Transformasi Pulau Watakano: Tinggalkan Dunia Malam, Jadi Destinasi Bersih
Dari “pulau prostitusi” jadi wisata keluarga, Watakano berbenah. Namun kini muncul masalah baru: pulau makin sepi anak muda
Ringkasan Berita:
- Pulau Watakano di Jepang yang dulu dikenal sebagai “pulau malam” kini bertransformasi menjadi destinasi wisata bersih dan ramah keluarga
- Perubahan sejak 1990-an didorong penindakan, tekanan reputasi, dan kesadaran warga untuk meninggalkan bisnis prostitusi
- Meski citra membaik dan wisata meningkat, pulau kini menghadapi tantangan baru berupa populasi yang menua dan minim generasi muda
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Pulau Watakano sangat indah kini, namun punya sejarah unik. Kini dikenal karena suasana tenang, alami, dan “rebranding” sebagai destinasi wisata bersih.
Ada apa dengan pulau tersebut? Seorang wartawan dan penulis Jepang Mizuo Takagi melakukan investigasi dan media Bunshun menerbitkannya Rabu ini (25/3/2026).
Pulau Watakano yang dahulu dikenal sebagai “pulau malam”, kini perlahan berubah secara diam-diam. Penindakan berulang, reputasi buruk, serta perubahan tren pariwisata—warga yang terdesak akhirnya memilih jalan “pemurnian”.
Perubahan yang dimulai sejak tahun 1990-an itu pada akhirnya berhasil menarik wisatawan keluarga dan lansia. Lalu, mengapa bisnis prostitusi bisa menghilang?
Tulisan ini merupakan kutipan dari buku terbaru penulis nonfiksi Mizuo Takagi, “Reportase: Lahirnya Industri Hiburan Dewasa” (Seidansha Publico).
Baca juga: Jepang Siapkan Sanksi bagi Pembeli Prostitusi, Denda 20 Ribu Yen Diusulkan
Akhir dari “Surga Tersembunyi” yang Pernah Dicintai
“Di pulau ini tidak ada kantor organisasi yakuza, kan? Paling hanya datang untuk wisata saja?”
“Iya, tidak ada kantor tetap. Tapi ada beberapa pria yang menjadi ‘perantara’ perempuan. Dulu saat perputaran uang di pulau ini besar, ada hubungan dengan organisasi seperti Ise-Shima Rengokai. Beberapa pria itu punya koneksi ke sana. Saat musim tertentu mereka bahkan datang menjual bonsai sambil bilang ‘tolong beli’. Ya, karena mereka bukan orang jahat—hanya sebatas ‘perantara’—kami tetap berhubungan baik,” ungkap penduduk lokal pulau tersebut.
Seorang warga bernama Mitsuhashi juga berbicara terbuka soal keberadaan yakuza. Ia tampaknya tidak mengetahui secara pasti keberadaan kelompok tertentu.
Ketika ditanya soal rumor bahwa “tidak bisa membangun kantor polisi karena semua lahan milik pribadi”, ia membantah:
“Itu tidak benar. Untuk membangun kantor polisi atau pos polisi, diperlukan jumlah penduduk tertentu. Saya pernah minta dibangun di sini, tapi pemerintah bilang tidak bisa karena jumlah penduduk tidak memenuhi syarat. Dulu ada pos polisi di Matoya, sekarang hanya ada di Isobe.”
“Saat penindakan terhadap rumah bordil sering terjadi, saya pernah bilang, ‘Kalau sering ditertibkan, sekalian saja bangun pos polisi di sini!’ Tapi jawabannya tetap sama: tidak memenuhi syarat jumlah penduduk,” tambahnya.
Bisnis Runtuh, Properti Terbengkalai
Beberapa penginapan seperti “Tsutaya”, “Paradise”, dan “Aoi Tori” yang dulu dikelola Okada mengalami kebangkrutan dan dilelang. Meski sudah dibeli pihak luar daerah, hingga kini belum ada penyewa—masih terbengkalai.
Di tengah upaya menjadikan pulau sebagai destinasi wisata, banyak hotel, rumah bordil, dan bar justru mengalami kemunduran.
Seorang pengelola hotel besar yang juga menjabat di asosiasi pariwisata menyatakan:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/puloprostitusi121.jpg)