Iran Vs Amerika Memanas
Perang Iran Picu Krisis Energi Global, AS Terpaksa Buka Keran Minyak Rusia, Akan Cabut Sanksi?
Konflik Iran dan AS memicu lonjakan harga minyak dunia. Washington kini mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak Rusia.
Ringkasan Berita:
- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengguncang pasar energi global.
- Pemerintahan Presiden Donald Trump mempertimbangkan mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia untuk menambah pasokan energi.
- Konflik di Timur Tengah juga mengganggu pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas dan mulai berdampak besar terhadap pasar energi global.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran membuat sektor energi dunia terguncang dan memicu lonjakan harga minyak.
Dilansir dari The Guardian, Sabtu (7/3/2026), pemerintah Amerika Serikat kini mempertimbangkan untuk mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia guna menambah pasokan energi global.
Langkah ini diambil setelah harga minyak dunia melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah AS Pertimbangkan Cabut Sanksi
Pada Jumat (6/3/2026), Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan Washington sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi terhadap sejumlah perusahaan minyak Rusia.
Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat ratusan juta barel minyak mentah Rusia yang tidak bisa dipasarkan karena terkena sanksi internasional.
“Kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia lainnya,” kata Bessent dalam wawancara dengan Fox Business, dikutip dari The Guardian.
Menurutnya, jika sebagian pembatasan tersebut dicabut, minyak yang saat ini tertahan di laut dapat segera masuk ke pasar global.
“Pada dasarnya, dengan mencabut sanksi tersebut, Departemen Keuangan dapat menciptakan tambahan pasokan minyak,” ujarnya.
Baca juga: AS Kirim Sistem Anti-Drone ke Timur Tengah untuk Lawan Drone Iran, Ukraina Siap Berbagi Pengalaman
Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat menegaskan kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk melonggarkan tekanan terhadap Rusia secara keseluruhan.
Sanksi terhadap Rusia sebelumnya diberlakukan karena konflik negara tersebut dengan Ukraina.
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak
Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran juga berdampak langsung terhadap stabilitas pasar energi dunia.
Serangan militer serta balasan dari Teheran di kawasan Teluk membuat sektor transportasi dan energi global mengalami gangguan serius.
Dilansir dari The Straits Times, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz bahkan hampir terhenti akibat ketegangan tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman energi yang sangat penting bagi dunia.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak global setiap hari biasanya melewati jalur laut ini.
Ketika jalur tersebut terganggu, pasokan energi global langsung terdampak dan memicu lonjakan harga.
Data pasar menunjukkan harga minyak mentah naik sekitar 8,5 persen dalam satu hari dan hampir 30 persen sepanjang pekan terakhir.
Lonjakan harga tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik di Timur Tengah hanya akan berakhir jika Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik dapat semakin meluas dan mengganggu pasokan energi dunia.
India Diizinkan Membeli Minyak Rusia
Sebelumnya, pada Kamis (5/3/2026), pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah sementara dengan melonggarkan sebagian sanksi energi.
Dilansir dari The Hill, Washington mengizinkan India membeli minyak Rusia yang saat ini tertahan di laut.
“Departemen Keuangan setuju untuk mengizinkan sekutu kami di India mulai membeli minyak Rusia yang sudah berada di perairan,” kata Bessent.
Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk mengurangi tekanan pada pasar energi global yang sedang mengalami kekurangan pasokan.
Baca juga: Selain Selat Hormuz, Ini 5 Jalur Perdagangan Dunia yang Sangat Vital
Menurutnya, izin tersebut hanya bersifat sementara dan tidak akan memberikan keuntungan finansial besar bagi pemerintah Rusia.
Dalam unggahannya di platform X, Bessent juga menyebut langkah tersebut hanya berlaku untuk minyak yang sudah berada di laut dan tidak membuka kontrak baru.
Pemerintah AS menyatakan kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung.
Dampak Global Konflik Iran
Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga pada perekonomian global.
Lonjakan harga minyak membuat banyak negara mulai khawatir terhadap potensi krisis energi baru.
Sementara itu, penasihat ekonomi Kremlin Kirill Dmitriev mengatakan pihaknya sedang membahas isu tersebut dengan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya di media sosial X, Dmitriev menyebut sanksi Barat selama ini justru merugikan ekonomi global.
Menurut laporan AFP yang dikutip sejumlah media internasional, izin pembelian minyak Rusia oleh India akan berlaku hingga 3 April 2026.
Para analis menilai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran telah memberikan tekanan besar terhadap pasar energi dunia.
Jika ketegangan terus meningkat, harga minyak global diperkirakan akan semakin bergejolak dalam beberapa waktu ke depan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.