Iran Vs Amerika Memanas
Di Tengah Perang Timur Tengah, Netanyahu Mulai Khawatir Trump ‘Main Belakang’ dengan Iran
Netanyahu curiga Trump gelar pembicaraan rahasia dengan Iran, memicu gesekan di tengah perang Timur Tengah.
Ringkasan Berita:
- Di tengah perang Timur Tengah, PM Israel Benjamin Netanyahu mencurigai pemerintahan Donald Trump menjalin pembicaraan rahasia dengan Iran soal gencatan senjata.
- Gedung Putih membantah, sementara Trump menolak negosiasi.
- Israel terus menargetkan tokoh utama Iran, memicu kerugian ekonomi hingga $3 miliar per minggu.
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah perang yang berkecamuk di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan khawatir pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump menjalin pembicaraan rahasia dengan Iran.
Menurut laporan Axios, Netanyahu mendekati Gedung Putih setelah menerima intelijen yang menyebut pemerintahan Trump berbicara dengan Iran mengenai kemungkinan gencatan senjata.
Gedung Putih menegaskan kepada Netanyahu bahwa tidak ada pembicaraan semacam itu.
Kecurigaan ini menyinggung potensi gesekan antara sekutu yang baru saja melancarkan serangan bersama terhadap rezim Iran.
Netanyahu diyakini khawatir perang berakhir sebelum Israel mencapai tujuan militernya.
The New York Times melaporkan bahwa intelijen Iran sempat menghubungi CIA untuk membahas syarat mengakhiri perang, namun tawaran itu dipandang skeptis oleh AS.
Netanyahu kemudian kembali mendekati Gedung Putih dan diyakinkan bahwa tidak ada komunikasi dengan Teheran.
Seorang pejabat AS menyebut utusan perdamaian Steve Witkoff dan Jared Kushner berbicara dengan Netanyahu hampir setiap hari. Mereka menegaskan: “Kami tidak berbicara dengan Iran.”
Trump sendiri menolak pembicaraan dengan rezim Iran.
Di Truth Social ia menulis: “Pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, dan kepemimpinan mereka sudah hancur. Mereka ingin berbicara. Saya bilang ‘terlambat!’”
Pemerintahan Trump menyatakan tujuan perang adalah menghancurkan program nuklir, kemampuan rudal balistik, dan angkatan laut Iran, serta melemahkan kelompok proksi mereka di Timur Tengah.
Meski tidak secara eksplisit menyebut ingin mengganti rezim, Trump menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan: “Itu akan menjadi milik kalian.”
Israel, sebaliknya, menargetkan tokoh-tokoh utama rezim. Pada Sabtu pagi, Israel membunuh Ayatollah Ali Khamenei dengan menjatuhkan puluhan bom di kompleksnya di pusat Teheran.
Hingga Rabu, Gedung Putih menyebut 49 tokoh senior Iran telah tewas sejak konflik dimulai.
Trump kemudian menyebut skenario “sempurna” baginya adalah sistem seperti Venezuela, di mana Delcy Rodriguez mengambil alih setelah AS menangkap Nicolas Maduro.