung bebannya,” ujar Wahid.
Ia menilai Khyber Pakhtunkhwa selama puluhan tahun menanggung beban keamanan.
Wilayah ini mengalami pemberontakan, serta operasi militer berulang.
Kondisi tersebut ditambah dengan bencana alam seperti banjir, gempa bumi, dan cuaca ekstrem yang semakin memperlemah ketahanan sosial-ekonomi masyarakat.
Sementara itu, wilayah strategis Pakistan seperti Balochistan dan Khyber Pakhtunkhwa dinilai masih belum aman meskipun intervensi militer dilakukan berulang kali.
Menurut Wahid, kondisi ini menunjukkan adanya masalah struktural.
“Ketika keamanan dijadikan solusi tunggal, negara berisiko terjebak dalam siklus kekerasan tanpa akhir,” ungkapnya.
Wahid menilai tantangan Pakistan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan keamanan.
Hubungan sipil-militer yang transparan dan terkoordinasi, serta kebijakan federal yang benar-benar memasukkan perspektif provinsi, dinilai menjadi kunci.
“Pendekatan top-down mungkin cepat, tetapi sering kali mahal secara sosial dan politik,” katanya.
Di tengah tekanan diplomatik dan geopolitik eksternal, Wahid mengingatkan bahwa prioritas domestik tidak boleh terabaikan.
Pertimbangan kemanusiaan dan kesejahteraan warga di wilayah konflik harus menjadi pusat pengambilan keputusan.
“Mengabaikan suara masyarakat lokal hanya akan memperpanjang ketidakstabilan,” sebutnya.
Setumpuk aksi bom bunuh diri
Peristiwa bom bunuh diri terjadi di masjid Shiite di Islamabad, Pakistan pada Jumat (6/2/2026) waktu setempat.
Dikutip dari ABC News, tragedi tersebut mengakibatkan 31 orang tewas dan ratusan orang luka-luka.
Adapun peristiwa ini terjadi ketika jemaah hendak menunaikan ibadah salat Jumat.
"Jumlah korban tewas dalam ledakan tersebut terus meningkat. Sebanyak 31 orang telah meninggal dunia. Jumlah korban yang dibawa ke rumah sakit telah meningkat menjadi 169," kata Wakil Komisaris Polisi Islamabad, Irfan Memon.
Sebelum tragedi tersebut terjadi, seorang saksi menyebut adanya baku tembak di luar masjid.
Dia mengatakan ada dua orang yang diduga pelaku pengeboman menembaki penjaga yang berjaga.
Baca juga: BREAKING NEWS : Bom Bunuh Diri Guncang Islamabad Pakistan, Menewaskan 31 Orang
Lalu, ada satu orang penyerang melarikan diri saat baku tembak terjadi. Sementara, pelaku lainnya berhasil merangsek masuk ke dalam masjid dan meledakkan dirinya.
"Dia hanya berhasil melewati gerbang saat tertembak peluru, dan saat jatuh ke tanah, dia meledakkan rompi bunuh dirinya," ujarnya, dikutip dari BBC.
Sementara, saksi lainnya bernama Zaheer Abbas juga mengaku mendengar baku tembak sebelum insiden bom bunuh diri terjadi.
Dia mengatakan sesaat setelah jemaah menunaikan salat, barulah terdengar ledakan yang membuat orang-orang terluka.
Tak lama setelah itu, polisi dan petugas penyelamat tiba dan membawa korban ke rumah sakit.
Abbas mengaku tidak mengalami luka parah akibat insiden tersebut.
Pengakuan serupa juga disampaikan oleh dua polisi yang berjaga, di mana para pelaku sempat hendak memaksa masuk ke dalam masjid. Namun, mereka sempat menahannya untuk tidak masuk.
Polisi pun masih melakukan penyelidikan terkait insiden ini. Di sisi lain, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri (PM) Shehbaz Sharif pun mengutuk serangan bom bunuh diri tersebut.
Mereka juga mengucapkan belasungkawa atas korban meninggal akibat insiden ini.
“Menargetkan warga sipil yang tak bersalah adalah kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Zardari.
“Bangsa ini berdiri bersama keluarga korban yang terdampak dalam masa sulit ini," kata Sharif.
Serangan Bom Bunuh Diri Pernah Terjadi Akhir Tahun Lalu
Sebelumnya, Pakistan juga sempat diguncang serangan bom bunuh diri pada 24 November 2025 lalu di Kota Peshawar.
Dikutip dari Aljazeera, tragedi tersebut terjadi di Markas Besar Pasukan Paramiliter Pakistan ketika dua pelaku meledakan dirinya sendiri.
Akibatnya, tiga petugas keamanan tewas dan 12 orang mengalami luka-luka.
Ketika itu, polisi menyebut ada dua pelaku lain yang membawa senjata dan hendak menyerang petugas keamanan.
Mereka pun berakhir tewas setelah ditembak oleh polisi.
"Pasukan keamanan menembak mati dua penyerang lain yang diduga terlibat," kata Kepala Polisi Peshawar Mian Saeed, dikutip dari The Guardian.
Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggungjawab atas insiden tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bendera-pakistan-islamabad.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.