Iran Vs Amerika Memanas
Pensiunan Jenderal TNI Ungkap Data Intelijen: Stok Uranium Iran Setara 12 Bom Hiroshima–Nagasaki
Intelijen ungkap Iran punya uranium 440–460 kg yang teorinya bisa setara hingga 12 bom Hiroshima-Nagasaki, memicu kekhawatiran global
“Bilamana kita semuanya baik-baik saja, saya yakin negara kita aman-aman,” tambah dia.
Menanggapi pertanyaan soal ketimpangan perlakuan internasional terhadap kepemilikan nuklir—mengapa sebagian negara diperbolehkan dan sebagian lain tidak—Iskandar menyebut bahwa setiap keputusan pasti didasarkan pada kajian intelijen dan rekam jejak masing-masing negara.
“Tidak mungkin semua itu langsung diputuskan tanpa track record. Dalam nuklir atau senjata pemusnah massal pasti ada kajian intelijen yang sangat dalam,” tegasnya.
Terlepas dari perdebatan tersebut, Iskandar kembali menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi eskalasi senjata pemusnah massal.
Baginya, isu nuklir bukan sekadar polemik geopolitik, melainkan menyangkut ancaman nyata terhadap stabilitas global.
“Saya berbicara tentang tentara, tentang bagaimana senjata nuklir yang sangat berbahaya ini,” katanya, dengan seruan agar diplomasi tetap diutamakan sebelum dunia kembali terjerumus dalam konflik yang lebih luas.
Komentar Rocky Gerung
Dalam diskusi yang sama, akademisi Rocky Gerung mengingatkan bahwa validitas data intelijen kerap baru terungkap puluhan tahun kemudian.
Dia mencontohkan sejumlah dokumen sejarah yang baru dibuka dua dekade setelah peristiwa terjadi.
Karena itu, menurutnya, publik perlu berhati-hati dalam menyikapi klaim intelijen yang belum sepenuhnya terverifikasi.
Rocky juga berpandangan bahwa dalam perspektif realisme politik, perang kerap dianggap sebagai keniscayaan.
“Damai adalah jarak di antara dua perang,” jelasnya.
Ia menilai, variabel politik domestik di Amerika Serikat maupun Israel turut memengaruhi arah kebijakan luar negeri masing-masing negara.
(Tribunnews.com/Chrysnha)