Iran Vs Amerika Memanas
Irak Jadi Medan Baru Perang Iran: Tanker Diserang, Terminal Minyak Ditutup
Perang Iran meluas ke Irak. Serangan tanker mematikan terjadi di Teluk, terminal minyak ditutup, dan rudal menghantam pangkalan militer.
Ringkasan Berita:
- Irak menutup operasi terminal minyak setelah serangan terhadap dua kapal tanker di perairannya.
- Serangan menewaskan satu kru dan memicu penyelamatan puluhan awak kapal.
- Negara-negara Teluk juga mencegat rudal dan drone Iran di tengah eskalasi konflik regional.
TRIBUNNEWS.COM - Irak semakin terseret dalam konflik regional sejak perang Iran meletus pada Sabtu (28/3/2026).
Terbaru, pada Rabu (11/3/2026), dua kapal tanker minyak diserang di perairan dekat Basra, Irak, yang memaksa pemerintah menghentikan operasi terminal minyak di kawasan tersebut.
Dilansir dari Al Jazeera, serangan tersebut menewaskan satu awak kapal dan meningkatkan kekhawatiran bahwa perang Iran mulai meluas ke wilayah Irak.
Serangan Tanker di Basra Paksa Irak Tutup Terminal Minyak
Dikutip dari CNN, dua kapal tanker yang membawa minyak mentah dari pelabuhan di provinsi Basra diserang kapal tanpa awak bermuatan bahan peledak di perairan Iraq.
Serangan tersebut menyebabkan kedua kapal terbakar hebat tak lama setelah meninggalkan pelabuhan di wilayah selatan negara itu.
Pejabat keamanan Irak menyebut penyelidikan awal menunjukkan kapal bermuatan bahan peledak yang digunakan dalam serangan tersebut diduga berasal dari Iran.
Akibat insiden itu, satu anggota kru dilaporkan tewas.
Sebanyak 38 awak kapal lainnya berhasil diselamatkan oleh tim darurat.
Serangan terjadi di dekat Al-Faw Port yang merupakan salah satu jalur penting ekspor energi Irak.
Baca juga: Kapal Iran Bermuatan Peledak Tabrak Kapal Tanker Minyak di Pelabuhan Irak
Pemerintah Irak menyebut serangan tersebut sebagai tindakan sabotase serius yang melanggar kedaulatan negara.
Direktur Jenderal Perusahaan Pelabuhan Irak, Farhan al-Fartousi, mengatakan seluruh operasi terminal minyak dihentikan sementara setelah insiden tersebut.
Namun pelabuhan komersial tetap beroperasi secara normal.
Menurut Kedutaan Besar India di Baghdad, korban tewas merupakan seorang warga negara India yang berada di kapal tanker Safesea Vishnu.
Sebanyak 15 awak kapal berkewarganegaraan India lainnya berhasil dievakuasi ke tempat aman.
Serangan terhadap kapal tanker ini juga meningkatkan ketegangan di kawasan Persian Gulf dan Strait of Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi dunia.
Otoritas pemasaran minyak Irak menyatakan insiden tersebut berdampak negatif terhadap keamanan dan perekonomian negara.
Rudal Hantam Pangkalan Militer Italia di Erbil
Eskalasi konflik juga terlihat dari serangan rudal terhadap pangkalan militer Italia di kota Erbil di wilayah Kurdi Irak.
Kementerian Pertahanan Italy menyatakan satu rudal menghantam pangkalan tersebut pada malam hari.
Tidak ada korban jiwa maupun luka di antara personel militer Italia yang bertugas.
Sekitar 300 tentara Italia ditempatkan di Erbil untuk menjalankan misi pelatihan bagi pasukan keamanan Kurdi.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengatakan para tentara sempat berlindung di bunker selama serangan berlangsung dan semuanya berada dalam kondisi aman.
Serangan Udara Tewaskan Pejuang Paramiliter
Di bagian barat Irak, serangan udara juga menghantam markas kelompok paramiliter pro-Iran di kota Al-Qaim dekat perbatasan Suriah.
Kelompok tersebut merupakan bagian dari organisasi paramiliter Popular Mobilization Forces (PMF), yang dikenal juga sebagai Hashd al-Shaabi.
Awalnya dilaporkan tiga orang tewas dan empat lainnya terluka.
Namun laporan terbaru menyebut jumlah korban tewas meningkat menjadi sedikitnya 10 orang.
Serangan ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa Irak telah menjadi medan pertempuran sekunder dalam konflik regional yang lebih luas.
Ekonomi Irak Tertekan Akibat Konflik
Serangan terhadap jalur energi dan infrastruktur minyak mulai berdampak besar terhadap ekonomi Irak.
Produksi minyak negara itu dilaporkan anjlok tajam sejak konflik meningkat, dari sekitar 3,3 juta barel per hari menjadi kurang dari satu juta barel per hari.
Padahal lebih dari 90 persen pendapatan anggaran Irak berasal dari sektor minyak. Penurunan produksi ini berpotensi memicu tekanan ekonomi yang besar bagi negara tersebut.
Kementerian Perminyakan Irak juga menyerukan perlindungan terhadap jalur pelayaran internasional agar pasokan energi global tetap aman.
Baca juga: Trump Boncos! Baru 6 Hari Perang Iran, AS Sudah Bakar Duit Rp180 Triliun
Menurut pernyataan yang dimuat oleh Kantor Berita Irak, keamanan navigasi di jalur maritim internasional harus dipisahkan dari konflik regional agar tidak mengganggu perdagangan dan distribusi energi dunia.
Negara Teluk Cegat Rudal dan Drone Iran
Sementara itu, sejumlah negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, United Arab Emirates, dan Saudi Arabia dilaporkan berhasil mencegat beberapa rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
Intersepsi tersebut dilakukan untuk melindungi wilayah udara dan infrastruktur vital di kawasan Teluk yang menjadi pusat produksi energi global.
Para pengamat menilai konflik yang awalnya berpusat pada serangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini mulai menyebar ke berbagai negara di Timur Tengah, termasuk Irak.
Jika eskalasi terus berlanjut, kawasan tersebut berisiko menghadapi konflik regional yang jauh lebih luas dengan dampak serius terhadap keamanan energi dan stabilitas global.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.