Iran Vs Amerika Memanas
Indikasi Trump Sok Keras, Ogah Mengaku Kalah, Padahal Kelimpungan Hadapi Strategi Perang Iran
Trump mengaku terkejut dengan skala serangan balasan Iran yang menyasar negara-negara Teluk, penampung pangkalan militer AS.
Ringkasan Berita:
- Trump beberapa kali gembar-gembor militer Iran melemah. Namun, hingga kini pasukan AS belum bisa membuka Selat Hormuz. Seolah menunjukkan klaimnya hanya bualan belaka
- Bahkan Trump sampai memohon kepada sekutu, tak terkecuali rival geopolitiknya, China, untuk menerjunkan pasukan membuka Selat Hormuz
- Namun, permohonan Trump ditolak sekutu dan rivalnya. China menilai permintaan Washington adalah upaya licik untuk membagi risiko perang yang dimulai secara sepihak oleh AS kepada negara lain
TRIBUNNNEWS.COM - Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump percaya diri mengeklaim bahwa Iran berada di ambang kekalahan perang, kenyataan di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Kegagalan Washington untuk meyakinkan sekutu dekatnya di NATO, Uni Eropa, hingga rival geopolitiknya, China, untuk membantu membuka Selat Hormuz, menjadi sinyal kuat bahwa klaim kemenangan Trump hanyalah bualan belaka.
Hingga Senin (16/3/2026), gelombang penolakan resmi mengalir deras dari ibu kota negara-negara besar. Uni Eropa (UE) secara tegas menyatakan tidak memiliki niat untuk terlibat secara militer.
Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, menegaskan bahwa negara-negara anggota tidak memiliki kepentingan dalam "perang yang tidak berujung."
Baca juga: Komandan Angkatan Laut Iran Bersumpah Balas AS dan Israel Atas Tewasnya Awak Kapal IRIS Dena
Sentimen serupa datang dari Jerman. Kanselir Friedrich Merz dan Menteri Pertahanan Boris Pistorius menutup rapat pintu pengiriman pasukan ke Teluk.
Berlin menekankan bahwa perang ini bukanlah misi NATO dan AS-Israel melancarkan serangan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan sekutu Eropa.
"Ini bukan perang kami, bukan kami yang memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik," tegas Pistorius, mematahkan narasi Trump yang menuntut tanggung jawab bersama atas keamanan energi.
Tak hanya Jerman, Inggris melalui PM Keir Starmer serta Australia dan Jepang juga memberikan jawaban dingin.
Jepang, melalui PM Sanae Takaichi, bahkan merujuk pada batasan konstitusi yang melarang keterlibatan dalam perang luar negeri, sebuah tamparan bagi diplomasi tekanan tinggi yang diterapkan Trump.
Indikasi paling nyata dari keputusasaan Trump adalah permintaannya kepada China untuk menerjunkan kapal perang ke Selat Hormuz.
Trump berargumen bahwa Beijing seharusnya bertanggung jawab karena 90 persen kebutuhan minyaknya bergantung pada jalur tersebut.
Langkah ini dinilai para analis sebagai pengakuan tersirat bahwa kekuatan militer AS dan Israel tidak cukup untuk menetralisir ancaman Iran secara mandiri.
Namun, Beijing melalui media pemerintah, Global Times, menepis mentah-mentah usulan tersebut. Mereka menilai permintaan Washington adalah upaya licik untuk membagi risiko perang yang dimulai secara sepihak oleh AS kepada negara lain.
Sebelumnya, Trump sesumbar bahwa Iran telah melemah pascatewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan serangan ke fasilitas nuklir pada akhir Februari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-tuduh-media-berkhianat-OK.jpg)