Iran Vs Amerika Memanas
Iran Bersikeras Masukkan Lebanon dalam Gencatan Senjata, AS Menolak
Iran bersikeras memasukkan Lebanon dalam perjanjian gencatan senjata, tapi AS menolak dengan mengatakan itu tidak termasuk dalam poin yang disepakati.
Ringkasan Berita:
- Israel kembali menyerang Lebanon, sehari setelah gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.
- Iran menegaskan gencatan senjata di Lebanon adalah syarat penting, dan Prancis mendukungnya sebagai prasyarat perdamaian berkelanjutan.
- Namun, AS membantah Lebanon termasuk dalam kesepakatan dan meminta Iran tetap melanjutkan negosiasi.
- Kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan atas gencatan senjata sementara selama 2 minggu.
TRIBUNNEWS.COM - Serangan Israel di Lebanon mengancam kemungkinan runtuhnya perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Israel meluncurkan serangan mematikan terhadap Lebanon pada hari Rabu, sehari setelah perjanjian gencatan senjata tercapai antara Washington dan Teheran pada Selasa (7/4/2026).
Pada hari Rabu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan gencatan senjata di Lebanon adalah salah satu syarat penting dalam rencana sepuluh poin Teheran, yang menjadi dasar gencatan senjata dengan Amerika Serikat, menurut Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA).
Pezeshkian menekankan hal tersebut dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
"Penerimaan Iran terhadap gencatan senjata adalah bukti nyata dari rasa tanggung jawabnya dan kemauan tulusnya untuk menyelesaikan konflik melalui proses demokrasi," kata Pezeshkian menurut laporan AFP, Rabu (8/4/2026).
ISNA mengatakan presiden Iran juga menekankan perlunya gencatan senjata di Lebanon dan mengingatkan bahwa tuntutan ini adalah salah satu syarat dasar dari rencana sepuluh poin Iran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menggambarkan 10 poin tersebut sebagai dasar yang dapat dinegosiasikan dalam pembicaraan antara AS dengan Iran.
Menurut kantor berita tersebut, Pezeshkian juga menekankan pentingnya peran Prancis, sebagai penjamin perjanjian gencatan senjata sebelumnya, dalam konteks saat ini.
"Presiden Iran menyerukan kepada Eropa untuk memainkan peran yang bertanggung jawab dan aktif dalam mendukung stabilitas dan keamanan yang langgeng di kawasan tersebut dan untuk menekan Amerika Serikat dan entitas Zionis (Israel) agar menghormati komitmen mereka dan menghadapi setiap pelanggaran terhadap komitmen tersebut," lapor ISNA.
Percakapan telepon antara kedua presiden tersebut terjadi setelah dua warga negara Prancis kembali ke negara mereka setelah hampir empat tahun ditahan di Iran.
Cécile Kohler dan Jacques Paris tiba di Paris pada Rabu pagi, sehari setelah meninggalkan Iran tempat mereka ditahan sebelum ditempatkan di bawah tahanan rumah selama hampir empat tahun atas tuduhan spionase.
Baca juga: Diplomasi Senyap China di Balik Gencatan Senjata Iran Vs AS
Macron: Gencatan Senjata di Lebanon Adalah Prasyarat
Pada hari Rabu, Presiden Prancis Macron menekankan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Iran, Pezeshkian, bahwa perjanjian gencatan senjata dengan Iran harus mencakup Lebanon, yang merupakan "prasyarat" agar perjanjian tersebut berkelanjutan.
"Saya menyampaikan harapan saya bahwa semua pihak yang bertikai akan sepenuhnya menghormati gencatan senjata, di semua front perang, termasuk Lebanon. Ini adalah prasyarat agar gencatan senjata ini berkelanjutan," tulis Macron di platform X, Rabu.
Macron adalah pemimpin Barat pertama yang berbicara dengan presiden Iran sejak gencatan senjata diumumkan Selasa malam, dalam panggilan telepon yang merupakan panggilan keempat mereka sejak perang di Iran dimulai pada 28 Februari.
Presiden Prancis menambahkan bahwa gencatan senjata tersebut harus membuka jalan bagi negosiasi komprehensif untuk menjamin keselamatan semua orang di Timur Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/P3z3shkian-345354reteeer434.jpg)