Iran Vs Amerika Memanas
Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS Pertama Kali Sejak 2022, Trump: Harga Kecil untuk Perdamaian
Harga minyak dunia menembus $100 per barel untuk pertama kali sejak 2022. Trump menyebut kenaikan itu harga kecil demi keamanan global.
Jalur laut strategis tersebut menjadi rute utama sekitar 20 persen pasokan minyak global yang dikirim ke berbagai negara.
Iran sebelumnya dilaporkan mengancam akan menyerang kapal tanker minyak yang melintas di jalur tersebut jika konflik dengan Amerika Serikat dan sekutunya terus meningkat.
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran besar di pasar energi global.
Para analis memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak lebih tinggi jika konflik terus meluas atau jika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu.
Beberapa perkiraan bahkan menyebut harga minyak bisa mencapai hingga 150 dolar AS per barel jika jalur perdagangan tersebut terhambat.
Kenaikan harga energi juga mulai memengaruhi pasar keuangan global.
Sejumlah indeks saham di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan tajam karena kekhawatiran bahwa harga bahan bakar yang tinggi dapat memicu inflasi baru dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, harga bensin di Amerika Serikat juga ikut meningkat.
Data terbaru menunjukkan harga rata-rata bensin naik sekitar 16 persen dalam sepekan terakhir menjadi sekitar 3,45 dolar AS per galon.
Kondisi ini berpotensi menjadi tantangan politik bagi pemerintahan Trump, terutama menjelang pemilihan paruh waktu legislatif yang akan digelar pada November mendatang.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Meroket, Naik 108 Dolar AS usai Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Baru Iran
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat berupaya meredakan kekhawatiran pasar energi dengan menyatakan bahwa dampak konflik terhadap pasokan minyak bersifat sementara.
Pemerintah juga mempertimbangkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pasokan energi global.
Para pengamat menilai perkembangan konflik di Timur Tengah dalam beberapa minggu ke depan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dunia.
Jika ketegangan meningkat, pasar energi global berpotensi menghadapi periode volatilitas yang lebih tinggi.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)