Minggu, 26 April 2026

Pakar Imigrasi Nilai Pengetatan WNA ke Jepang Tak Realistis dan Berisiko Rugikan Daerah

Pengetatan warga asing di era Sanae Takaichi dikritik pakar karena dinilai tak sesuai kebutuhan ekonomi Jepang

Editor: Eko Sutriyanto
Amazon
PENGETATAN WNA - Pakar Imigrasi, Yu Korekawa mengatakan, kebijakan pengetatan terhadap warga asing yang digagas pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dinilai tidak sesuai dengan realitas di lapangan dan berpotensi merugikan daerah yang justru sangat bergantung pada tenaga kerja asing. Bahkan bisa memukul ekonomi daerah di Jepang. (Amazon) 

“Kenaikan jumlah warga asing sama sekali tidak menyebabkan penurunan keamanan. Bahkan dalam banyak kasus justru menunjukkan tren perbaikan,” jelasnya.

Di daerah, kebijakan pembatasan terhadap pekerja asing bahkan dianggap sebagai ancaman serius. 

Banyak pemerintah daerah menilai tenaga kerja asing telah menjadi tulang punggung berbagai sektor industri lokal.

Konferensi gubernur seluruh Jepang juga menekankan pentingnya penyebaran informasi yang akurat mengenai warga asing agar masyarakat dapat berdiskusi secara rasional.

Menurut Korekawa, jika Jepang menghentikan penerimaan tenaga kerja asing, dampaknya terhadap ekonomi akan sangat besar. 

Bahkan dengan kemajuan teknologi seperti AI dan robot, peningkatan produktivitas saja tidak akan cukup untuk menutupi penurunan jumlah tenaga kerja akibat penurunan populasi.

Sebuah studi oleh Japan Center for Economic Research memperkirakan bahwa jika Jepang berhenti menerima pekerja asing, perekonomian negara itu dapat mengalami pertumbuhan negatif secara permanen mulai akhir 2030-an.

Baca juga: Dua Peraih Nobel Jepang Berbeda Pandangan soal AI

Meski upah minimum di Jepang relatif rendah dibanding negara maju lainnya, Jepang tetap menarik bagi pekerja asing karena memiliki struktur industri yang lengkap dari industri ringan hingga teknologi tinggi.

“Jepang memiliki ekosistem industri yang lengkap. Ada banyak jenis pekerjaan untuk tenaga kerja tingkat menengah yang tidak selalu tersedia di negara lain seperti Korea Selatan atau Taiwan,” kata Korekawa.

Karena itu, ia memperingatkan bahwa pesan politik yang terlalu menekankan pembatasan terhadap warga asing dapat memberikan sinyal negatif kepada tenaga kerja global.

“Jika Jepang menutup pintu terhadap mereka yang sebenarnya ingin datang bekerja, itu akan menjadi keputusan yang sangat disayangkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah memperkuat kebijakan integrasi sosial, termasuk meningkatkan pendidikan bahasa Jepang dan memperluas praktik terbaik dari daerah yang telah berhasil mengelola masyarakat multikultural.

Menurutnya, tanpa langkah tersebut, Jepang berisiko kehilangan kesempatan penting untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah penurunan populasi yang semakin cepat.

Diskusi  beasiswa  di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved