Transformasi Pulau Watakano: Tinggalkan Dunia Malam, Jadi Destinasi Bersih
Dari “pulau prostitusi” jadi wisata keluarga, Watakano berbenah. Namun kini muncul masalah baru: pulau makin sepi anak muda
“Tidak mungkin selamanya mengandalkan industri malam. Itu sudah menjadi kesepakatan mayoritas warga, meski tidak semua setuju.”
Antara Bertahan atau Berubah
Masih ada pendapat untuk menghidupkan kembali bisnis lama. Namun, melihat arus zaman, penindakan terus terjadi, reputasi buruk menyebar, dan kesadaran masyarakat berubah.
“Kami mulai sadar, tidak bisa hidup selamanya dari hal-hal buruk (prostitusi).”
Akhirnya arah berubah.
“Mari kita ubah arah,” begitu semangat yang muncul di masyarakat lokalnya.
Kini, rumah bordil semakin punah. Tidak ada kebutuhan untuk menghidupkannya kembali.
Pulau ini kini dipromosikan sebagai pulau yang bersih, kaya alamnya, serta destinasi wisata sehat.
Citra “pulau malam” pun berusaha dihapus.
“Gerakan pemurnian sudah dimulai sekitar 20 tahun lalu. Sekarang kami merasa pulau ini semakin bersih,” ujar warga.
Menghapus Citra “Pulau Prostitusi”
Upaya menghapus citra negatif sebenarnya sudah dimulai sejak 1989 melalui proyek “Mie Sunbelt Zone”.
Pada 2013, bersama pemerintah, dibentuk deklarasi:
Watarakano Pulau Aman dan Nyaman
Tujuannya untuk menarik wisatawan keluarga, mengubah citra pulau serta kolaborasi Warga dan Pemerintah
Seorang narasumber menjelaskan, “Sejak awal memang inisiatif warga, lalu pemerintah ikut berjalan bersama. Keduanya sama-sama ingin membersihkan pulau.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/puloprostitusi121.jpg)