Iran Vs Amerika Memanas
Anggota Komisi VII DPR Ingatkan Risiko Bagi Industri Indonesia Imbas Konflik di Timur Tengah
Konflik di kawasan Timur Tengah tersebut dapat memicu volatilitas harga energi dunia yang berujung pada efek negatif ke industri nasional
Anggota Komisi VII DPR Ingatkan Risiko Bagi Industri Indonesia Imbas Konflik di Timur Tengah
Chaerul Umam/Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Gandung Pardiman, mendorong pemerintah mengambil langkah antisipatif terhadap potensi dampak eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.
Menurut Gandung, konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah tersebut dapat memicu volatilitas harga energi dunia, mengganggu jalur perdagangan internasional, serta meningkatkan biaya logistik dan bahan baku industri.
Baca juga: Harga Minyak Melonjak 10 Persen, IRGC Iran Blokade Selat Hormuz: Harga Tembus 200 Dolar per Barel?
Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada daya saing industri manufaktur di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya pada sektor energi, logistik internasional, serta rantai pasok bahan baku industri dalam negeri,” kata Gandung dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Gandung menjelaskan, konflik di kawasan Timur Tengah tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi menimbulkan efek domino pada sektor energi dan perdagangan global.
“Konflik di kawasan Timur Tengah dapat memicu volatilitas harga energi global, gangguan pada jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi daya saing industri manufaktur di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini tidak main-main jika eskalasinya terus meningkat,” ucapnya.
Posisi Strategis Selat Hormuz
Gandung menyoroti posisi strategis Selat Hormuz sebagai salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut, sehingga setiap gangguan keamanan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional.
“Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut sehingga setiap gangguan di kawasan itu dapat memicu lonjakan harga energi internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga energi global akan berdampak langsung pada sektor industri manufaktur karena energi merupakan salah satu komponen utama biaya produksi.
“Kenaikan harga energi global akan berdampak langsung pada industri manufaktur karena sebagian besar sektor industri menggunakan energi sebagai komponen biaya produksi utama. Industri seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, serta berbagai subsektor industri pengolahan lainnya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi,” kata legislator dari daerah pemilihan DI Yogyakarta tersebut.
Langkah Antisipasi Strategis
Oleh faktor di atas, Gandung menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah strategis guna memitigasi dampak yang mungkin timbul dari dinamika geopolitik global.
Terlebih, selama ini, kata dia, industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/israel-serang-Iran-depot-minyak-bbm.jpg)