Selasa, 14 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Perang AS-Israel Vs Iran, Ukraina Usul Barter Senjata di Timur Tengah

Di tengah perang AS-Iran, Presiden Ukraina Zelenskyy mengusulkan barter senjata dengan negara-negara di Timur Tengah.

Editor: Nuryanti
Kantor Kepresidenan Ukraina
ZELENSKY - Foto ini diambil pada Rabu (19/3/2025) dari publikasi resmi Kantor Presiden Ukraina, memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb (tidak terlihat dalam foto) di Helsinki pada Rabu (19/3/2025). -- Di tengah perang AS-Iran, Presiden Ukraina Zelenskyy mengusulkan barter senjata dengan negara-negara di Timur Tengah. 

Sejak tahun lalu, AS telah memperingatkan akan mengambil “opsi militer” jika Iran tidak memenuhi tuntutan dalam perundingan.

Bahkan, pada tahun sebelumnya, AS sempat menyerang fasilitas nuklir Iran untuk membantu Israel dalam serangan selama 12 hari terhadap negara itu. Tekanan tersebut disebut-sebut untuk memaksa Iran mengikuti keinginan Washington.

Meski hubungan sempat memanas akibat serangan tersebut, AS dan Iran kembali duduk di meja perundingan.

Oman yang menjadi mediator menyebut ada “kemajuan signifikan” dalam pembicaraan di Jenewa. Namun, kedua pihak tetap gagal menyepakati poin-poin penting sehingga belum tercapai kesepakatan final dan pembahasan lanjutan direncanakan.

Harapan tercapainya kesepakatan pupus setelah AS dan Israel tiba-tiba kembali menyerang Iran pada Sabtu lalu. Serangan itu membuat Iran memutuskan mundur dari proses perundingan.

Sebelumnya, pada 2015, Iran dan sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, pernah menyepakati perjanjian nuklir bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Dalam kesepakatan itu, Iran setuju membatasi program nuklirnya agar tidak berkembang menjadi senjata, sebagai imbalan atas pencabutan sebagian sanksi internasional.

Namun pada 2018, Amerika Serikat keluar dari perjanjian tersebut. Keputusan itu kembali memicu ketegangan dan membuat upaya negosiasi selanjutnya kerap menemui jalan buntu.

Washington terus menekan Iran agar menghentikan pengayaan uranium karena dikhawatirkan bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir, tuduhan yang dibantah Iran.

Sementara itu, Teheran menilai tuntutan tersebut melanggar hak kedaulatannya dan bersikeras bahwa pengayaan uranium tetap sah selama diawasi lembaga internasional.

AS pun menginginkan pembatasan yang lebih ketat agar program nuklir Iran tidak bisa disalahgunakan untuk kepentingan militer.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved