Selasa, 14 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Minta Negara yang Terancam Krisis Segera Rebut Selat Hormuz

Trump minta negara yang terancam krisis segera merebut Selat Hormuz yang diblokade Iran, tegaskan AS tak akan bantu mereka jika mereka tak bantu AS.

Facebook The White House
PRESIDEN AS TRUMP - Foto diambil dari Facebook The White House, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada 31 Maret 2026. Trump minta negara yang terancam krisis segera merebut Selat Hormuz yang diblokade Iran, tegaskan AS tak akan bantu mereka jika mereka tak bantu AS. 

Adapun hal di luar itu tidak termasuk dalam perjanjian antara negara-negara tersebut.

Sejak pecahnya perang pada 28 Februari antara Iran, Amerika, dan Israel, Trump berulang kali mengkritik negara-negara Eropa setelah sebagian besar dari mereka menolak untuk mengirim pasukan angkatan laut dan kapal untuk mengamankan Selat Hormuz.

Trump juga mengancam Iran lebih dari sekali dan memberi negara itu tenggat waktu hingga 6 April untuk membuka selat tersebut, yang kelumpuhan lalu lintasnya telah menyebabkan kenaikan harga energi global.

Namun demikian, para pejabat AS mengindikasikan bahwa presiden AS mungkin akan segera mengakhiri perang, bahkan tanpa membuka selat vital tersebut, menurut laporan Wall Street Journal sebelumnya.

Serangan AS dan Israel terhadap Iran terjadi hanya dua hari setelah tim AS dan Iran melanjutkan perundingan perjanjian pembatasan program nuklir di Jenewa.

AS dan Israel berulang kali menuduh Iran berupaya mengembangkan program nuklirnya untuk keperluan membuat senjata nuklir.

Pemerintah Iran membantah tuduhan AS dan Israel, seraya menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk keperluan energi bagi warga sipil.

Serangan AS dan Israel sejak 28 Februari telah memulai perang baru di Timur Tengah dan menewaskan lebih dari 1.900 orang di Iran, mendorong Iran keluar dari upaya perundingan dengan AS.

Sementara AS dan Israel menyerang wilayah Iran, militer Iran meluncurkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS dan Israel di kawasan.

Iran juga memblokade Selat Hormuz, jalur pengiriman energi global, termasuk menargetkan kapal terkait AS dan Israel.

Dampak Blokade Iran terhadap Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen transportasi minyak dunia, menekan ekonomi negara-negara Teluk dan memicu gangguan pasokan energi.

Berdasarkan laporan TESPAM, ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, UEA, dan Bahrain turun 36,4 persen dalam periode 27 Februari–30 Maret, dari 12,323 juta menjadi 7,833 juta barel per hari.

Penurunan ini menyebabkan kerugian pendapatan minyak sekitar 15,2 miliar dolar AS, dan jika dihitung dengan sektor LNG serta lainnya, total kerugian melampaui 50 miliar dolar AS.

Presiden TESPAM, Oguzhan Akyener, menyebut kondisi ini sebagai salah satu gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah modern.

Ia menambahkan, krisis ini tidak hanya menghantam ekspor energi, tetapi juga sektor lain seperti logistik, perdagangan, keuangan, hingga pariwisata di kawasan Teluk.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved