Iran Vs Amerika Memanas
5 Populer Internasional: Surat Terbuka Presiden Iran - 10 Inti Pidato Donald Trump
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Presiden Iran menegaskan rakyatnya tidak bermusuhan dengan warga Amerika
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran menegaskan rakyatnya tidak bermusuhan dengan warga Amerika meski ada sejarah panjang konflik.
- Sebanyak 35 negara mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak dunia.
- Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir berakhir dan menekankan kemenangan besar militer AS.
TRIBUNNEWS.COM - Rangkuman berita populer internasional menyoroti sejumlah isu penting, di antaranya surat terbuka Presiden Iran yang ditujukan kepada komunitas global khususnya Amerika, serta 10 inti pidato Donald Trump soal perang iran.
Berikut berita selengkapnya.
1. Presiden Iran Tulis Surat Terbuka kepada Warga Amerika: Kami Tidak Menyimpan Permusuhan terhadap AS
Presiden Iran mengatakan negaranya tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Amerika.
Dilansir The Guardian, dalam suratnya kepada rakyat Amerika, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjabarkan keluhan historis yang telah lama menjadi dasar ketidakpercayaan Iran terhadap AS.
Titik baliknya adalah kudeta tahun 1953, yang ia sebut sebagai intervensi ilegal Amerika untuk mencegah nasionalisasi sumber daya Iran.
"Hubungan sebelum itu pada awalnya tidak bermusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak diwarnai permusuhan atau ketegangan," tulisnya.
Ia mengatakan ketidakpercayaan semakin dalam akibat dukungan AS terhadap Shah, dukungan terhadap Saddam Hussein, sanksi tidak manusiawi yang meluas, serta yang terbaru, dua kali agresi militer tanpa provokasi di tengah negosiasi terhadap Iran.
Kelanjutan agresi militer dan pemboman baru-baru ini sangat memengaruhi kehidupan, sikap, dan perspektif masyarakat.
Pezeshkian kemudian menekankan adanya perbedaan antara pemerintah AS dan rakyat Amerika Serikat.
Menurutnya, warga Amerika, Eropa, dan negara lain tidak dipandang sebagai musuh, meskipun permusuhan telah berlangsung selama beberapa dekade.
"Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap negara lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara-negara tetangga."
"Serangan terhadap infrastruktur Iran yang menargetkan rakyat kami memiliki konsekuensi di luar perbatasan negara."
"Apa yang kami lakukan sebagai tanggapan didasarkan pada hak yang sah untuk membela diri, bukan tindakan agresi."
"Bahkan di tengah intervensi dan tekanan asing yang berulang sepanjang sejarah mereka yang membanggakan, rakyat Iran secara konsisten membuat perbedaan yang jelas antara pemerintah dan rakyat yang mereka pimpin."
"Ini adalah prinsip yang berakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran, bukan sekadar sikap politik sementara."
Pezeshkian juga mempertanyakan apakah Amerika Serikat benar-benar mengutamakan "America First" dalam kebijakannya terhadap Iran, atau justru bertindak sebagai "proksi" untuk Israel.
"Bukankah juga benar bahwa Amerika telah memasuki agresi ini sebagai proksi untuk Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?"
2. Tanpa AS, 35 Negara akan Mendesak Iran Buka Selat Hormuz
Setidaknya 35 negara bertemu pada hari Kamis (2/4/2026), dalam upaya untuk memberikan tekanan diplomatik dan politik agar Selat Hormuz dibuka kembali.
Selat tersebut merupakan jalur pelayaran vital yang diblokade oleh Iran sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel di negaranya.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pertemuan virtual yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Yvette Cooper ini.
"Kami akan menilai semua kemungkinan tindakan diplomatik dan politik yang dapat diambil untuk memulihkan kebebasan navigasi, memastikan keselamatan kapal dan pelaut yang terdampar, dan melanjutkan pergerakan barang-barang penting," kata Keir Starmer, Kamis.
Selain memblokade Selat Hormuz, Iran juga menyerang kapal-kapal komersial terkait AS dan Israel yang mencoba melewati selat itu.
Blokade tersebut menghambat aliran minyak global dan mendorong harga minyak mentah melonjak tajam.
Amerika Serikat tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan hari Kamis.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa mengamankan jalur air itu bukan tugas AS dan menyerukan sekutu AS untuk mencari minyak mereka sendiri.
Tidak ada negara yang tampaknya siap untuk mencoba membuka selat tersebut secara paksa selama pertempuran masih berlangsung.
Selain itu Iran memiliki kemampuan untuk menargetkan kapal menggunakan rudal anti-kapal, drone, kapal serang, dan ranjau laut.
Namun, Keir Starmer mengatakan pada hari Rabu bahwa perencana militer dari sejumlah negara yang tidak disebutkan akan segera bertemu untuk membahas bagaimana memastikan keamanan navigasi setelah pertempuran berhenti, lapor Al Arabiya.
3. 10 Poin yang Disampaikan Donald Trump dalam Pidato Terbarunya tentang Perang Iran
Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran hampir berakhir.
Namun, ia memperingatkan akan adanya peningkatan serangan dalam beberapa minggu mendatang.
Dalam pidato yang disiarkan di televisi dari Gedung Putih pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat, Trump menyatakan operasi AS hampir mencapai tujuannya.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran ini telah memasuki bulan kedua dan terus mengganggu pasar energi global serta jalur pasokan.
