Iran Vs Amerika Memanas
Iran Peringatkan Amerika–Israel, Harga Minyak Bisa Melonjak hingga 200 Dollar AS per Barrel
Ketegangan Iran–AS–Israel memicu lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar per barel dan mengguncang pasar global hingga rupiah melemah.
Ringkasan Berita:
- Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus 100 dolar per barel.
- Iran bahkan memperingatkan harga bisa melampaui 200 dolar jika serangan terhadap infrastruktur energi berlanjut.
- Dampaknya terasa di pasar global dan Indonesia, dengan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS dan IHSG sempat anjlok hampir 5 persen.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memperingatkan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi negaranya berpotensi memicu lonjakan drastis harga minyak dunia hingga melampaui 200 dolar per barel.
Peringatan tersebut disampaikan oleh juru bicara markas komando militer Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps(IRGC), Ebrahim Zulfikari, saat menanggapi serangan terbaru yang menargetkan fasilitas energi Iran.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Zulfikari menyebut serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel sebagai tindakan “pengecut dan tidak manusiawi”.
Ia juga meminta para pemimpin negara-negara Islam untuk mendesak Washington dan Tel Aviv agar menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
“Jika tidak, langkah serupa akan terjadi di kawasan ini. Jika kalian siap melihat harga minyak melampaui 200 dolar per barel, silakan lanjutkan permainan ini,” ujar Zulfikari.
Pernyataan tersebut muncul setelah pesawat tempur Israel dilaporkan menyerang depot penyimpanan minyak dan fasilitas pengolahan di Teheran.
Serangan itu menjadi yang pertama kali menargetkan fasilitas energi sejak operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Media Iran juga melaporkan bahwa Teheran tengah mempertimbangkan untuk memperluas daftar target balasan.
Jika sebelumnya fokus pada sasaran militer, kini fasilitas yang terkait dengan Amerika Serikat di kawasan juga dapat menjadi target.
Di sisi lain, ketegangan tersebut langsung berdampak pada pasar energi global.
Harga minyak mentah Brent Crude melonjak hingga sekitar 119 dolar per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Komando militer Iran melalui markas Khatam al-Anbiya Central Headquarters bahkan mengancam akan menyerang fasilitas minyak di kawasan sebagai balasan atas serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Pihak Iran menilai serangan terbaru menargetkan fasilitas bahan bakar serta layanan energi yang juga digunakan oleh warga sipil.
Mereka memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat memicu gangguan besar pada jalur pasokan energi global.
Situasi kawasan semakin memanas sejak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu.