Prajurit TNI Gugur di Lebanon
3 Prajurit TNI Dilaporkan Gugur dalam Serangan di Lebanon, PBB: Pasukan Perdamaian Bukan Target
Kepala Operasi Perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix mengecam keras insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL.
Lacroix juga menyatakan, UNIFIL sedang melakukan investigasi “untuk menentukan keadaan dari perkembangan tragedi ini."
“Kami juga tetap sangat prihatin tentang beberapa insiden perilaku agresif terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL dalam beberapa hari terakhir,” tambah Lacroix.
Selain itu, Lacroix menyebut bahwa pasukan perdamaian PBB “tetap berada di lapangan, melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan Dewan Keamanan PBB, dalam kondisi yang sangat berbahaya ini.”
Sementara itu, Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengatakan bahwa penyelidikan atau investigasi terhadap peristiwa ini sedang berlangsung, tetapi akan memakan waktu.
“Untuk saat ini, kami belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi itulah yang akan ditemukan oleh penyelidikan,” tutur Kandice, dikutip dari UN News.
“Setelah penyelidikan selesai, sesuai praktik biasa, kami akan membagikannya kepada pihak-pihak terkait. Dan tergantung pada hasilnya, jika kami menemukan pihak yang bertanggung jawab, kami akan memberi tahu mereka dan kami akan secara resmi memprotes hal itu kepada mereka.”
Sebagai informasi, UNIFIL atau Pasukan Sementara PBB di Lebanon adalah sebuah misi penjaga perdamaian yang didirikan oleh Dewan Keamanan PBB pada 19 Maret 1978 untuk menjaga keamanan di Lebanon Selatan.
Total, ada lebih dari 8.000 pasukan penjaga perdamaian dari hampir 50 negara yang bertugas di UNIFIL.
Tugas utama UNIFIL adalah memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, dan membantu Pemerintah Lebanon dalam memastikan kembalinya otoritas efektifnya di wilayah tersebut.
Baca juga: Bukan Insiden Sepele, Komisi I Akan Segera Bahas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon dengan Pemerintah
UNIFIL telah memainkan peran penting dalam memajukan perdamaian dan keamanan, termasuk dengan berpatroli di Garis Biru pemisah antara kedua negara.
Sejatinya, UNIFIL telah berperan besar dalam mengimplementasikan resolusi DK PBB yang mengakhiri permusuhan selama lebih dari 30 hari antara pasukan Israel dan Hizbullah pada 2006.
Namun, Lacroix menyatakan, eskalasi yang terjadi saat ini telah menyebabkan “banyak pelanggaran” terhadap Resolusi 1701 (2006), mengutip serangan di sepanjang Garis Biru serta kehadiran pasukan Israel di Lebanon.
Bahkan, wilayah dekat markas UNIFIL di Lebanon Selatan mengalami serangan Israel.
“Kami telah menyaksikan banyak sekali serangan Israel ke Lebanon Selatan di berbagai daerah, termasuk di dekat markas kami di Naqoura, di mana sekitar seminggu yang lalu, dalam beberapa hari terakhir, kami mengalami beberapa pertempuran yang sangat sengit yang dapat kami dengar,” kata Kandice.
“Markas kami di sini terkena peluru, pecahan peluru. Roket bahkan menghantam markas kami, jadi itu adalah situasi yang sangat berbahaya dan tidak menentu.”
(Tribunnews.com/Rizki A./Eko Sutriyanto)