Dewan Perdamaian
Misi Kemanusiaan TNI di Gaza: 1.000 Titik Pengungsian, Hadapi Ancaman Bahan Peledak
RI kirim 8.000 prajurit TNI ke Gaza, misi kemanusiaan di tengah 1.000 titik pengungsian dan ancaman peledak.
Pada Januari 2026, lebih dari 85 ribu keluarga menerima bantuan tempat tinggal berupa tenda, termasuk sekitar 5.500 keluarga yang dijangkau melalui distribusi antarkelompok yang menargetkan orang-orang paling terdampak banjir di pengungsian.
Kluster Penampungan OCHA melaporkan sebanyak 230 keluarga tinggal di bangunan yang berisiko tinggi runtuh.
Baca juga: Momen Trump Puji Prabowo saat Rapat Perdana Dewan Perdamaian: Saya Tidak Mau Melawannya
Ancaman Bahan Peledak
Klaster Perlindungan OCHA mencatat kondisi hidup yang genting mendorong sebagian masyarakat mengadopsi strategi bertahan hidup berisiko tinggi.
Strategi itu termasuk berlindung atau mencari kayu bakar dan bahan-bahan penting lainnya di antara puing-puing di lokasi yang berpotensi terkontaminasi bahan peledak (explosive ordnance/EO).
Mitra Mine Action (MA) mencatat 33 insiden terkait benda berdaya ledak yang mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia dan 65 cedera, termasuk anak-anak sejak perjanjian gencatan senjata Oktober 2025.
Selain itu lebih dari 700 benda berdaya ledak telah diidentifikasi sebagai ancaman bagi warga sipil dan upaya pemulihan sejak Oktober 2023.
Kerentanan Perempuan dan Anak-Anak
OCHA juga mencatat pengungsian yang berkepanjangan dan kondisi hidup yang memburuk meningkatkan stres psikologis dan risiko perlindungan termasuk kekerasan berbasis gender dan ketegangan kelompok.
Kerentanan yang dilaporkan meningkat berada di kelompok janda, rumah tangga yang dikepalai perempuan, keluarga besar dengan anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Pada Januari 2026, OCHA mencatat 46 anak tanpa pendamping atau terpisah dari keluarga mereka dipersatukan kembali dengan pengasuh mereka.
Sementara itu 74 anak lainnya ditempatkan di tempat perawatan alternatif sambil menunggu pencarian keluarga.
Tantangan Lansia
Mengutip penilaian HelpAge International baru-baru ini, terdapat tantangan khusus yang dihadapi oleh pengungsi lanjut usia.
Banyak di antara mereka hidup dengan penyakit kronis, disabilitas, dan mobilitas terbatas.
Tercatat lebih dari tiga perempatnya tinggal di tenda yang penuh sesak.
Selain itu banyak laporan mereka kesulitan mengakses makanan, obat-obatan, dan perawatan kesehatan
Kondisi itu diyakini meningkatkan risiko penurunan kesehatan dengan cepat.
Pengungsian berulang, privasi yang terbatas, dan ketergantungan pada bantuan diyakini semakin memperburuk kesejahteraan mereka.