113 Tenaga Asing, Termasuk Indonesia, Ikuti Pelatihan Industri Kereta Jepang
JR East latih 113 tenaga kerja asing di Fukushima agar lulus sertifikasi Tokutei Ginou, siap kontribusi di industri kereta Jepang
Ringkasan Berita:
- JR East menggelar “Program Pengembangan Tenaga Kerja Berketerampilan Khusus” di Shirakawa, Fukushima, dengan 113 peserta dari Indonesia, Vietnam, dan negara lain
- Pelatihan empat minggu fokus pada perawatan kereta dan rel, untuk lulus ujian Tokutei Ginou Level 1
- Program ini digelar dua kali setahun mulai 2026.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, FUKUSHIMA - Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor perkeretaapian, perusahaan JR East (East Japan Railway Company) meluncurkan program pelatihan tenaga kerja asing yang melibatkan 113 peserta dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.
Program yang disebut “Program Pengembangan Tenaga Kerja Berketerampilan Khusus” ini mengumpulkan 113 peserta dari Indonesia, Vietnam, dan negara lainnya.
Pelatihan dilaksanakan di Kota Shirakawa, Prefektur Fukushima, dan berlangsung selama sekitar empat minggu.
Dalam program ini para peserta mempelajari berbagai keterampilan teknis, seperti perawatan kereta dan pemeliharaan rel, dengan tujuan lulus ujian “Specified Skilled Worker (Tokutei Ginou) level 1” yang memungkinkan mereka bekerja di industri perkeretaapian Jepang.
Salah satu peserta pelatihan mengatakan bahwa pengalaman ini sangat berharga.
“Saya ingin mempelajari teknologi tinggi di Jepang. Jika nanti kembali ke Indonesia, saya ingin menggunakan ilmu ini untuk berkontribusi pada perkembangan perkeretaapian di negara saya,” ujarnya.
Baca juga: Jepang Diprediksi Kekurangan 570.000 Perawat pada Tahun 2040, Kebutuhan Tenaga Asing Meningkat Tajam
Program Dimulai Tahun 2025
Program ini pertama kali diperkenalkan secara uji coba oleh JR East pada tahun 2025 setelah perusahaan mengajak berbagai operator kereta di Jepang untuk berpartisipasi.
Hingga saat ini, 23 orang lulusan program telah bekerja di perusahaan-perusahaan terkait perkeretaapian.
Menurut Naoyuki Sakaguchi, dari unit pengembangan sumber daya manusia JR East, industri kereta api Jepang kini menghadapi tantangan besar dalam mencari tenaga kerja.
“Di seluruh industri perkeretaapian, semakin sulit mendapatkan tenaga kerja. Terutama di bidang pemeliharaan, kekurangan tenaga kerja sangat terasa,” jelasnya.
JR East juga mempertimbangkan untuk menyelenggarakan pelatihan ini setidaknya dua kali setiap tahun mulai tahun fiskal 2026.
Jumlah Pekerja Asing di Fukushima Mencapai Rekor
Sementara itu, menurut Biro Tenaga Kerja Fukushima, jumlah pekerja asing di perusahaan-perusahaan di prefektur tersebut mencapai 15.079 orang pada akhir Oktober 2025, angka tertinggi sepanjang sejarah.
Namun, survei pertama yang dilakukan oleh pemerintah prefektur terhadap warga Jepang menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen responden jarang atau bahkan tidak pernah berinteraksi dengan warga asing dalam kehidupan sehari-hari.
Alasan utama yang disebutkan adalah tidak adanya kesempatan atau tempat untuk berinteraksi.
Baca juga: PM Jepang Sanae Takaichi Genap 65 Tahun, Pernah Jadi Menteri Dalam Negeri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KAJEPANG1.jpg)