Mengutip whitehouse.gov, berikut 10 poin utama isi pidato Trump:
1. Kemenangan AS
“Saat kita berbicara malam ini, baru satu bulan sejak militer Amerika Serikat memulai Operasi Epic Fury yang menargetkan negara sponsor teror nomor satu di dunia, Iran."
"Dalam empat minggu terakhir, Angkatan Bersenjata kita telah meraih kemenangan yang cepat, menentukan, dan luar biasa di medan perang, kemenangan yang belum pernah disaksikan sebelumnya."
2. Militer Iran Hancur
"Malam ini, angkatan laut Iran telah hancur. Angkatan udara mereka hancur. Para pemimpin mereka, sebagian besar dari mereka, rezim teroris yang mereka pimpin, kini telah tewas. Komando dan kendali mereka atas Korps Garda Revolusi Islam sedang dihancurkan saat ini."
"Kemampuan mereka untuk meluncurkan rudal dan drone sangat terbatas, dan senjata, pabrik, serta peluncur roket mereka telah hancur berkeping-keping, hanya sedikit yang tersisa. Belum pernah dalam sejarah peperangan musuh menderita kerugian sebesar ini hanya dalam hitungan minggu.”
4. Ngambek Tidak Dibantu, Trump Ancam Menarik Diri dari NATO, Bisakah? Ini 8 Hal yang Perlu Diketahui
Setelah bertahun-tahun mengkritik efektivitas NATO dan mencerca anggotanya sebagai parasit yang boros, Donald Trump kini tampaknya berencana menarik diri dari aliansi tersebut.
Mengutip The Guardian, langkah ini akan menjadi guncangan besar bagi arsitektur keamanan Barat yang dibangun setelah Perang Dunia II, yang bertahan selama Perang Dingin melawan Uni Soviet, dan berkembang setelah runtuhnya komunisme di Eropa Timur pada 1989.
Organisasi Pakta Atlantik Utara, nama resmi NATO, didirikan pada 1949 dengan 12 anggota awal, termasuk AS, Inggris, Prancis, Kanada, dan Denmark. Kini, aliansi tersebut telah berkembang menjadi 32 negara anggota.
Tujuan awal NATO adalah membentuk benteng pertahanan terhadap komunisme Soviet yang saat itu dianggap agresif dan ekspansionis.
Namun, pembentukan NATO juga didorong oleh kesadaran bahwa ketiadaan sistem keamanan kolektif menjadi salah satu penyebab kegagalan mencegah ekspansi Adolf Hitler pada 1930-an, ketika Jerman Nazi secara bertahap mencaplok wilayah sebelum Perang Dunia II.
1. Apa prinsip utama NATO?
Prinsip utama NATO adalah keamanan kolektif, sebagaimana tercantum dalam Pasal 5, yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Prinsip ini tidak pernah digunakan selama Perang Dingin.
Satu-satunya penerapan terjadi setelah serangan al-Qaeda di New York dan Washington pada 11 September 2001, ketika anggota NATO mengirim pasukan ke Afghanistan untuk mendukung operasi militer yang dipimpin AS.
2. Mengapa Trump mempertimbangkan keluar dari NATO?
Kemarahan Trump dipicu oleh penolakan NATO untuk mendukung atau membantu AS dalam perang melawan Iran.
Namun, piagam NATO tidak mewajibkan anggota untuk terlibat dalam konflik tersebut.
Selain itu, AS tidak diserang dan tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan negara anggota lainnya.
5. Rusia Bergerak! Siap Mediasi Perang Iran Vs AS-Israel di Tengah Ketegangan Global
Rusia menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam upaya penyelesaian konflik Iran yang kian memanas.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menegaskan bahwa Presiden Vladimir Putin terus menjalin komunikasi intensif dengan para pemimpin regional guna membuka jalan menuju perdamaian.
Rusia juga turut menawarkan berbagai proposal penyelesaian konflik sejak tahap awal krisis, dengan harapan dapat menjadi dasar bagi tercapainya kesepakatan damai.
“Jika peran kami dibutuhkan, kami siap berkontribusi agar situasi militer segera beralih ke jalur damai,” ujar Peskov sebagaimana dikutip dari Reuters.
Langkah Rusia bukan tanpa alasan, Kremlin menyebut konflik Iran berpotensi semakin tidak terkendali dan berdampak pada stabilitas global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Rusia menilai pendekatan militer hanya akan memperparah situasi, sehingga jalur diplomasi harus diutamakan.
Selain itu, Rusia memiliki hubungan strategis dengan Iran sekaligus komunikasi dengan pihak lain seperti Israel dan Amerika Serikat.
Posisi ini membuat Moskow berada dalam posisi unik sebagai pihak yang bisa menjembatani kepentingan berbagai actor guna menjaga stabilitas kawasan, termasuk jalur energi global seperti Selat Hormuz, yang sangat berpengaruh terhadap ekonomi dunia.
China–Pakistan Ambil Peran, Dorong Gencatan Senjata
Upaya mediasi Rusia muncul bersamaan dengan langkah China dan Pakistan yang aktif mendorong jalur diplomasi sebagai solusi utama konflik.
Kedua negara sepakat bahwa dialog menjadi satu-satunya cara realistis untuk mengakhiri perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Upaya ini diperkuat melalui pertemuan antara Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing.
Pertemuan tersebut bertujuan memperkuat koordinasi diplomatik serta merumuskan langkah konkret untuk mendorong perdamaian.
Dalam pernyataan resmi, kedua negara juga menekankan pentingnya perlindungan jalur pelayaran strategis, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
(Tribunnews.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.