Senin, 20 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Gencatan Senjata Iran-AS Terancam Batal, Trump dan Netanyahu Jadi Biang Kerok

Gencatan senjata antara Iran dan AS terancam batal. Sikap dari Trump dan serangan Israel ke Lebanon jadi biang keroknya. Iran tak terima.

Ringkasan Berita:
  • Gencatan senjata Iran dan AS terancam batal karena serangan Israel ke Lebanon. IRGC menyatakan tidak terima atas serangan Zionis tersebut.
  • IRGC memperingatkan Israel akan melakukan serangan balasan.
  • Sementara, AS dianggap telah melanggar 3 dari 10 poin kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui.
  • Salah satunya poin yang dilanggar oleh AS adalah ketika Trump menyatakan Lebanon bukanlah bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

TRIBUNNEWS.COM - Gencatan senjata selama dua pekan yang telah disepakati oleh Iran dan Amerika Serikat (AS) terancam batal.

Adapun hal ini akibat Iran tidak terima atas serangan Israel ke Lebanon.

Garda Revolusi Islam Iran (IGRC) telah memperingatkan akan membalas serangan Zionis ke Lebanon jika tidak dihentikan.

Selain itu, IGRC juga mengecam AS karena tidak memperingatkan sekutunya tersebut. 

Bahkan, AS dianggap telah melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Iran buntut serangan Israel ke Lebanon.

"Kami mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, yang melanggar perjanjian dan kepada sekutunya Zionis, algojonya: jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak berhenti, kami akan memenuhi kewajiban kami dan memberikan balasan," ujar IRGC dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, Kamis (9/4/2026).

Baca juga: AS-Israel dan Iran Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata, Pakistan Turun Tangan

Dikutip dari Aljazeera, serangan Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) dilaporkan telah menewaskan 182 orang dan membuat 837 lainnya luka-luka.

Perdana Menteri (PM) Lebanon, Nawan Salam sampai mengumumkan masa berkabung nasional imbas dari serangan Zionis tersebut.

"Hari berkabung nasional untuk para martir dan korban luka dari serangan Israel yang menargetkan ratusan warga sipil yang tidak bersalah dan tak berdaya," kata Salam.

Kecaman serupa juga disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Dilansir CBS News, Ghalibar, yang juga merupakan tokoh kunci dalam negosiasi gencatan senjata antara Iran dan AS itu, mengatakan ada tiga dari 10 poin yang dilanggar Washington untuk mengakhiri perang dengan Tehran.

Dalam pernyataan di media sosial miliknya, Ghalibar menyampaikan tiga poin syarat yang dilanggar oleh AS yakni tetap berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon, dugaan penyusupan drone ke wilayah udara Iran setelah gencatan senjata berlaku, serta pernyataan Trump yang tetap tidak menerima pengayaan nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyatakan bahwa Trump seakan tidak menghormati poin perjanjian gencatan senjata yang ditawarkan Iran.

Di mana Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tidak mencakup Lebanon.

"Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola kini ada di pihak AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan menepati komitmennya," ujarnya dalam postingan di akun X pribadinya.

Baca juga: 90 Menit Menegangkan Jelang Gencatan Senjata, Ternyata China yang Jadi Penentu Damai Amerika-Iran

Netanyahu: Gencatan Senjata AS dan Iran Bukan 'Akhir'

NETANYAHU BERPIDATO - Foto ini diambil dari Facebook PM Israel pada Rabu (13/8/2025). Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan istrinya Sara (tidak terlihat dalam foto), berpartisipasi dalam peresmian Museum Knesset di Froumine House di Yerusalem pada 12 Agustus 2025.
NETANYAHU BERPIDATO - Foto ini diambil dari Facebook PM Israel pada Rabu (13/8/2025). Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan istrinya Sara (tidak terlihat dalam foto), berpartisipasi dalam peresmian Museum Knesset di Froumine House di Yerusalem pada 12 Agustus 2025. (Facebook PM Israel)

Setelah adanya kesepakatan gencatan senjata, PM Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa hal tersebut bukan lah akhir dari negaranya untuk menggempur Iran.

Dia menyatakan seluruh serangan ke fasilitas di Iran seperti lokasi pengembangan dan produksi rudal adalah sebuah 'pencapaian yang luar biasa'.

Netanyahu menganggap Iran 'lebih lemah dari sebelumnya'.

"Ini adalah pencapaian yang hingga baru-baru ini, tampak seperti khayalan: Iran lebih lemah dari sebelumnya, Israel lebih kuat dari sebelumnya," katanya dalam pidato pertamanya sejak gencatan senjata Iran-AS diberlakukan, dikutip dari The Guardian.

Netanyahu juga menegaskan pihaknya tetap siap tempur meski saat ini ada kesepakatan gencatan senjata.

"Kami masih memiliki tujuan yang harus diselesaikan, dan kami akan mencapainya, baik melalui kesepakatan maupun dengan melanjutkan pertempuran karena kami siap kembali bertempur kapan pun diperlukan; jari kami sudah di pelatuk," bebernya.

Baca juga: Media Israel Sebut Sistem Politik Iran Tetap Stabil, Program Nuklir Terus Berjalan Walau Dibom

Dia mengungkapkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan 'bukanlah akhir dari kampanye' melawan Iran, melainkan hanyalah 'tahapan dari tujuannya'.

Netanyahu mengklaim tanpa perang ini, Iran 'sudah lama memiliki senjata nuklir dan ribuan rudal', dan perang ini 'telah menghilangkan ancaman eksistensial di atas kepala kami dan mengembalikan rezim tersebut ke belakang bertahun-tahun.

Pada kesempatan tersebut, dirinya juga menegaskan bahwa negaranya tidak akan menghentikan serangan ke Lebanon dengan menyasar kelompok militer, Hizbullah.

Trump Tegaskan Lebanon Bukan Bagian Kesepakatan Gencatan Senjata

Dilansir CNN, Trump menyatakan bahwa serangan Israel ke Lebanon akan terus berlangsung.

Dia menegaskan bahwa serangan itu sebagai upaya untuk memusnahkan Hizbullah.

Dukungan Trump kepada Israel ini menjadi tanda bahwa Lebanon bukanlah bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

"Ya itu (Lebanon) tidak termasuk dalam kesepakatan karena Hizbullah. Mereka tidak termasuk dalam kesepakatan. Itu (Hizbullah) juga akan diatasi, tidak apa-apa," katanya dalam wawancara, Kamis (9/4/2026).

Wakil Presiden AS, JD Vance juga menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah berjanji untuk mau memasukkan Lebanon sebagai salah satu poin kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.

"Jika Iran mau negosiasi gagal karena Lebanon, itu pilihan mereka. Hal itu akan menjadi tindakan bodoh," katanya.

Media Iran Sebut Selat Hormuz Ditutup Lagi

Di sisi lain, media Iran Fars, menyebut bahwa pemerintah Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz imbas dari serangan Israel ke Lebanon.

Baca juga: Paus Leo XIV Sambut Baik Gencatan Senjata antara AS dan Iran

Media tersebut mengungkapkan bahwa dua kapal tanker yang lewat pada Rabu waktu setempat menjadi kapal terakhir.

"Bertepatan dengan serangan Israel ke Lebanon, lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz telah dihentikan," lapor kantor berita tersebut.

Namun, kabar ini dibantah oleh Gedung Putih.

Juru bicara, Karoline Leavitt, mengatakan Trump sudah mengetahui laporan itu dan diklaim tidak benar.

Namun, jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata, maka rezim memberikan pesan yang bertentangan.

"Sekali lagi, ini adalah kasus di mana apa yang mereka katakan secara publik berbeda dengan yang mereka sampaikan secara pribadi. Kami telah melihat peningkatan lalu lintas di Selat Hormuz hari ini."

"Dan saya akan menegaskan kembali harapan dan tuntutan Presiden agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan cepat dan aman. Itu harapannya. Telah disampaikan kepadanya secara pribadi bahwa itulah yang sedang terjadi dan laporan-laporan publik tersebut adalah palsu," kata Leavitt dikutip dari ABC.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved