Selasa, 19 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Markas Besar Komando Militer Iran: Trump Bohong Soal Penyelamatan Pilot AS, 2 Black Hawk Hancur

Para ahli yang hadir di lokasi kejadian menyatakan dua pesawat militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik Angkatan Darat AS hancur

Tayang:
Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni
SIMPANG SIUR - Ilustrasi kursi pilot jet tempur yang melontarkan diri saat keadaan darurat. Kabar mengenai jatuhnya jet tempur F-15 E Amerika oleh sistem pertahanan Iran memicu spekulasi soal nasib sang pilot. Presiden AS, Donald Trump mengklaim kalau dua pilot, termasuk yang terakhir ditemukan, berhasil diselamatkan. Pernyataan ini dibantah Markas Besar Komando Militer Iran. 

Markas Besar Komando Militer Iran: Trump Berbohong Soal Operasi Penyelamatan Pilot Amerika

 

TRIBUNNEWS.COM - Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya (KCHQ) adalah komando operasional tertinggi angkatan bersenjata Iran, Minggu (5/4/2026) menyatakan kalau operasi militer Amerika Serikat (AS) untuk menyelamatkan pilot AS yang pesawatnya ditembak jatuh di Iran, telah gagal.

Pernyataan itu membantah keras pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang menyatakan kalau operasi penyelamatan pilot AS berhasil dilaksanakan dalam apa yang dia sebut sebagai "operasi bersejarah".

Baca juga: Sendirian di Gurun Iran, Cerita Penyelamatan Pilot AS: Insiden Black Hawk Down Nyaris Terulang

Pernyataan tersebut menambahkan kalau dari tinjauan yang para pakar mereka lakukan di lokasi, misi penyelamatan militer AS gagal, ditandai dengan ditemukannya sejumlah puing-puing pesawat operasi penyelamatan AS yang bisa mereka ditembak jatuh. 

“Menurut informasi sebelumnya, dan dalam tinjauan rinci yang dilakukan oleh para ahli yang hadir di lokasi kejadian, dua pesawat militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik Angkatan Darat AS hancur," kata pernyataan itu dilansir Khbrn, Minggu.

Secara tegas, pernyataan juga menyatakan kalau AS telah gagal melakukan misi penyelamatan pilot mereka.

"Dengan janji dan pertolongan Tuhan Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung, dan api suci murka para prajurit Islam di angkatan bersenjata yang kuat, yang meningkatkan tingkat kegagalan berulang Angkatan Darat AS,” tambah pernyataan tersebut.

Juru bicara Markas Besar Khatam Al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menjelaskan kalau AS kini berusaha memanipulasi informasi lewat media.

Dia juga menyebut, hal ini sebagai bentuk perang psikologis yang dilancarkan AS setelah keteteran di medan pertempuran.

"Telah menjadi jelas bagi semua orang bahwa tentara Amerika yang pengecut dan bangkrut dalam perang yang dipaksakan ini, di hadapan kehendak Tuhan bagi angkatan bersenjata Republik Iran, tidak dianggap sebagai kekuatan yang dominan dan unggul," katanya.

Dia melanjutkan, "Setelah operasi ini, yang penuh dengan kebanggaan dan keberhasilan, presiden Amerika yang kalah mencoba, dengan kejutan dan kebohongan, untuk melarikan diri dari medan kekalahan melalui perang psikologis, dan terus seperti sebelumnya dengan omong kosong dan pembenaran, meskipun kenyataan di lapangan menunjukkan superioritas angkatan bersenjata Republik Islam Iran yang kuat."

Kursi Jet Tempur Amerika
SIMPANG SIUR - Ilustrasi kursi pilot jet tempur yang melontarkan diri saat keadaan darurat. Kabar mengenai jatuhnya jet tempur F-15 E Amerika oleh sistem pertahanan Iran memicu spekulasi soal nasib sang pilot. Presiden AS, Donald Trump mengklaim kalau dua pilot, termasuk yang terakhir ditemukan, berhasil diselamatkan. Pernyataan ini dibantah Markas Besar Komando Militer Iran.

Kabar Ditangkapnya Pilot AS

Di sisi lain, Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan kalau pilot jet tempur AS ditangkap setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembak jatuh pesawat canggih tersebut di wilayah udara Iran pada Jumat pagi (3/4/2026).

Kantor berita tersebut mengutip sumber yang mengetahui kejadian tersebut yang mengatakan bahwa pilot tersebut melontarkan diri dari jet tempur yang jatuh dan selamat dari insiden tersebut.

Sementara beberapa laporan menunjukkan kalau pasukan AS berupaya menyelamatkannya dan berpotensi membawanya keluar dari Iran.

"Sumber lain menunjukkan bahwa ia mungkin telah ditangkap oleh pasukan Iran," tulis laporan itu.

Saluran televisi lokal provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad menyiarkan pernyataan dari Komando Pasukan Keamanan Dalam Negeri Iran yang menyerukan kepada warga dan penduduk daerah pegunungan dan desa-desa sekitarnya untuk bekerja sama sepenuhnya dalam melacak dan menangkap pilot jet tempur AS yang jatuh tersebut.

Hadiah finansial diumumkan bagi siapa pun yang menangkap tentara atau pilot Amerika di wilayah Iran.

AS Minta Gencatan Senjata 48 Jam

Indikasi lain dari situasi yang dihadapi pasukan AS terkait ditembak jatuhnya pesawat mereka adalah permintaan gencatan senjata selama 48 jam.

Kantor Berita Fars Iran, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kalau Amerika Serikat, melalui negara sahabat, mengusulkan gencatan senjata 48 jam pada Kamis.

Dalih dari permintaan gencatan tersebut adalah "Dalam upaya untuk menghentikan peningkatan ketegangan di kawasan tersebut".

Menurut sumber tersebut, permintaan Amerika itu muncul setelah "krisis di kawasan tersebut meningkat dan masalah serius muncul bagi pasukan militer AS sebagai akibat dari kesalahan perhitungan kemampuan militer Republik Islam Iran."

Sumber tersebut mengindikasikan kalau tanggapan Iran terhadap permintaan ini “bukan dalam bentuk tertulis, tetapi melalui respons di lapangan dan berlanjutnya serangan besar-besaran,”.

Sumber tersebut menekankan kalau upaya diplomatik Amerika untuk menghentikan gencatan senjata telah meningkat, terutama setelah penargetan markas besar pasukan militer Amerika di Pulau Bubiyan, Kuwait.

Belakangan, sejumlah pakar menilai permintaan gencatan senjata ini adalah satu di antara taktik AS untuk mengulur waktu demi melakukan operasi penyelamatan terhadap Pilot F-15E mereka yang melontarkan diri dari pesawat di wilayah Iran saat ditembak jatuh.

Pengungkapan ini muncul pada saat perang AS-Israel di Iran berlanjut selama tiga puluh empat hari berturut-turut, dengan terus berlanjutnya baku tembak rudal dan serangan pesawat tak berawak.

Laporan-laporan menyebutkan adanya upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan, Turki, dan Mesir untuk mencapai gencatan senjata, tetapi upaya tersebut menemui "jalan buntu," menurut Wall Street Journal.

Iran bersikeras pada syarat-syaratnya untuk mengakhiri perang, yang meliputi penghentian permusuhan sepenuhnya dan jaminan terhadap terulangnya permusuhan.

Hal ini bertepatan dengan peningkatan serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut.

 

(oln/khbrn/*)

 

 
 

 

 
 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved