Iran Vs Amerika Memanas
Pezeshkian Puji Keberanian Spanyol yang Tolak Dukung AS untuk Serang Iran
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian memuji keberanian Spanyol yang menolak untuk membantu AS dalam menyerang Iran.
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran, Masoud Pezeshkian memuji pemerintah Spanyol yang berani menolak untuk memberikan bantuan kepada AS dalam serangan ke Iran.
- Pezeshkian menyebut langkah Spanyol sebagai bukti bahwa nurani dan etika masih hidup di dunia Barat.
- Selain memuji Spanyol, Pezeshkian juga mengirimkan pesan khusus kepada para pemimpin negara-negara tetangga Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Spanyol yang dinilai berani mengambil sikap tegas di tengah memanasnya konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Spanyol secara terang-terangan menolak wilayahnya dijadikan batu loncatan bagi serangan militer terhadap Teheran.
Dalam pernyataan resminya, Pezeshkian menyebut langkah Spanyol sebagai bukti bahwa nurani dan etika masih hidup di dunia Barat.
"Perilaku bertanggung jawab pemerintah Spanyol dalam menghadapi pelanggaran HAM nyata dan agresi militer ini menunjukkan bahwa kesadaran nurani masih ada."
"Kami sangat berterima kasih atas posisi mereka," ujar Pezeshkian melalui akun media sosial X miliknya, mengutip WANA.
Selain memuji Spanyol, Pezeshkian juga mengirimkan pesan khusus kepada para pemimpin negara-negara tetangga Iran.
Ia menekankan Iran sebenarnya ingin menghindari perang melalui jalur diplomasi.
Namun, serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel baru-baru ini membuat Iran terpaksa melakukan pembelaan diri.
Pezeshkian meyakinkan negara-negara sekitar Iran tetap menghormati kedaulatan wilayah mereka sepenuhnya.
Ia pun mengajak para pemimpin di kawasan untuk bersatu menjaga perdamaian tanpa perlu campur tangan pihak luar.
"Kami tetap percaya bahwa perdamaian regional harus dijamin oleh negara-negara di kawasan ini sendiri," pungkasnya.
Baca juga: Di Tengah Perang Timur Tengah, Netanyahu Mulai Khawatir Trump ‘Main Belakang’ dengan Iran
Ketegangan AS-Spanyol
Setelah mendapatkan penolakan dari Spanyol, Presiden AS, Donald Trump ngamuk dan memberikan ancaman.
"Kami akan stop semua perdagangan dengan Spanyol."
"Kami tidak mau berurusan lagi dengan mereka," tegas Trump, mengutip AP News.
Ketegangan ini bermula saat Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menyatakan negaranya tidak akan mengizinkan pangkalan militer di selatan Spanyol digunakan untuk serangan yang tidak sesuai dengan piagam PBB.
Keputusan ini jelas menghambat manuver AS dan Israel yang tengah melancarkan serangan terhadap Iran.
Meski dilarang, Trump dengan gaya khasnya mengklaim tetap bisa menggunakan pangkalan tersebut secara sepihak.
"Kalau mau, kami bisa terbang ke sana dan memakainya begitu saja."
"Tidak ada yang bisa melarang, tapi kami tidak harus melakukannya," ketusnya.
Selain urusan pangkalan, Trump juga mengungkit "dosa" Spanyol lainnya, yakni keengganan Madrid menaikkan anggaran pertahanan NATO hingga 5 persen dari PDB.
Spanyol bersikeras hanya sanggup di angka 2,1 persen, sebuah keputusan yang membuat Trump meradang.
Baca juga: Gara-gara Konflik Iran, Dialog Damai Ukraina-Rusia Macet, Zelensky Ngaku Kecewa
Spanyol di bawah Perdana Menteri Pedro Sánchez memang dikenal memiliki haluan politik yang berbeda dengan Trump.
Sebagai salah satu pemimpin progresif terakhir di Eropa, Sánchez vokal mengkritik serangan Israel di Gaza, yang sangat kontras dengan kebijakan luar negeri AS saat ini.
Sumpah Trump untuk Hancurkan Iran
Sementara itu, Trump secara terang-terangan menyatakan bakal menghancurkan pemerintah Iran tanpa ampun.
Melalui serangan udara masif, AS mengklaim tengah berada di ambang kemenangan total dalam kampanye militernya.
Kepala Pentagon, Pete Hegseth, memberikan pernyataan provokatif dengan menyebut militer AS kini bergerak tanpa batasan.
"Jet-jet tempur kita menguasai langit Iran 24 jam sehari. Iran tidak bisa berkutik," tegas Hegseth kepada awak media, Rabu (4/3/2026), mengutip Al Jazeera.
Hegseth tak menampik serangan ini mengakibatkan kehancuran luar biasa. Ia bahkan menyebut perang ini sengaja dibuat tidak seimbang.
"Kami menghantam mereka saat mereka sedang jatuh, dan itulah cara yang benar untuk menang," tambahnya.
Senada dengan Pentagon, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan serangan belum akan berakhir.
AS berencana "menghujani" titik-titik krusial di Iran dengan rudal dalam waktu dekat guna memastikan dominasi penuh.
"Dalam hitungan jam, militer AS akan menjatuhkan senjata dan rudal ke target-target strategis yang sudah dipetakan oleh Departemen Perang," kata Leavitt.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.