Selasa, 21 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Putin: Rusia Siap Kembali Memasok Minyak ke Eropa, Tapi Ada Syaratnya

Di tengah krisis energi akibat serangan AS-Israel ke Iran, Putin sebut Rusia siap kirim minyak-gas lagi ke Eropa jika mereka berhenti kritik Rusia.

Foto: Mikhail Sinitsyn, TASS/Kremlin
PUTIN - Foto diunduh dari Kantor Presiden Rusia, Selasa (23/9/2025), memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke Pabrik Motovilikha pada 19 September 2025. - Krisis energi terjadi akibat serangan AS-Israel ke Iran dan Iran merespons dengan memblokade jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz. Putin sebut Rusia siap untuk kembali mengirim minyak-gas ke Eropa jika mereka berhenti mengkritik Rusia atas perang terhadap Ukraina. 
Ringkasan Berita:
  • Putin mengatakan Rusia siap untuk kembali memasok minyak dan gas ke negara-negara Eropa jika tekanan politik terhadap negaranya dihentikan.
  • Uni Eropa melarang impor minyak Rusia sejak 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
  • Putin dan Trump membahas lonjakan minyak akibat serangan AS-Israel ke Iran.
  • Iran memblokade Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia di Timur Tengah.
  • Trump ingin cabut sanksi minyak terhadap beberapa negara, kemungkinan termasuk Rusia, untuk stabilkan pasar energi.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1476 pada Selasa (10/3/2026).

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya siap kembali memasok minyak dan gas kepada pembeli di Eropa, asalkan kerja sama tersebut bersifat jangka panjang dan tidak disertai tekanan politik terhadap Moskow.

Harga minyak dunia sendiri melonjak tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

Pada pekan ini, harga minyak bahkan sempat diperdagangkan di atas 100 dolar per barel, level tertinggi sejak Rusia memulai perang di Ukraina pada 2022.

Dalam pertemuan yang disiarkan televisi, Putin menyatakan Rusia akan terus menyalurkan minyak kepada mitra yang dianggap “andal”, termasuk negara-negara di Asia serta anggota Uni Eropa seperti Hongaria dan Slovakia.

"Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan pembeli-pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengubah orientasi mereka dan memberi kami kerja sama jangka panjang dan berkelanjutan, tanpa tekanan politik... maka silakan saja. Kami tidak pernah menolak," kata Putin, Senin (9/3/2026).

"Kami siap bekerja sama dengan Eropa, tetapi kami membutuhkan sinyal dari mereka bahwa mereka siap dan bersedia bekerja sama dengan kami dan akan memastikan keberlanjutan dan stabilitas ini," tambahnya.

Sebelumnya, Uni Eropa telah melarang impor minyak mentah Rusia yang dikirim melalui jalur laut sejak 2022.

Sementara itu, pengiriman minyak Rusia melalui pipa ke Hongaria dan Slovakia juga hampir terhenti sejak Januari setelah pipa Druzhba oil pipeline yang melewati Ukraina mengalami kerusakan.

Pernyataan Putin muncul hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán mendesak Uni Eropa untuk menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia guna meredam lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, lapor The Moscow Times.

Baca juga: Presiden AS Donald Trump Telepon Presiden Rusia Vladimir Putin Selama Satu Jam, Bahas Perang Iran

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka pecah pada 24 Februari 2022. Pada hari itu, Rusia melancarkan serangan militer besar ke berbagai kota di Ukraina. Serangan ini menjadi puncak dari ketegangan yang sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Akar konflik bermula setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina perlahan mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di wilayah bekas Uni Soviet.

Ketegangan semakin memanas pada 2014 ketika terjadi gelombang demonstrasi besar di ibu kota Kyiv. Aksi tersebut dikenal sebagai Revolusi Maidan. Pergantian pemerintahan Ukraina yang lebih dekat dengan Barat memicu reaksi keras dari Rusia. Tidak lama setelah itu, Rusia mengambil alih wilayah Krimea, yang sebelumnya merupakan bagian dari Ukraina.

Di waktu yang sama, konflik bersenjata juga terjadi di kawasan Donbas di Ukraina timur. Pasukan pemerintah Ukraina berhadapan dengan kelompok separatis yang diduga mendapat dukungan dari Rusia. Berbagai upaya diplomasi sempat dilakukan untuk meredakan situasi, tetapi ketegangan tetap berlanjut.

Situasi mencapai puncaknya pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Ukraina. Rusia menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah Donbas serta mencegah perluasan NATO.

Serangan itu memicu kecaman dari banyak negara. Amerika Serikat bersama negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan meningkatkan bantuan militer serta keuangan bagi Ukraina. Konflik ini pun berkembang menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan di tengah perang yang masih berlangsung.

Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Trump Pertimbangkan Cabut Sanksi Minyak Demi Redakan Krisis Energi

Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat kemungkinan akan mencabut sanksi minyak terhadap beberapa negara setelah berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Langkah ini disebut bertujuan mengatasi kekurangan pasokan energi yang muncul akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Trump mengatakan pencabutan sanksi dilakukan sementara sampai jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz kembali dibuka.

Namun, ia tidak memberikan rincian negara mana saja yang akan mendapatkan pelonggaran sanksi.

Sejumlah analis menilai kebijakan ini bisa berarti pelonggaran tambahan terhadap minyak Rusia, yang dapat mempersulit upaya negara Barat menghukum Moskow atas perang di Ukraina.

Pemerintah AS juga mempertimbangkan opsi lain untuk menstabilkan pasar energi, seperti melepas cadangan minyak strategis atau membatasi ekspor minyak AS.

Sebelumnya, AS juga memberi pengecualian sementara kepada India untuk membeli beberapa kargo minyak Rusia guna menutup kekurangan pasokan dari Timur Tengah.

Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak dunia sempat melonjak di atas 100 dolar per barel sebelum akhirnya kembali turun.

  • Trump dan Putin Bahas Perang Ukraina dalam Percakapan Satu Jam

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berlangsung positif.

Ia menyebut kedua pemimpin juga membahas konflik yang terus berlangsung di Ukraina.

Menurut Trump, perang tersebut terasa seperti konflik yang tidak ada akhirnya, namun ia menilai percakapan mereka tetap memberikan harapan.

Sementara itu, penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, mengatakan dialog kedua pemimpin berlangsung sekitar satu jam dan dilakukan secara terbuka serta profesional, lapor The Guardian.

  • Putin Tawarkan Energi ke Eropa di Tengah Ancaman Krisis Minyak

Presiden Rusia Vladimir Putin kembali memberi sinyal bahwa negaranya siap memasok minyak dan gas ke Eropa.

Ia menilai konflik dengan Iran berpotensi memicu krisis energi global.

Putin memperingatkan bahwa produksi minyak yang bergantung pada jalur transportasi melalui Selat Hormuz bisa terhenti sepenuhnya jika konflik semakin meluas.

Sebagai salah satu pengekspor minyak terbesar di dunia dan pemilik cadangan gas alam terbesar, Rusia dinilai memiliki posisi penting dalam pasar energi global.

Putin juga mendorong perusahaan Rusia untuk memanfaatkan situasi di Timur Tengah, meskipun ia memperkirakan lonjakan harga energi hanya bersifat sementara.

  • Zelenskyy Kirim Drone untuk Lindungi Pangkalan AS di Yordania

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya mengirim drone pencegat dan operator militer untuk membantu melindungi pangkalan Amerika Serikat di Yordania.

Langkah tersebut diambil setelah adanya permintaan dari AS di tengah perang antara AS dan Israel melawan Iran yang telah memasuki hari ke-10.

Zelenskyy menyebut setidaknya ada 11 negara, termasuk negara Eropa dan negara tetangga Iran, yang meminta bantuan Kyiv.

Beberapa di antaranya sudah ditanggapi dengan dukungan konkret.

Citra satelit juga menunjukkan radar sistem pertahanan udara THAAD milik AS di pangkalan Yordania mengalami kerusakan akibat serangan Iran.

  • Ukraina Siap Negosiasi Damai, Tapi Dunia Fokus ke Konflik Iran

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya siap melakukan pembicaraan damai baru dengan Rusia kapan saja.

Namun, ia mengungkapkan bahwa perhatian banyak negara mitra saat ini justru tertuju pada konflik yang melibatkan Iran.

Zelenskyy menambahkan bahwa Amerika Serikat bahkan meminta agar pertemuan yang telah direncanakan sebelumnya ditunda.

  • Serangan Drone Rusia Lukai Warga di Kharkiv

Serangan drone dari Rusia menghantam area dekat gedung apartemen di kota Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina. Akibatnya, enam orang terluka dan beberapa mobil terbakar.

Wali Kota Kharkiv, Ihor Terekhov, mengatakan seorang anak kecil termasuk di antara korban luka.

Kota tersebut terletak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Rusia dan sejak awal perang sering menjadi target serangan udara.

Di tempat lain, penembakan Rusia di kota Dnipro juga melukai tujuh orang.

Gubernur wilayah tersebut, Oleksandr Ganzha, membagikan foto yang memperlihatkan puing-puing di jalan serta kerusakan pada bangunan.

  • Ukraina Protes Kehadiran Rusia di Biennale Venesia

Pemerintah Ukraina meminta penyelenggara Venice Biennale untuk meninjau kembali keputusan yang mengizinkan Rusia ikut serta dalam pameran seni bergengsi tersebut.

Kyiv menilai acara tersebut tidak seharusnya menjadi tempat yang dapat digunakan untuk menutupi dugaan kejahatan perang.

Pameran seni yang berlangsung dari Mei hingga November itu sebelumnya juga mendapat kritik dari Kementerian Kebudayaan Italia.

Meski Rusia tidak pernah secara resmi dilarang berpartisipasi, negara itu sempat absen dari ajang tersebut pada tahun 2022 dan 2024.

  • Abramovich Berselisih dengan Inggris soal Dana Penjualan Chelsea

Pengusaha Rusia Roman Abramovich kembali berselisih dengan pemerintah Inggris terkait dana hasil penjualan klub sepak bola Chelsea FC senilai 2,5 miliar poundsterling.

Pemerintah Inggris dan Uni Eropa sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap Abramovich pada 2022 karena hubungannya dengan pemerintahan Vladimir Putin.

Sanksi tersebut memaksa Abramovich menjual klub Liga Inggris itu.

Hingga kini, dana penjualan tersebut masih dibekukan di bank Inggris.

Pemerintah Inggris ingin uang tersebut digunakan khusus untuk membantu Ukraina, sementara Abramovich menginginkan fleksibilitas lebih luas dalam menentukan penggunaannya.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved