Minggu, 10 Mei 2026

Rumah Sakit Musashi Kosugi Jepang Diserang Ransomware, Pelaku Tuntut Tebusan Rp16,47 Triliun

Serangan ransomware melumpuhkan Rumah Sakit Musashi Kosugi dan membocorkan data 10.000 pasien. Pakar menilai membayar tebusan bukan solusi

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
istimewa
KORBAN SERANGAN RONSOMWARE - Gedung Rumah Sakit Universitas Kedokteran Jepang Musashi Kosugi Tokyo. Rumah Sakit ini jadi korban serangan ransomware yang menyebabkan kebocoran data pribadi sekitar 10.000 pasien.  Kelompok pelaku menuntut tebusan sebesar 150 miliar yen atau Rp16,47 Triliun namun pihak rumah sakit menyatakan tidak akan memenuhi tuntutan tersebut. (IST) 

Ringkasan Berita:
  • Rumah Sakit Universitas Kedokteran Jepang Musashi Kosugi menjadi korban serangan ransomware yang menyebabkan kebocoran data pribadi sekitar 10.000 pasien 
  • Pelaku menuntut tebusan 150 miliar yen, namun pihak rumah sakit menolak 
  • Profesor Universitas Kobe Universitas Kobe, Masakatsu Morii, menegaskan pembayaran tidak menjamin pemulihan sistem maupun keamanan data

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Rumah Sakit Universitas Kedokteran Jepang Musashi Kosugi menjadi korban serangan ransomware yang menyebabkan kebocoran data pribadi sekitar 10.000 pasien. 

Kelompok pelaku menuntut tebusan sebesar 150 miliar yen atau Rp16,47 Triliun namun pihak rumah sakit menyatakan tidak akan memenuhi tuntutan tersebut.

Ransomware adalah jenis serangan siber yang mengenkripsi sistem sehingga operasional terhenti, lalu pelaku menuntut uang sebagai syarat pemulihan. 

*Serangan terhadap infrastruktur penting seperti fasilitas medis di Jepang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir," ungkap sumber Tribunnews.com di kepolisian Tokyo Senin (16/2/2026).

Dalam kasus ini, kebocoran data dan besarnya nilai tebusan membuat perhatian publik semakin besar.

Pakar: Membayar Tidak Menjamin Keamanan

Profesor kehormatan sekaligus profesor khusus Universitas Kobe, Masakatsu Morii, menegaskan bahwa tebusan seharusnya tidak dibayar. 

Alasannya, sekalipun dibayar, tidak ada jaminan sistem akan pulih sepenuhnya atau data pribadi yang dicuri tidak akan disebarkan atau dijual.

Sebagian pihak berpendapat bahwa pelaku kejahatan memiliki kepentingan menjaga kepercayaan agar korban lain tetap mau membayar. 

Namun Morii menolak pandangan tersebut, karena tidak realistis mengandalkan kepercayaan pada pelaku kriminal. 

Tidak ada cara untuk memastikan data yang telah bocor benar-benar dihapus setelah pembayaran.

Bahkan Jika Terkait Nyawa, Risiko Tetap Ada

Dalam kasus rumah sakit, gangguan sistem bisa berdampak langsung pada keselamatan pasien, sehingga ada yang menilai pembayaran tebusan mungkin tidak terhindarkan. 

Namun para ahli memperingatkan bahwa tidak ada jaminan proses dekripsi berhasil. 

Bahkan jika sistem sementara pulih, program berbahaya bisa saja masih tersisa dan memicu serangan ulang.

Karena itu, mengeluarkan dana besar tanpa kepastian pemulihan dinilai tidak rasional.

Memutus Sumber Dana Kejahatan
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved