Iran Vs Amerika Memanas
Mojtaba Khamenei Terpilih jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Trump Tak Tinggal Diam: Tak Bertahan Lama
Iran resmi menunjuk putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei untuk menjadi Pemimpin Tertinggi Iran ketiga. Trump tak tinggal diam.
Ringkasan Berita:
- Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei resmi ditunjuk oleh Majelis Ahli Iran untuk menduduki kursi Pemimpin Tertinggi Iran.
- Mojtaba Khamenei menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu.
- Namun, penunjukan Mojtaba menjadi Pemimpin Tertinggi Iran mendapatkan kecaman keras dari Presiden AS, Donald Trump.
TRIBUNNEWS.COM - Majelis Ahli Iran secara resmi mengumumkan penunjukan Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ketiga.
Mojtaba Khamenei menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Penunjukan Mojtaba (56) diumumkan tepat setelah tengah malam waktu setempat pada Senin (9/3/2026).
Melalui pernyataan resmi, dewan yang beranggotakan 88 ulama senior tersebut menegaskan keputusan diambil secara bulat lewat "suara yang menentukan" demi menjaga stabilitas negara yang tengah dilanda konflik regional.
"Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin sistem suci Republik Islam Iran."
"Kami menyerukan kepada seluruh rakyat, khususnya kaum intelektual dan elit, untuk bersatu di belakang kepemimpinan baru ini," bunyi pernyataan resmi tersebut, mengutip Al Arabiya.
Penunjukan Mojtaba menjadi Pemimpin Tertinggi Iran ini ternyata mendapat kecaman dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Trump kembali menegaskan ia akan memberikan pengaruh terhadap Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya.
Dirinya mengatakan, siapa pun yang dipilih untuk peran tersebut tanpa persetujuan Washington "tidak akan bertahan lama".
Trump tidak langsung menanggapi pemilihan Mojtaba, tetapi secara umum mengatakan sebelumnya setiap individu memerlukan persetujuan AS.
Para pejabat Iran membantah pemerintahan Trump memiliki pengaruh apa pun terhadap keputusan tersebut.
Baca juga: Trump Tantang Pemimpin Baru Iran, Analis Sebut Rekam di Balik Layar Mojtaba Khamenei
"Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami," kata Trump kepada ABC News.
"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," tegasnya.
Trump menambahkan, dia tidak ingin pemerintahan mendatang harus "kembali ke masa lalu" di tahun-tahun mendatang.
"Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir," ucap Trump.