Iran Vs Amerika Memanas
Bisakah Trump Merebut Minyak Iran? Ini yang Terjadi Jika Amerika Nekat Melakukannya
Alasan Amerika melancarkan perang ke Iran terungkap. Bukan soal demokrasi, HAM, atau pergantian rezim, tapi soal minyak!
Ringkasan Berita:
- Trump membuka kedok serangan AS ke Iran dengan menyatakan kalau minyak menjadi target dari dimulainya perang.
- Ancaman Presiden Trump untuk merebut minyak Iran di tengah blokade Selat Hormuz menghadapi rintangan militer yang berat.
- Perebutan minyak Iran secara paksa oleh AS berisiko menyebabkan kenaikan harga global dan menggemakan warisan geopolitik yang kontroversial dari kudeta tahun 1953.
TRIBUNNEWS.COM - Saat perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran memasuki bulan kedua, Presiden AS, Donald Trump mengungkapkan sendiri maksudnya melancarkan perang terhadap Teheran.
Jika selama ini Trump berkoar dengan bermacam dalih, mulai dari pro-demokrasi, pelengseran rezim, tindak represif pemerintah Iran, hingga isu nuklir, dalam argumennya seputar perang yang dimulai oleh serangan AS ke Teheran pada 28 Februari 2026 silam, belakangan dia membuka kedok kalau "minyak" adalah alasan utama AS memulai peperangan.
Baca juga: Israel Pakai Taktik Lama Perang Dunia II, Alasan Pabrik-Pabrik Baja Iran Jadi Target Serangan
Trump memberi indikasi itu lewat pernyataan yang mengisyaratkan Washington dapat "mengambil minyak" di Iran.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang telah diblokade Iran selama berminggu-minggu, mengganggu aliran energi global.
Pada Senin (30/3/2026), Trump juga mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran - termasuk sumur minyak - jika Teheran tidak membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.
Namun, kelayakan dan implikasi dari langkah tersebut masih menjadi perdebatan sengit.
Iran Pemain Utama di Sektor Energi Global
Iran adalah salah satu produsen energi terkaya di dunia dalam hal sumber daya.
Menurut Badan Informasi Energi AS, negara ini memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar ketiga di dunia dan cadangan gas alam terbesar kedua.
Dengan cadangan minyak mentah terbukti sekitar 157 miliar barel, Iran menyumbang sekitar 12 persen dari cadangan global dan hampir seperempat dari cadangan di Timur Tengah.
Negara ini memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari, menjadikannya anggota kunci Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Sebelum konflik saat ini, Iran mengekspor sekitar dua juta barel minyak dan bahan bakar olahan setiap hari.
Namun, ekspor telah berfluktuasi tajam sejak AS memberlakukan kembali sanksi pada tahun 2018 setelah penarikan diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), yang awalnya ditandatangani di bawah mantan Presiden AS Barack Obama pada tahun 2015.
Bisakah AS Benar-benar Merebut Minyak Iran?
Terlepas dari retorika Trump, para ahli mengatakan bahwa niat AS "merebut" minyak Iran jauh dari mudah, kalau tak mau dikatakan super-susah.
Laporan menunjukkan Pentagon sedang mempersiapkan operasi darat terbatas, yang berpotensi menargetkan lokasi strategis seperti Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Namun, bahkan operasi yang berhasil pun tidak akan memberikan kendali AS atas cadangan minyak Iran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Benjamin-Netanyahu-dan-Presiden-Amerika-Serikat-Donald-Trump.jpg)