Iran Vs Amerika Memanas
Filipina Ambil Langkah Darurat, Terapkan Sistem Kerja 4 Hari Kerja Buntut Perang Iran vs AS-Israel
Filipina terapkan sistem kerja 4 hari dan penghematan energi untuk antisipasi lonjakan harga BBM dan krisis ekonomi dampak perang Iran vs AS–Israel.
Ringkasan Berita:
- Filipina menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan di kantor pemerintah sebagai langkah darurat menghadapi dampak konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
- Presiden Ferdinand Marcos Jr. juga memerintahkan penghematan energi 10–20 persen di instansi pemerintah, termasuk pembatasan kendaraan dinas.
- Filipina rentan terdampak karena bergantung pada impor minyak Timur Tengah, sehingga kenaikan harga minyak global memicu lonjakan biaya transportasi, listrik, hingga harga kebutuhan pokok.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Filipina mengambil langkah darurat dengan menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan di seluruh kantor pemerintah, berlaku mulai Senin (9/2/2026)
Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr. sebagai respons terhadap potensi lonjakan harga energi akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dalam pernyataan yang dikutip dari CNA, Marcos menyebut kebijakan sistem 4 hari kerja dalam seminggu diberlakukan untuk menghemat energi sekaligus menekan dampak ekonomi yang timbul akibat ketidakstabilan pasar minyak global.
Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dikhawatirkan memicu gangguan distribusi energi dunia yang pada akhirnya berdampak langsung pada negara-negara pengimpor minyak seperti Filipina.
Pemerintah Filipina memprediksi kenaikan harga bahan bakar bisa terjadi mulai pekan depan. Harga bensin diperkirakan naik sekitar 7,48 peso per liter, sementara solar berpotensi meningkat hingga 17,28 peso per liter.
Adapun harga minyak tanah diprediksi mengalami lonjakan paling tinggi, yakni sekitar 32,35 peso per liter. Jika dikonversi, kenaikan tersebut setara dengan sekitar 13 hingga 55 sen dolar Amerika Serikat per liter.
Lonjakan harga bahan bakar tersebut dikhawatirkan akan meningkatkan biaya transportasi, produksi, hingga harga kebutuhan pokok yang pada akhirnya memperberat beban ekonomi masyarakat.
Penghematan Energi Jadi Prioritas Nasional
Serangkaian kekhawatiran itu yang mendorong pemerintah Filipina menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan, selain itu Filipina juga mengeluarkan kebijakan penghematan energi di seluruh instansi negara.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan seluruh lembaga pemerintah untuk menurunkan konsumsi energi antara 10 hingga 20 persen dalam waktu dekat.
Penggunaan kendaraan dinas akan dibatasi untuk menekan konsumsi bahan bakar, sementara penggunaan listrik di kantor-kantor pemerintah juga diminta untuk dikurangi melalui pengaturan operasional yang lebih hemat energi.
Pemerintah juga memutuskan untuk menghentikan sementara sejumlah kegiatan yang dinilai membutuhkan konsumsi energi tinggi, termasuk perjalanan dinas tertentu yang tidak bersifat mendesak.
Baca juga: Trump Tak Masalah Rusia Bantu Iran Beri Informasi soal Posisi Aset AS di Timteng: Manfaatnya Sedikit
Lebih lanjut berbagai kegiatan yang melibatkan perjalanan seperti studi banding maupun program penguatan tim atau team building yang biasanya dilakukan di luar kota juga dilarang untuk sementara waktu.
Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk menekan penggunaan bahan bakar dan listrik di sektor pemerintahan agar dampak ekonomi dari gejolak harga energi global dapat diminimalkan.
“Kita adalah korban dari perang yang bukan pilihan kita,” kata Marcos dalam pernyataan resminya.
Ia menegaskan bahwa meskipun Filipina tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, pemerintah tetap harus mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional serta melindungi kesejahteraan rakyat dari dampak krisis energi global.