Iran Vs Amerika Memanas
Perang Iran vs Amerika Jadi Upaya Dedolarisasi: Dominasi Dolar AS Terancam di Jalur Energi
Iran dorong transaksi minyak pakai yuan di Selat Hormuz, sinyal kuat pergeseran dominasi dolar AS di perdagangan energi global.
Jaringan ini kini melibatkan peserta dari Turki, Mauritius, Uni Emirat Arab (UEA), hingga ekspansi terbaru ke Afrika dan Timur Tengah.
Baca juga: Harga Minyak Tembus 116 Dolar AS, Pasar Keuangan Asia Terguncang, Prospek Perdamaian Masih Jauh
Kebangkitan yuan terjadi di tengah pelemahan dolar AS. Mata uang Paman Sam telah merosot 7% sejak Januari, mencatat awal tahun terburuk sejak 1973.
Penyebabnya antara lain kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang fluktuatif, defisit fiskal AS yang melebar, serta ancaman terhadap independensi The Federal Reserve.
Berbeda dengan SWIFT yang mayoritas berbasis dolar, CIPS memungkinkan transaksi diselesaikan langsung dalam yuan.
Hal ini membuat eksportir, produsen, dan mitra dagang China dapat menghindari dolar sepenuhnya.
Diketahui sudah hampir 52 tahun negara-negara di seluruh dunia melakukan transaksi jual beli minyak menggunakan dolar AS.
Sistem petrodollar resmi diberlakukan pada tahun 1974 melalui kesepakatan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Perjanjian ini mewajibkan Arab Saudi menjual minyaknya dalam mata uang dolar AS, dengan imbalan perlindungan militer dan keamanan dari AS.
Sistem ini kemudian meluas ke negara-negara OPEC lainnya pada tahun 1975, menjadikan dolar sebagai mata uang utama perdagangan minyak global.
AS memberikan jaminan keamanan militer sebagai imbalan atas penetapan harga minyak dalam dolar.
Ini menjadikan dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia dan memperkuat hegemoni finansial AS secara signifikan.
Saat ini, dominasi petrodollar mulai menghadapi tekanan. Arab Saudi mulai menjual minyak ke negara lain, seperti China, yang memicu peningkatan penggunaan petroyuan.
Faktor lain meliputi diversifikasi ekonomi negara Teluk, peningkatan ketegangan geopolitik (konflik di Timur Tengah), dan upaya de-dolarisasi oleh negara-negara BRICS+.
Meskipun demikian, dolar masih merupakan mata uang utama dalam perdagangan minyak global.