Selasa, 14 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Berduka usai Khamenei Tewas, Deklarasikan 40 Hari Masa Berkabung dan 7 Hari Libur Nasional

Disebutkan bahwa Khamenei terbunuh di kantornya saat "menjalankan tugas yang diberikan kepadanya" pada Sabtu (28/2/2026) dini hari.

Penulis: Rifqah
Editor: Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
  • Dikutip dari Al Jazeera, selain 40 hari masa berkabung, Pemerintah Iran juga mengumumkan tujuh hari libur nasional usai Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran.
  • Disebutkan bahwa Khamenei terbunuh di kantornya saat "menjalankan tugas yang diberikan kepadanya" pada Sabtu (28/2/2026) dini hari.
  • Sebelum Khamenei dilaporkan tewas, media Iran juga melaporkan bahwa putri, menantu, dan cucu Khamenei tewas dalam serangan AS dan Israel

 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional, setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei tewas.

Dikutip dari Al Jazeera, selain masa berkabung, Pemerintah Iran juga mengumumkan tujuh hari libur nasional.

Nantinya, akan ada upacara yang direncanakan di kemudian hari menyusul pengumuman sebelumnya tentang masa berkabung selama 40 hari.

Upacara-upacara ini kemungkinan akan berlangsung di tengah bombardir yang terus berlanjut di seluruh negeri. 

Sebelumnya, Media Iran melaporkan bahwa Khamenei telah tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran.

Pada hari ini, Minggu (1/3/2026), media resmi milik Iran, Press TV, Kantor berita Tasnim dan Fars mengkonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Kemudian Kantor berita Fars Iran memberikan detail lebih lanjut tentang pembunuhan pemimpin tertinggi tersebut.

Disebutkan bahwa Khamenei terbunuh di kantornya saat "menjalankan tugas yang diberikan kepadanya" pada Sabtu (28/2/2026) dini hari.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sebelumnya telah mengumumkan Ali Khamenei meninggal setelah serangan udara gabungan AS-Israel menghantam kompleks kediamannya pada hari Sabtu (28/2/2026).

Sebelum Khamenei dilaporkan tewas, media Iran juga melaporkan bahwa putri, menantu, dan cucu Khamenei tewas dalam serangan AS dan Israel.

"Setelah menjalin kontak dengan sumber-sumber terpercaya di lingkungan kediaman Pemimpin Tertinggi, kabar tentang gugurnya putri, menantu, dan cucu pemimpin revolusioner sayangnya telah dikonfirmasi," demikian dilaporkan kantor berita Fars dan media Iran lainnya.

Baca juga: Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei Dilaporkan Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran

Kabar ini menyusul klaim Israel dan AS yang sebelumnya menyebut bahwa Ali Khamenei telah tewas dalam serangan Iran

Namun, klaim itu telah dibantah oleh Iran yang menyebutnya sebagai upaya untuk meruntuhkan mental pasukan.

Dikutip dari New York Times, citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan bangunan utama di kompleks kediaman Khamenei, yakni Beit-e Rahbari, dalam kondisi hancur total.  

Selain dikenal sebagai tempat tinggal Khamenei, Beit-e Rahbari juga merupakan lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran

Berdasarkan foto udara, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah. 

Analisis dari para ahli menunjukkan bahwa pola kawah dan dampak ledakan yang terlihat konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker (bunker-buster).  

Senjata jenis ini dirancang khusus untuk menembus lapisan beton bangunan guna menghancurkan fasilitas bawah tanah yang diperkuat.

Sekilas Tentang Khamenei

Dilansir Al Jazeera, lahir pada tahun 1939 di kota suci Syiah Mashhad di timur laut Iran, Khamenei adalah putra seorang pemimpin Muslim terkemuka dan etnis Azerbaijan dari negara tetangga Irak. 

Keluarga tersebut pertama kali menetap di Tabriz di barat laut Iran sebelum pindah ke Mashhad, tempat yang disukai oleh para peziarah agama, di mana ayah Khamenei memimpin sebuah masjid Azerbaijan.

Khamenei memulai pendidikannya pada usia empat tahun, mempelajari Al-Quran, dan menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah Islam pertama di Mashhad. 

Ia tidak menyelesaikan sekolah menengah atas, melainkan bersekolah di sekolah teologi dan belajar dari ulama Islam terkemuka pada masanya, seperti ayahnya, dan Syekh Hashem Ghazvini. 

Pada tahun-tahun berikutnya, ia melanjutkan studinya di pusat-pusat pendidikan tinggi Syiah yang lebih bergengsi di Najaf dan Qom.

Khamenei diketahui mengambil alih kepemimpinan Republik Islam pada tahun 1989 setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang telah mempelopori revolusi Islam satu dekade sebelumnya.

Meskipun Khomeini adalah kekuatan ideologis di balik revolusi yang mengakhiri kekuasaan monarki Pahlavi, Khamenei-lah yang membentuk aparat militer dan paramiliter yang menjadi pertahanan Iran terhadap musuh-musuhnya, dan memberinya pengaruh yang meluas jauh melampaui perbatasannya.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei telah memimpin Iran sebagai presiden melalui perang berdarah dengan Irak pada tahun 1980-an. 

Konflik yang berkepanjangan, ditambah dengan rasa isolasi di antara banyak warga Iran karena negara-negara Barat mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat secara umum dan Amerika Serikat secara khusus, kata para analis.

Sentimen tersebut akan menjadi landasan pemerintahannya yang berlangsung selama beberapa dekade dan memperkuat gagasan bahwa Iran harus tetap dalam keadaan siaga terus-menerus terhadap ancaman eksternal dan internal.

Iran diserang

Adapun, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang memicu ledakan di ibu kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan. 

Tak lama setelah itu, Donald Trump kemudian mengunggah pernyataan video yang mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi. 

Dari laporan lapangan menunjukkan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang merupakan lokasi kediaman Khamenei.  

Otoritas Iran pun segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota. 

Pihak AS dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer. 

Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari korban jiwa.  

Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.

(Tribunnews.com/Rifqah)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved